Berbuat Baik Kepada Sesama (Altruisme) Ternyata Mampu Meringankan Rasa Sakit

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Berbuat baik kepada orang lain memiliki manfaat bagi orang lain dan diri sendiri. Selain meringankan beban yang orang yang ditolong, berbuat baik ternyata dapat mengurangi rasa sakit. 

Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Berbuat baik kepada orang lain ternyata mengurangi rasa sakit

menolong situasi darurat

Berbuat baik kepada orang lain merupakan bahasa lain dari altruisme. Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, altruisme merupakan tindakan untuk menolong orang lain agar mereka terhindar dari bahaya. 

Misalnya, Anda mengendarai mobil dengan sangat hati-hati di zona sekolah untuk memastikan tidak ada yang terluka. Kewaspadaan tersebut muncul karena dimotivasi oleh orang lain dan ingin membuat Anda menjadi lebih baik. 

Intinya, perilaku altruisme muncul karena Anda benar-benar peduli pada orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Setelah diteliti, perilaku berbuat baik kepada orang lain ini dapat mengurangi rasa sakit. 

Menurut penelitian dari Proceedings of the National Academy of Sciences, tindakan baik kepada orang lain dapat memicu pelepasan hormon baik. Misalnya, dopamin, oksitosin, dan hormon yang membuat tubuh Anda lebih baik. 

Penelitian ini dibagi menjadi tiga percobaan. Pada percobaan pertama, peneliti meminta para peserta untuk secara sukarela mendonorkan darah mereka setelah bencana gempa bumi terjadi. 

Hal ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh rasa sakit jarum suntik. Hasilnya, hampir semua relawan setelah gempa bumi melaporkan bahwa rasa sakitnya jauh lebih ringan dibandingkan kelompok lainnya. 

yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

Berbagai rangkaian percobaan dilakukan dan ternyata menunjukkan hasil yang sama. Bahkan, pada percobaan terakhir, para relawan menyumbangkan uang untuk membantu anak yatim 

Selanjutnya, setiap relawan menjalani pemindaian MRI sambil diberikan kejutan listrik. Hasilnya, peserta yang menyumbang ternyata menunjukkan lebih sedikit respons otak atas kejutan listrik dibandingkan mereka yang tidak menyumbang. 

Bahkan, ketika para peserta tahu bahwa sumbangan mereka telah membantu, otak mereka semakin kurang merespons goncangan tersebut. Artinya, menolong orang lain kemungkinan besar dapat mengurangi rasa sakit pada tubuh. 

Alasan mengapa rasa sakit berkurang setelah berbuat baik

pertolongan pertama pada asma

Berbuat baik kepada orang lain secara ilmiah mungkin dapat mengurangi rasa sakit. Hal ini dikarenakan perilaku menolong orang lain tersebut termasuk dalam tujuan dalam hidup seseorang. 

Oleh karena itu, ketika menolong orang lain ternyata memicu pelepasan hormon bahagia, seperti hormon oksitosin

Bahkan, seperti yang dilansir dari laman Psychology Today, semakin tinggi hormon oksitosin dalam tubuh, semakin besar keinginan seseorang untuk menolong orang lain. 

Selain itu, ketika hormon oksitosin meningkat, ternyata kondisi ini juga meningkatkan hormon bahagian lainnya, seperti serotonin, dopamin, dan endorfin. 

Misalnya, endorfin dikenal sebagai hormon penghilang rasa sakit. Hal ini mungkin dikarenakan endorfin terdiri dari sekelompok besar peptida. 

Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar hipofisis yang bekerja pada reseptor di otak Anda. Maka itu, ketika endorfin dilepas rasa sakit pun berkurang, tetapi meningkatkan rasa senang dan nyaman. 

Walaupun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut, apakah perilaku altruisme memang melepaskan hormon-hormon yang dapat mengurang rasa sakit. 

Alih-alih menganggap perilaku altruisme adalah beban karena ingin selalu membahagiakan orang lain, cobalah melihat sisi positifnya. Berbuat baik kepada orang lain ternyata memiliki efek positif terhadap tubuh Anda sendiri, yaitu mengurangi rasa sakit.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 10, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 10, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca