Siapa Saja Orang yang Berisiko Mengalami Alexithymia?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 26/04/2020
Bagikan sekarang

Alexithymia merupakan keadaan di mana seseorang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi yang dimilikinya. Meski bukan termasuk penyakit mental dan bisa terjadi pada siapa saja, ada beberapa orang yang berisiko lebih tinggi terhadap alexithymia. Siapa saja?

Siapa saja yang berisiko mengalami alexithymia?

berpikir logis

Beberapa orang kerap tidak bisa mengenali perasaannya sendiri dan orang lain, serta kerap kebingungan ketika membedakan sensasi yang muncul sebagai respons tubuh terhadap sebuah emosi. Itu adalah beberapa ciri-ciri alexithymia.

Sebenarnya, kondisi alexithymia bisa disebabkan oleh faktor genetik. Jika salah satu orang mengalami alexithymia, akan lebih besar risikonya bagi anggota keluarga lainnya seperti anak atau saudaranya untuk mengalami hal yang sama. Namun, umumnya beberapa kelompok berikut ini juga rentan terhadap alexithymia.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Finlandia menemukan ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang berisiko lebih tinggi mengalami alexithymia.

Penelitian yang dilakukan terhadap 2.000 peserta dengan kisaran usia 14 sampai 64 tahun tersebut menggunakan kuesioner yang nantinya akan dinilai dengan Skala Alexithymia Toronto (TAS).

Dari hasilnya, terlihat bahwa gender dapat menjadi faktor yang berpengaruh. Pasalnya, kaum laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi dengan rata-rata skor TAS mencapai 21,8 dibandingkan dengan perempuan yang hanya mencapai 18,7.

memikirkan seks

Ada beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan jika dilihat dari berbagai aspek konstruksi alexithymia yang diwakili oleh tiga faktor.

Faktor pertama adalah kemampuan seseorang dalam mengidentifikasikan perasaannya, faktor kedua adalah kemampuan menggambarkan perasaan baik secara perbuatan maupun secara verbal, yang ketiga adalah orientasi berpikir.

Baik peserta perempuan dan laki-laki sama-sama mampu menyadari perasaannya, tapi yang membedakan adalah faktor kedua dan ketiga.

Perempuan terlihat lebih mampu mengekspresikan perasaan mereka. Selain itu, orientasi berpikir perempuan cenderung lebih internal, artinya ketika memutuskan sesuatu mereka juga berkaca pada keadaan diri mereka sendiri.

Seperti yang diketahui, ada stereotip yang mengatakan laki-laki bertindak menggunakan logikanya dan lebih mementingkan faktor-faktor dari kenyataan atau hal-hal di sekitarnya sebelum membuat keputusan. Adanya kecenderungan mengabaikan emosi membuat laki-laki lebih berisiko terhadap alexithymia.

Usia dan keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh

berisiko alexithymia

Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi tingginya risiko alexithymia juga bisa disebabkan oleh usia serta keadaan sosial dan ekonomi di sekitarnya.

Orang-orang lanjut usia lebih berisiko terhadap alexithymia, hal ini dipercaya karena semakin tua kesehatan fisik lambat laun akan menurun. Ketika jatuh sakit, orang-orang menjadi lebih terbatas secara emosionalnya. Selain itu, kebanyakan orang-orang lanjut usia juga tumbuh dalam lingkungan budaya yang berbeda dan telah mengetahui berbagai cara untuk mengatasi dampaknya.

Faktor selanjutnya adalah keadaan sosial dan ekonomi. Orang-orang yang memiliki status sosial dan ekonomi yang rendah juga memiliki risiko mengalami alexithymia.

Pada studi yang pernah dilakukan sebelumnya, pengembangan emosional dan kemampuan imajinatif di masa kanak-kanak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan dapat mencerminkan tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi orang tua.

Alexithymia menghasilkan pengaruh yang negatif pada keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosialnya. Ketika seseorang tidak memiliki kemampuan sosial yang mumpuni, hal ini bisa saja memberikan dampak pada status ekonominya yang lebih rendah di kemudian hari.

Mengatasi alexithymia

cara meningkatkan daya ingat orang ADHD

Alexithymia memang tidak termasuk ke dalam penyakit mental, namun alexithymia bisa menjadi pertanda untuk kondisi kejiwaan lainnya seperti depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), dan attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Tidak ada metode perawatan yang secara khusus bisa mengatasi alexithymia. Pendekatan perawatannya bergantung pada keadaan kesehatan Anda secara keseluruhan. Jika Anda merasa merasa kondisi ini telah mengganggu, sebaiknya segera pergi ke psikolog untuk mendapatkan terapi yang tepat.

Bila Anda memiliki kondisi lain yang telah disebutkan sebelumnya, Anda mungkin harus menjalani terapi berupa terapi kognitif dan perilaku, terapi kelompok, dan psikoterapi.

Selain membantu mengatasi alexithymia, diharapkan terapi juga akan meningkatkan kemampuan emosional Anda.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Alexithymia: Causes, Symptoms, and Treatments. (2020). Retrieved 30 March 2020, from https://www.healthline.com/health/autism/alexithymia

Alexithymia: Symptoms, diagnosis, and links with mental health. (2019). Retrieved 30 March 2020, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/326451#mental-health-links

Salminen, J. K., Saarijärvi, S., Äärelä, E., Toikka, T., & Kauhanen, J. (1999). Prevalence of alexithymia and its association with sociodemographic variables in the general population of finland. Journal of Psychosomatic ResearchRetrieved 30 March 2020. doi:10.1016/s0022-3999(98)00053-1

Direkomendasikan untuk Anda

Mengenal Alexithymia, Kondisi yang Bikin Anda Susah Ungkapkan Emosi

Mengenal Alexithymia, Kondisi yang Bikin Anda Susah Ungkapkan Emosi

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 16/12/2019