Kenapa BAB Terasa Panas Setelah Makan Pedas?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Apakah Anda salah satu orang pecinta makanan pedas? Di Indonesia, kedai makanan yang menawarkan masakan dengan cita rasa pedas sangat menjamur. Bahkan beberapa kedai menyediakan makanan dengan level kepedasan yang sangat tinggi.

Bagi penyuka pedas, makan makanan dengan campuran cabai rawit, cabe merah, dan cabe hijau ini pun jadi hal yang sangat nikmat sekaligus menggairahkan karena sensasi keringatan dan mulut dower setelah makan pedas. Namun, tidak hanya mulut saja yang merasakan sensasi panas, nantinya pada saat buang air besar (BAB) anus pun juga ikut terasa panas. Lantas, apa penyebab anus panas setelah makan pedas? Baca terus untuk mengetahui penyebabnya. 

Secara biologis, anus memiliki kemiripan dengan mulut

Ketika mengonsumsi cabai atau makanan pedas lainnya, meski awalnya nikmat di mulut, kadang bisa terus terbawa hingga ke urusan toilet. Banyak orang terutama yang tidak terbiasa dengan makanan pedas, mungkin lebih rentan merasakan sensasi anus panas seperti terbakar saat buang air besar. Percaya atau tidak, hal ini terjadi karena secara biologis anus memiliki kemiripan dengan mulut.

Di dalam anus ada juga reseptor saraf TRPV1 yang sensitif terhadap senyawa kimia pemicu pedas dari cabai yang bernama capsaicin. Jadi capsaicin dari cabai yang Anda konsumsi nyatanya tidak selalu dicerna sempurna di dalam tubuh. Beberapa memang ada yang diserap oleh tubuh yang kemudian masuk ke hati lalu dipecah, tapi ada juga yang tersisa sampai keluar saat buang air besar.

Nah, ini artinya ketika seseorang mengonsumsi makanan pedas dalam jumlah yang banyak, maka capsaicin yang tersisa juga akan lebih banyak berinteraksi dengan reseptor TRPV1 seperti yang terjadi di mulut. Hal inilah yang menimbulkan sensasi anus panas setelah BAB.

Saat makan pedas, seluruh sistem pencernaan mendapat sinyal rasa panas

Reseptor TRPV1 ini sebenarnya juga terdapat pada sepanjang jalur sistem pencernaan. Itu sebabnya, tidak jarang banyak orang-orang ada yang merasa perutnya kram atau tidak nyaman bila mengonsumsi makanan pedas. Ini terjadi karena reseptor TRPV1 menerjemahkan capsaicin sebagai rasa panas oleh karena itu tubuh akan bereaksi berusaha menurunkan suhu.

Tanda yang biasa dimunculkan biasanya kulit mengeluarkan keringat, pembuluh darah melebar, dan usus memakai lebih banyak cairan untuk mencerna makanan. Tidak jarang hal ini yang membuat BAB Anda setelah makan pedas jadi lebih cair atau biasa disebut dengan mencret.

Pada orang yang memiliki masalah pada pencernaan seperti iritasi usus dan wasir akan lebih rentan merasa sensasi panas dan sakit setelah mengonsumsi makanan pedas

Cara meredakan anus panas setelah makan pedas

Berikut ini ada dua cara sederhana yang bisa Anda lakukan untuk meredakan sensasi anus panas saat BAB.

1. Lebih selektif terhadap makanan

Menurut Brooks D. Cash, M.D., seorang profesor kedokteran di University of South Alabamam, untuk meradakan sensasi anus panas setelah makan pedas adalah dengan cara membatasi konsumsi makanan pedas dan berlemak. Hal ini dikarenakan terlalu banyak mengkonsumsi makanan berlemak akan membuat cairan empedu yang dikeluarkan lebih banyak. Pasalnya cairan empedu ini akan mengiritasi kulit di sekitar anus Anda.

Bila Anda tetap ingin mengkonsumsi makanan pedas, konsumsilah suplemen serat yang mengandung psyllium sebelum atau segera setelah Anda makan.

2. Menjaga kebersihan bokong

Jika bokong Anda sering terasa perih atau gatal setelah Anda mengkonsumsi makanan pedas, maka pastikan jika Anda selalu membersihkan bokong Anda sampai bersih dan kering. Bersihkanlah anus Anda dengan air hangat dan sabun. Setelah itu, oleskanlah salep yang mengandung calamine pada bagian anus Anda karena calamine dapat membantu mengurangi rasa gatal atau rasa seperti terbakar yang Anda rasakan.

Namun bila Anda merasakan perih yang tidak kunjung mereda di area anus, maka segera periksakan diri Anda ke seorang dokter. Hal ini dikarenakan rasa nyeri tersebut dapat merupakan gejala dari gangguan kesehatan lain yang lebih serius seperti infeksi, robekan, abses, atau bahkan kanker.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Juni 17, 2017 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca