5 Mitos Seputar Penyakit PCOS yang Sebenarnya Keliru

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/11/2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah gangguan hormon seks yang umum terjadi pada wanita usia subur. Wanita dengan kondisi ini memiliki kadar hormon androgen (hormon pria) yang lebih tinggi. Kondisi ini juga bisa meningkatkan kadar insulin, yaitu hormon yang mengatur gula darah. Sayangnya, banyak informasi keliru yang beredar tentang PCOS. Apa saja mitos mengenai penyakit PCOS?

Berbagai mitos penyakit PCOS yang beredar di masyarakat

1. Wanita dengan PCOS memiliki kista pada ovarium

posisi rahim anteverted

Walaupun nama penyakitnya mengarah pada adanya kista pada ovarium, tidak semua wanita dengan PCOS memiliki kista pada ovariumnya. Begitu juga sebaliknya, wanita yang memiliki kista pada ovariumnya belum tentu terkena penyakit PCOS.

PCOS terjadi karena ketidakseimbangan hormon seks. Hal ini bisa menyebabkan folikel kesulitan melepaskan sel telur. Penyakit ini mengarah pada kelainan metabolik sehingga memengaruhi reproduksi.

2. Wanita PCOS tidak bisa hamil

setelah hamil di luar kandungan

Meski PCOS jadi salah satu penyebab utama ketidaksuburan, bukan berarti wanita dengan kondisi ini tidak dapat hamil dan punya anak. Masalah hormon seks memang memengaruhi kemampuan indung telur untuk melepaskan sel telur. Nah, kondisi ini bisa diawasi dengan perawatan dokter.

Jika Anda teman, keluarga, atau Anda sendiri adalah pasien PCOS, jangan berkecil hati. Anda tetap bisa hamil dan memiliki anak dengan meningkatkan kesuburan. Kuncinya adalah merubah pola makan dan gaya hidup jadi lebih sehat, meningkatkan aktivitas fisik untuk menjaga berat badan, serta mengikuti terapi obat yang diresepkan dokter.

3. Siklus menstruasi tidak teratur, berarti memiliki PCOS

tubektomi dan siklus menstruasi

Ada banyak faktor yang menyebabkan siklus menstruasi jadi tidak teratur. Bukan hanya karena memiliki hormon seks pria yang lebih tinggi, misalnya mengonsumsi obat-obatan tertentu, stres, atau penyakit lainnya.

Jika Anda memiliki siklus menstruasi yang tidak lancar, sebaiknya lakukan konsultasi ke dokter. Anda mungkin harus menjalani tes kesehatan untuk mendapatkan diagnosis tepat siklus menstruasi Anda yang buruk. Jangan menggunakan asumsi sendiri bahwa kondisi ini disebabkan oleh PCOS.

4. Wanita dengan PCOS tidak bisa menurunkan berat badan

risiko kanker payudara

Obesitas menjadi memang jadi tanda dan gejala penyakit PCOS. Namun, perlu Anda ingat bahwa tidak semua wanita mengalami gejala yang sama. Artinya, tidak semua wanita obesitas itu memiliki PCOS.

Nah, pasien PCOS yang memiliki gejala obesitas juga banyak yang bilang tidak bisa menurunkan berat badannya. Ini tidaklah benar. Pasien PCOS bisa menurunkan berat badannya dengan usaha yang lebih keras. Ini karena berat badan yang berlebih tersebut dipengaruhi oleh metabolisme tubuh yang terganggu.

Kombinasi aktivitas fisik dengan diet bisa membantu pasien untuk menurunkan berat badan. Pertimbangkan untuk bekerja sama dengan dokter agar program penurunan berat badan bisa berhasil.

5. Siklus haid yang tidak teratur akibat PCOS hanya bisa diatasi dengan pil KB

berhenti minum pil kb
Sumber: LA Times

Pil KB memang dapat mengatasi menstruasi yang tidak teratur. Namun, ini tentu bertentangan dengan wanita PCOS yang sedang merencanakan kehamilan, bukan? Apalagi, penggunaan pil KB jangka panjang bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah, peningkatan kolesterol, serta mengganggu penyerapan vitamin B12.

Selain obat, mengatasi siklus menstruasi yang tidak teratur bisa dilakukan dengan mengurangi stres, meningkatkan aktivitas fisik, dan menjalani diet antiradang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Bertambahnya Usia Dapat Memengaruhi Kesuburan Wanita

Mungkin banyak dari Anda yang belum mengetahui bahwa usia bisa memengaruhi kesuburan wanita. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesuburan, Kehamilan 23/12/2019 . Waktu baca 3 menit

Mengenal Beragam Tes Kesuburan dan Pemeriksaan Organ Reproduksi Pada Wanita

Tes kesuburan dan pemeriksaan organ reproduksi wanita disarankan jika kehamilan tidak kunjung terjadi. Apa saja tes tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesuburan, Kehamilan 04/11/2019 . Waktu baca 4 menit

Apakah Normal Jika Muncul Flek Cokelat Setelah Haid?

Cukup banyak wanita yang melihat flek cokelat keluar beberapa hari setelah haid. Kondisi ini bisa normal bisa juga tidak. Cari tahu di sini lebih jelasnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 12/08/2019 . Waktu baca 7 menit

4 Fakta Soal Kesuburan Wanita yang Sering Disalahpahami

Mungkin Anda kira bercinta saat ovulasi dijamin paling tokcer; padahal belum tentu. Apa lagi fakta soal kesuburan wanita yang belum Anda tahu? Cek di sini!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Seks & Asmara 04/12/2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

puasa pengaruhi kesuburan

Apakah Puasa Memengaruhi Kesuburan untuk Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020 . Waktu baca 3 menit
fibroid rahim dan pcos

Apa Bedanya Fibroid Rahim dan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 08/04/2020 . Waktu baca 4 menit
phthalate mempengaruhi kesuburan

Phthalate, Kandungan Utama Plastik yang Katanya Bisa Pengaruhi Kesuburan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 21/02/2020 . Waktu baca 3 menit
makanan berlemak meningkatkan kesuburan

Makan Makanan Berlemak Ternyata Ada Pengaruhnya Bagi Kesuburan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 19/01/2020 . Waktu baca 4 menit