Risiko Obesitas Jadi Lebih Besar Jika Wanita Pernah Mengalami Trauma

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Wanita yang mengalami trauma, tekanan psikologis, atau pernah mengalami hal buruk dalam hidupnya menurut sebuah penelitian terbaru memiliki risiko obesitas lebih besar dibandingkan wanita yang tidak mengalami hal yang sama. Lantas, kenapa trauma dan risiko obesitas bisa saling berhubungan? Berikut ulasannya.

Tekanan psikologis membuat wanita rentan mengalami obesitas

Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi di dalam tubuh sehingga membuat berat badan berada di luar batas ideal. Sejumlah komplikasi dapat timbul akibat obesitas, bahkan beberapa di antaranya membahayakan nyawa. Beberapa contoh komplikasi yang cukup serius tersebut di antaranya stroke, penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, kanker usus, dan kanker payudara.

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh University of California, risiko obesitas meningkat sebesar 36 persen pada wanita yang pernah mengalami tekanan psikologis. Penelitian yang melibatkan 21.904 wanita yang berumur paruh baya atau lebih tua ini menemukan bahwa mereka yang mengalami peristiwa traumatis atau yang menyebabkan tekanan psikologis seperti kematian anak, kekerasan, penyakit yang mengancam nyawa mereka, setidaknya selama lima tahun terakhir cenderung lebih mudah mengalami obesitas.

Wanita yang setidaknya mengalami satu peristiwa yang menyebabkan psikologis mereka tertekan meningkatkan risiko obesitas sebesar 11 persen dibandingkan wanita yang tidak mengalami kejadian serupa.

Risiko obesitas semakin tinggi jika wanita banyak mengalami peristiwa traumatis

Seperti yang dilansir dari Medical News Today, risiko obesitas bahkan 36 persen lebih tinggi jika wanita mengalami setidaknya empat peristiwa traumatis dalam hidupnya selama lima tahun terakhir. Penelitian ini mengungkapkan bahwa semakin banyak peristiwa yang menyebabkan tekanan psikologis pada wanita, maka semakin tinggi tingkat risiko obesitas.

Penulis penelitian ini, Dr. Michelle A. Albert, mengatakan bahwa stres yang disebabkan oleh tekanan psikologis memengaruhi perilaku seseorang, termasuk kebiasaan makan. Mereka yang mengalami stres cenderung untuk makan secara berlebihan dan tidak memedulikan hal ini karena pikiran mereka terus berpusat pada trauma yang masih menghantui. Selain itu, aktivitas neurohormonal pada bagian produksi hormon kortisol meningkat. Hormon ini memiliki peran meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan penambahan berat badan.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa melihat masalah psikologis bisa mengatasi obesitas jika memang faktor tekanan psikologis atau stres yang menjadi penyebabnya.

gejala depresi postpartum pasca melahirkan

Lantas, apakah obesitas ada obatnya?

Obesitas sebenarnya dapat ditangani sendiri dengan disiplin menerapkan pola makan sehat, seperti mengonsumsi makanan rendah lemak dan gula, serta berolahraga secara teratur. Olahraga yang dimaksud tidak perlu berat karena aktivitas berjalan pagi, bersepeda, bermain bulu tangkis, atau berenang sudah cukup, asalkan dilakukan secara rutin. Dianjurkan untuk melakukan olahraga 2,5-5 jam tiap minggu.

Sedangkan bila Anda sendiri pernah mengalami kejadian traumatis yang membebani pikiran Anda, segera konsultasi ke psikolog atau dokter spesialis kesehatan jiwa (disebut juga dengan istilah psikiater). Dokter atau psikolog akan membantu Anda mengelola emosi serta perilaku terkait trauma yang dialami supaya tidak berkembang menjadi gangguan pola makan.

Penanganan dari dokter dapat diberikan jika obesitas tidak berhasil diatasi meskipun sudah disiplin berolahraga, menjaga kesehatan mental, dan menerapkan pola makan sehat. Contoh penanganan dari dokter adalah pemberian obat yang dapat menurunkan penyerapan lemak di dalam saluran pencernaan.

Pada beberapa kasus, obesitas akan ditangani dengan operasi. Operasi biasanya hanya dilakukan jika tingkatan obesitas dinilai sangat parah sehingga dikhawatirkan dapat mengancam nyawa penderita. Tindakan operasi juga dipertimbangkan jika usaha-usaha menurunkan berat badan yang sudah dilakukan selama beberapa waktu tetap tidak membuahkan hasil.

Perlu diingat bahwa penurunan berat badan yang dilakukan dengan usaha sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena itu dibutuhkan kesabaran demi mencapai hasil yang diinginkan dan komitmen untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca