home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Anoskopi

Definisi anoskopi|Tujuan|Risiko efek samping|Prosedur anoskopi
Anoskopi

Definisi anoskopi

Anoscopy (anoskopi) adalah prosedur medis untuk mendeteksi gangguan pada saluran pencernaan, khususnya pada rektum dan anus. Rektum merupakan bagian akhir dari usus besar, sedangkan anus merupakan tempat keluarnya feses dari tubuh.

Prosedur ini menggunakan sebuah tabung panjang dan lentur yang disebut anoskop. Kamera di bagian ujung anoskop akan menunjukkan kondisi saluran pencernaan Anda sehingga dokter dapat mengidentifikasi masalah yang Anda alami.

Anoskopi dapat mendeteksi berbagai masalah pada rektum dan anus, seperti robekan pada anus (fisura ani), wasir, dan polip rektum. Prosedur ini juga membantu mendeteksi benda asing pada anus, infeksi, serta tumor yang berpotensi menjadi kanker.

Hasil anoskopi akan menentukan apakah Anda membutuhkan pemeriksaan tambahan. Jenis pemeriksaan tambahan mungkin meliputi digital rectal examination atau biopsi. Dokter akan merekomendasikan pemeriksaan tambahan sesuai kondisi Anda.

Tujuan

Pemeriksaan ini umumnya bertujuan untuk mendiagnosis penyakit dan kondisi di bawah ini.

1. Wasir

Wasir (ambeien) yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di sekitar rektum atau anus. Meski kerap tak berbahaya, pembuluh vena yang membengkak dapat menyebabkan perdarahan, nyeri, dan rasa tidak nyaman saat buang air besar.

2. Fisura ani

Selaput lendir yang melapisi anus dapat mengalami robekan atau luka kecil. Kondisi ini dikenal sebagai fisura ani. Biasanya, penyebab utamanya yakni kebiasaan mengejan saat BAB akibat feses yang keras dan sulit dikeluarkan.

3. Polip rektum atau usus

Pemeriksaan saluran cerna bawah seperti anoskopi sangat efektif untuk mendiagnosis polip kolorektal (usus besar dan rektum). Polip merupakan pertumbuhan jaringan yang tak normal. Meski umumnya bersifat jinak, polip dapat berkembang menjadi kanker.

4. Kanker kolorektal

Beberapa kasus polip pada rektum atau usus besar dapat berkembang menjadi kanker kolorektal (usus besar dan rektum). Kondisi ini ditandai dengan perubahan kebiasaan buang air besar, BAB berdarah, dan sakit perut berkepanjangan.

5. Kondisi lainnya

Anoscopy juga membantu dokter dalam menangani kondisi medis lain yang di antaranya yaitu:

  • peradangan, pembengkakan, dan/atau iritasi di sekitar anus,
  • pembentukan kantong berisi nanah (abses) pada rektum atau usus besar,
  • adanya benda asing di dalam usus,
  • buang air besar yang nyeri, serta
  • rasa gatal berkepanjangan pada anus.

Risiko efek samping

Anoskopi merupakan prosedur sederhana yang tidak menimbulkan rasa sakit. Meski demikian, Anda mungkin merasakan tekanan, rasa tidak nyaman, atau perasaan ingin BAB ketika menjalani pemeriksaan ini.

Anda mungkin juga merasa seperti dicubit bila dokter melakukan prosedur biopsi. Pada pasien yang memiliki wasir, sangat lazim untuk terjadi perdarahan kecil saat dokter mengeluarkan anoskop. Akan tetapi, hal ini tidaklah berbahaya.

Prosedur anoskopi

Apa saja persiapan yang perlu Anda lakukan?

Anda perlu buang air besar dan buang air kecil sebelum menjalani anoskopi. Dokter mungkin akan memberi obat pencahar untuk membantu Anda mengosongkan perut. Langkah ini bertujuan agar Anda merasa nyaman selama pemeriksaan.

Apa yang terjadi selama pemeriksaan?

Pada saat pemeriksaan, Anda perlu mengganti pakaian dengan gaun medis. Dokter kemudian akan meminta Anda untuk berbaring di atas meja dengan posisi menyamping atau berlutut sambil menungging.

Dokter akan memeriksa apakah Anda memiliki wasir dengan cara memasukkan jarinya yang telah dilindungi sarung tangan dan pelumas. Selanjutnya, ia akan memasukkan anoskop yang telah dilapisi pelumas sedalam lima centimeter.

Selama melakukan anoskopi, dokter mungkin akan meminta Anda mengencangkan dan melemaskan otot anus seperti saat BAB. Hal ini akan mempermudah gerakan anoskop di dalam saluran pencernaan Anda.

Jika dokter menemukan jaringan yang mencurigakan, ia akan mengambil sampelnya dengan prosedur biopsi. Begitu pemeriksaan selesai dan dokter mendapatkan sampel yang dibutuhkan, ia akan mengeluarkan anoskop secara perlahan.

Anoskopi termasuk pemeriksaan sederhana yang dilakukan secara rawat jalan. Maka itu, Anda bisa segera pulang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Dokter akan menghubungi Anda begitu hasil pemeriksaan keluar.

Jika hasil anoskopi Anda normal, dokter mungkin hanya akan memantau kondisi Anda dalam kurun waktu tertentu. Namun, jika ditemukan tanda dari suatu penyakit, hasil tes ini akan membantu dokter menentukan jenis perawatan yang terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Anoscopy: MedlinePlus Medical Test. (2020). Retrieved 8 July 2021, from https://medlineplus.gov/lab-tests/anoscopy/

Anal Cancer Treatment (PDQ®)–Patient Version. (2021). Retrieved 8 July 2021, from https://www.cancer.gov/types/anal/patient/anal-treatment-pdq

Colorectal Cancer – American College of Gastroenterology. (2021). Retrieved 8 July 2021, from https://gi.org/topics/colorectal-cancer/

Anoscopy – UF Health. (2012). Retrieved 8 July 2021, from https://ufhealth.org/anoscopy

London, S., Hoilat, G., & Tichauer, M. (2021). Anoscopy. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459324/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui seminggu yang lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x