4 Masalah Kesehatan yang Mungkin Dihadapi Mahasiswa Baru

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Selamat! Anda kini telah resmi menjadi mahasiswa baru di universitas pilihan Anda. Hidup sebagai seorang mahasiswa tentu akan berbeda total dengan zaman sekolah dulu. Persiapkan diri Anda untuk menyeimbangkan antara prestasi akademis dengan kehidupan sosial yang juga sama pentingnya. Di sisi lain, ketahui juga bahwa kehidupan mahasiswa baru tidak luput dari berbagai risiko kesehatan tertentu.

Beragam masalah kesehatan yang mungkin dihadapi oleh mahasiswa baru

Berikut beberapa jenis masalah kesehatan yang mungkin harus dihadapi para mahasiswa baru

1. Kenaikan berat badan

Satu masalah kesehatan yang paling umum menghampiri banyak mahasiswa baru adalah kenaikan berat badan. Sebuah studi melaporkan bahwa berat badan mahasiswa baru rata-rata bisa naik hingga 1,2 kg dalam waktu setengah tahun, dan dalam kurun waktu setahun bisa mengalami total kenaikan berat badan hingga 6,8 kg. Kenaikan berat badan ini cenderung lebih tinggi 5,5 kali dibandingkan kenaikan berat badan pada populasi umum.

Usia 20 hingga 30 tahun adalah masa di mana seseorang membentuk kebiasaan makan mereka. Kenaikan berat badan pada umumnya dipicu oleh konsumsi makanan tinggi kalori, terutama dari makanan dan minuman manis. Selain kenaikan berat badan, pola makan yang tidak seimbang dapat menyebabkan defisiensi vitamin yang bisa mengganggu kesehatan. Kenaikan berat badan pada usia menjadi mahasiswa dapat menetap hingga seseorang beranjak dewasa. Kenaikan berat badan dalam jangka panjang dapat memicu obesitas dan penyakit kronis lainnya, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Meski demikian, risiko kesehatan ini dapat ditanggulangi sedini mungkin dengan membatasi konsumsi makanan olahan dan memperbanyak makanan alami yang dimasak seperti daging dan sayuran serta konsumsi buah. Sisihkan waktu selama 30 menit per hari atau 2,5 jam per minggu juga dapat menjadi cara untuk menjaga berat badan dan membatasi asupan kalori berlebih.

2. Kurang tidur

Ospek selama satu semester, kegiatan fakultas, banyaknya kelas yang harus dihadiri, tugas yang menumpuk, dan tak lupa juga sesi hangout malam mingguan bisa menyebabkan mahasiswa baru mengalami kurang tidur. Kurang tidur daat berdampak langsung pada performa akademis Anda, membuat Anda lebih mudah stres, cepat mengantuk di kelas, dan sulit berkonsentrasi mengikuti kuliah dosen.

Kurangnya waktu tidur juga berdampak pada kenaikan berat badan. Ada baiknya Anda mulai memperbaiki pola tidur yang baik, seperti menerapkan prinsip sleep hygiene.

3. Stres

Mahasiswa baru rentan mengalami stres berat. Stres berkaitan dengan gangguan nutrisi dan gangguan tidur serta memicu depresi. Salah satu penyebab stres pada mahasiswa baru adalah perubahan struktur dan rutinitas kegiatan. Disamping itu kurangnya dukungan sosial dan perilaku mengisolasi diri sendiri dapat berdampak pada depresi hingga memicu kecenderungan untuk bunuh diri.

Penelitian terbaru menunjukan bahwa stress bahkan depresi merupakan sesuatu yang umum untuk dialami oleh mahasiswa dan secara signifikan mempengaruhi kemampuan akademis. Mengalami tekanan mental hingga depresi pada saat menjadi mahasiswa baru berkontribusi dalam penurunan performa akademis sebesar 2,9 – 4,9% dan penurunan indeks prestasi kumulatif (IPK) sebesar 0,2 – 0,3 pada akhir semester.

Satu studi di Amerika menunjukan risiko kematian pada mahasiswa lebih tinggi dibandingkan pada masyarakat umum pada kelompok umur yang sama. Penyebab kematian tertinggi pada mahasiswa adalah bunuh diri. Satu dari tiga kematian pada mahasiswa dialami oleh mahasiswa baru.

Menjaga kesehatan mental merupakan hal yang penting bagi mahasiswa baru. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat seperti mengikuti ekstrakulikuler di kampus, aktif di organisasi, serta menjaga kesehatan fisik dengan berolahraga rutin dan mencukupi kebutuhan waktu tidur. Jika membutuhkan bantuan profesional untuk mengatasi depresi, jangan ragu untuk mencari pertolongan ke orang terdekat atau konseling yang disediakan perguruan tinggi.

4. Munculnya perilaku berisiko

Selain gaya hidup tidak sehat, ancaman masalah kesehatan juga dapat berasal dari perilaku berisiko seperti merokok, konsumsi alkohol berlebih serta penggunaan obat-obatan. Meskipun penggunaannya dimaksudkan untuk rekreasi dan menenangkan diri, namun terdapat risiko kesehatan yang ditimbulkannya seperti mengalami gejala sakau dan timbulnya berbagai penyakit kronis.

Selain itu, perilaku berisiko lainnya dapat berupa seks bebas yang dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan. Kedua dampak tersebut akan sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental bahkan menurunkan kualitas kehidupan seseorang. Meskipun infeksi menular seksual dapat disembuhkan, namun beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi yang serius ketika tidak ditangani sejak dini.

Perilaku seks tidak aman yang dilakukan pada usia dini juga sangat berisiko bagi perempuan, terutama terhadap kesuburan dan kesehatan reproduksi mereka di waktu mendatang.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca