Jangan Berharap Terlalu Muluk Jika Ingin Hubungan Terus Langgeng. Kenapa?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020
Bagikan sekarang

Berharap terlalu tinggi adalah satu hal yang membuat seseorang susah move on sehabis cintanya ditolak atau hubungannya kandas. Wajar memang untuk kita memiliki standar atau ekspektasi tertentu dalam menjalin hubungan romantis. Sebagai contoh, ingin memiliki pasangan yang sudah mapan atau ingin langsung menikah setahun setelah resmi berpacaran. Meski demikian, tidak jarang harapan yang kita punya pada kenyataannya hanya sekadar harapan.

Tunggu dulu. Ekspektasi yang tidak menjadi kenyataan tak lantas menandakan usaha Anda sia-sia. Ini justru mungkin pertanda Anda memasang target yang tidak realistis sejak awal. Ya! Memasang standar serta target yang tidak realistis seringnya justru menjerumuskan kita pada kekecewaan.

Itu kenapa penting bagi kita memandang jauh ke depan sebelum mulai bermimpi hal yang muluk-muluk, sebagai cara mempersiapkan diri dari rasa kecewa sekaligus agar hubungan ke depannya jadi lebih langgeng.

Peran ekspektasi dalam hubungan

Ekspektasi terhadap pasangan memiliki peranan yang sangat penting dalam keberlangsungan hubungan. Ekspektasi, harapan, rencana, mimpi, atau target itu sendiri adalah apa yang menentukan ke mana arah sebuah hubungan itu dibawa.

Seperti yang dijelaskan oleh terapis dan konsultan pernikahan dari Counseling and Wellness Center of South Florida, Michael Bouciquot, ekspektasi dalam hubungan romantis dapat diartikan sebagai gagasan yang dimiliki masing-masing individu mengenai bagaimana dan seharusnya hubungan berjalan.

Dalam ulasan penelitian berjudul Relationship Expectation and Relationship Quality, ekspektasi positif terhadap pasangan bisa meningkatkan kelangengan dalam hubungan sekaligus mendorong sikap saling memotivasi.

Ekspekstasi yang dimiliki seorang individu umumnya berangkat dari bagaimana cara mereka berefleksi terhadap diri sendiri serta cara pandang mereka terhadap orang lain. Itu kenapa setiap orang cenderung memiliki ekspektasi yang berbeda-beda.

Begini contohnya, Anda mungkin adalah tipe orang yang ingin memiliki waktu menyendiri lebih banyak. Makanya Anda mau pasangan bisa menoleransi dan membolehkan hal tersebut setiap saat. Sementara itu, pasangan adalah tipe yang sebaliknya. Ia justru ingin menghabiskan banyak waktu dengan Anda.

Perbedaan ini dapat membawa Anda dan pasangan pada konflik yang tak berujung jika tidak diselaraskan dengan kompromi. Bisa saja, Anda menganggap pasangan terlalu mengekang atau posesif sedangkan si dia merasa Anda tidak peduli dengannya.

Maka dari itu, berpegang teguh pada harapan yang terlalu muluk atau mematok target yang tidak realistis bukan cuma akan merugikan Anda tapi juga pasangan.

Kesalahan mengatur ekspektasi dalam hubungan

Seperti yang diuraikan di atas, ekspektasi adalah pandangan seseorang tentang bagaimana dua pihak daam hubungan romantis idealnya saling berinteraksi untuk sama-sama mencapai target.

Namun seringnya, ekspektasi ada untuk memenuhi ego individu dan sebagai cara agar si pasangan nanti bisa memenuhi kepentingan pribadinya ketimbang untuk menguntungkan kedua belah pihak. Persepsi yang cenderung egois dalam hubungan ini kerap membuat Anda menempatkan ekspektasi yang terlalu tinggi pada pasangan.

Profesor Amie M. Gordon dari University of California menyebut sikap ini membuat ekspektasi tak jauh berbeda dengan meminta pasangan berkorban untuk Anda. Jika ekspektasi justru dimaknai sebagai tuntutan pengorbanan, ini tentu akan memberatkan salah satu pihak.

Jika kedua belah pihak terjebak dalam pola pikir yang sama, lama-lama Anda berdua akan menjalani hubungan yang toxic dan justru dimanfaatkan untuk mengeksploitasi satu sama lain. Contohnya begini, Anda mengharapkan pasangan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya seperti ibu kandung Anda dulu. Padahal pasangan Anda sendiri juga memiliki karier dan pekerjaan, sementara ibu Anda dulu mungkin tidak demikian (baik sengaja atau tidak).

Ekspektasi muluk yang Anda bebankan pada pasangan akan membuat Anda kurang atau bahkan tidak menghargai usaha yang dilakukannya apabila tak sesuai dengan yang Anda mau. Anda akan selalu merasa tidak puas dan kecewa selama menjalani hubungan tersebut, begitu pula dengan dirinya.

Cara mengatur ekspektasi dalam hubungan

Terus-menerus mengalami kekecewaan akibat hubungan yang tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi bisa membuat pasangan tidak mau berkomitmen. Terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri memang merusak hubungan. Sama halnya dengan menempatkan ekspektasi yang terlalu tinggi pada diri sendiri.

Namun, ini bukan berarti Anda lantas mencari jalan pintas dengan memutuskan hubungan. Apalagi malah mengabaikan keinginan Anda dengan mengiyakan semua harapan pasangan meski Anda tahu tidak merasa mampu memenuhinya.

Bersikaplah jujur pada pasangan dan cobalah berkompromi. Bicarakan dengan rinci seperti apa harapan kalian untuk satu sama lain. Barangkali, ekspektasi masing-masing pihak bisa dicapai dengan membantu satu sama lain. Penting bagi Anda dan pasangan untuk saling memiliki suara dan saling melibatkan dalam membangun ekspektasi bersama, sehingga hubungan tetap berjalan dinamis dua arah.

Hal yang paling memberatkan dalam hubungan adalah ketika Anda mengatur ekspektasi yang sangat tinggi terhadap pasangan tanpa pernah mengutarakannya sama sekali. Pasangan tentunya tak bisa membaca pikiran Anda begitu saja.

Jika kompromi pada akhirnya tidak membuahkan hasil akhir yang diinginkan, ada baiknya Anda bersiap untuk hal yang terburuk. Apalagi jika sudah sama-sama berusaha menurunkan ekspektasi terhadap satu sama lain, tapi kedua pihak juga tetap tidak terpuaskan. Mungkin, Anda dan dirinya memang bukanlah pasangan yang kompatibel untuk satu sama lain.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Lemay Jr, E. P., & Venaglia, R. B. (2016). Relationship expectations and relationship quality. Review of General Psychology, 20(1), 57-70.

How Expectations Are Shaping Your Relationship. (2020). Psychologytoday.com. Retrieved 20 April 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/between-you-and-me/201909/how-expectations-are-shaping-your-relationship

Expectations Can Hurt Your Relationship. (2020). Psychologytoday.com. Retrieved 20 April 2020, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/meet-catch-and-keep/201705/expectations-can-hurt-your-relationship

Michael Bouciquot, M. (2017). Expectations and Your Relationship. Psychentral.com. Retrieved 20 April 2020, from https://psychcentral.com/blog/expectations-and-your-relationship/

Yang juga perlu Anda baca

3 Tips Jitu Mencegah Kena Ghosting Selama Masa PDKT

Sakitnya bukan main kena ghosting si gebetan yang tiba-tiba menghilang tanpa kejelasan. Ada tidak, sih, cara agar kita tidak digantung oleh calon pacar?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Direkomendasikan untuk Anda

Mengatur Ekspektasi dalam Masa Pendekatan

Mengatur Ekspektasi dalam Masa Pendekatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/12/2019
Cara Menghindari Catfishing, Penipuan di Dunia Maya Berkedok Cinta

Cara Menghindari Catfishing, Penipuan di Dunia Maya Berkedok Cinta

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27/12/2019
Tak Perlu Minder, Ini 6 Cara Meningkatkan Daya Tarik Terhadap Lawan Jenis

Tak Perlu Minder, Ini 6 Cara Meningkatkan Daya Tarik Terhadap Lawan Jenis

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 02/05/2019
Siapa Bilang PDKT Tidak Bisa Lewat Telepon? Ini 5 Rahasianya

Siapa Bilang PDKT Tidak Bisa Lewat Telepon? Ini 5 Rahasianya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 26/04/2019