Maloklusi (Gigi Berantakan)

Maloklusi (Gigi Berantakan)

Dalam dunia medis, kondisi gigi yang berantakan atau tidak sejajar disebut sebagai maloklusi. Tidak hanya mengganggu penampilan, hal ini juga dapat mengganggu aktivitas pengidapnya.

Simak penyebab dan cara mengatasinya melalui pembahasan di bawah ini.

Apa itu maloklusi?

Maloklusi adalah suatu kondisi saat susunan tulang rahang dan gigi tidak sejajar atau rata.

Kondisi ini menyebabkan gigi berantakan, entah itu jadi tumpang tindih, bengkok, gigi tonggos (overbite), atau masalah lainnya.

Apabila dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, gigi yang tidak sejajar dan berantakan bisa menimbulkan dampak sebagai berikut.

  • Menurunkan rasa percaya diri karena membuat tampilan wajah tidak simetris.
  • Menyebabkan kesulitan berbicara menggigit, dan mengunyah makanan.
  • Menyebabkan kerusakan gigi yang parah karena gigi yang berantakan dan bertumpuk membuatnya sulit dibersihkan.
  • Menyebabkan nyeri dan kejang otot di sekitar persendian rahang.
  • Menimbulkan masalah pencernaan.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Maloklusi merupakan gangguan gigi dan mulut yang cukup umum. Sebuah penelitian dalam Dentistry Journal (2021) menyebutkan bahwa persentase kasus gangguan ini berkisar antara 39% hingga 93% dengan didominasi anak-anak dan remaja.

Jenis-jenis maloklusi

gigi tonggos, gigi maju, cara merapikan gigi tonggos

Menurut tingkat keparahannya, maloklusi dapat dibedakan ke dalam beberapa kelas berikut ini.

Kelas 1

Maloklusi 1 terjadi saat gigi atas tumpang tindih dengan gigi bawah. Pada maloklusi yang paling banyak terjadi ini, gigitan cenderung normal dan gigi hanya sedikit tumpang tindih.

Kelas 2

Maloklusi kelas 2 terjadi saat gigi mengalami overbite, yakni kondisi ketika gigi depan atas lebih maju dibandingkan gigi depan bawah. Kondisi ini juga dikenal sebagai retrognathia.

Kelas 3

Maloklusi kelas 3 terjadi saat gigi mengalami underbite, yakni gigi depan bawah lebih maju dibandingkan gigi depan atas. Kondisi ini juga dikenal sebagai prognathism.

Tanda dan gejala maloklusi

Tergantung jenis maloklusi yang Anda alami, gejala dari gangguan ini bisa jadi ringan atau berat. Beberapa di antaranya termasuk:

  • gigi yang tidak sejajar,
  • fitur wajah yang tidak simetris atau presisi,
  • bagian dalam pipi atau lidah sering tergigit,
  • merasa tidak nyaman saat mengunyah atau menggigit makanan,
  • mengalami gangguan bicara, seperti cadel, dan
  • sering bernapas melalui mulut daripada hidung,

Kapan harus periksa ke dokter?

Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah memburuknya maloklusi. Jadi, konsultasikan dengan dokter sesegera mungkin bila Anda mengalami satu atau beberapa gejala di atas.

Penyebab maloklusi

gigi gingsul dicabut

Sampai saat ini, tidak diketahui pasti apa penyebab maloklusi. Akan tetapi, para ahli menduga bahwa faktor genetik atau keturunan merupakan penyebab utamanya.

Jika salah satu atau kedua orangtua memiliki gigi yang tidak sejajar, Anda berisiko untuk mengalaminya juga.

Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh gangguan pada tulang rahang dan gigi, misalnya ukuran rahang yang tidak sama, bentuk rahang yang terlalu kecil, atau gigi yang terlalu besar.

Ketiga kondisi itu dapat menyebabkan gigi tumbuh berantakan atau pola gigitan yang tidak normal.

Faktor risiko maloklusi

Tanpa Anda sadari, ada sejumlah kebiasaan yang dapat mengubah bentuk dan struktur rahang.

Beberapa contohnya yaitu memakai dot atau minum pakai botol hingga usia lebih dari tiga tahun, serta kebiasaan mengisap jempol pada bayi dan anak-anak.

Selain itu, ada beberapa faktor lainnya yang berpotensi meningkatkan risiko maloklusi.

  • Mengalami cacat lahir, seperti bibir sumbing atau adanya belahan pada langit-langit mulut.
  • Cedera yang mengenai area mulut dan menyebabkan rahang tidak sejajar.
  • Adanya pertumbuhan tumor pada mulut atau rahang.
  • Pertumbuhan gigi yang tidak normal (terlalu banyak/sedikit), bentuk gigi yang tidak normal, atau gigi tanggal.
  • Perawatan tambal gigi yang tidak pas, baik itu dental crown, retainer, ataupun kawat gigi.
  • Adanya riwayat penyakit gigi dan mulut, seperti gigi ompong, gingivitis, atau periodontitis.
  • Gangguan saluran napas karena alergi atau pembesaran adenoid (amandel).

Diagnosis maloklusi

Maloklusi umumnya didiagnosis ketika pemeriksaan gigi rutin. Dokter gigi akan menanyakan tentang riwayat kesehatan gigi Anda dan cara Anda merawat gigi.

Beri tahu dokter pula terkait semua obat yang sedang digunakan, mulai dari obat resep atau nonresep, suplemen, hingga obat herbal.

Untuk memperoleh hasil yang mendetail, Anda mungkin disarankan untuk menjalani rontgen gigi. Prosedur ini akan membantu dokter dalam mendiagnosis gigi yang berantakan.

Rontgen gigi dapat memperlihatkan gigi berlubang dan struktur gigi yang tersembunyi. Tidak hanya itu, rontgen juga membantu dokter mengetahui kondisi tulang rahang Anda secara menyeluruh.

Apabila terdeteksi, maloklusi akan dikelompokkan berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya.

Dokter gigi selanjutnya dapat memberikan rujukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menetukan perawatan yang tepat. Pemeriksaan ini mungkin melibatkan dokter spesialis ortodonti dan bedah mulut.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum rontgen gigi?

Tes pencitraan ini mungkin tidak aman untuk ibu hamil atau wanita yang sedang menjalani program hamil.

Meski kadarnya rendah, paparan radiasi sinar X ditakutkan dapat mengganggu perkembangan janin. Itu sebabnya, beri tahu dokter bila Anda sedang hamil atau berencana hamil.

Beri tahu dokter juga bila Anda memakai gigi palsu atau memiliki tambalan berbahan amalgam. Hal ini karena logam dapat menghambat sinar X saat menembus ke dalam tubuh Anda.

Pengobatan maloklusi

kawat gigi anak

Dalam kasus maloklusi yang ringan, Anda mungkin tidak membutuhkan prosedur khusus.

Dokter gigi dapat menyarankan Anda untuk minum obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen, bila merasakan nyeri hebat di sekitar rahang atau gigi.

Akan tetapi, pada kasus yang parah, dokter gigi dapat merujuk Anda ke ortodontis, yakni dokter spesialis yang berpraktik khusus pada bidang estetika posisi gigi, rahang, dan wajah.

Tergantung jenis dan keparahan maloklusi Anda, ortodontis bisa menganjurkan berbagai perawatan medis seperti di bawah ini.

1. Kawat gigi

Pemasangan kawat gigi merupakan prosedur paling populer untuk merapikan gigi atau menyelaraskan tulang rahang yang tidak normal.

Prosedur ini bisa dilakukan pada pasien usia berapa saja, asalkan gigi dan gusi dalam keadaan sehat.

Pemasangan kawat gigi alias behel membutuhkan beberapa kali kunjungan ke dokter gigi. Hal ini tergantung pada tingkat keparahan dari kondisi gigi Anda.

Durasi pemakaian dan jenis behel pun bisa berbeda pada setiap orang. Namun, rata-rata orang dewasa perlu menggunakan behel selama dua tahun untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

2. Cabut gigi

Prosedut cabut gigi juga dapat dilakukan untuk merapikan gigi yang berantakan. Cabut gigi biasanya melibatkan penggunaan bius lokal sehingga Anda tidak merasa sakit selama prosedur berlangsung.

Sebelum cabut gigi, usahakan untuk menyikat gigi, berkumur, dan flossing. Apabila Anda punya riwayat diabetes atau sedang minum obat tertentu, segera beri tahu dokter.

Setelah pencabutan gigi, gusi tempat gigi dicabut akan berdarah. Ini merupakan hal yang wajar dan Anda bisa menghentikannya dengan cara menggigit kain kasa.

Jangan berkumur terlalu keras, menyentuh gusi bekas gigi dicabut, dan merokok. Hindari pula makanan atau minuman yang terlalu panas, asam, dan pedas sampai sensasi kebas akibat bius benar-benar mereda.

3. Operasi

Pada kasus tertentu, operasi guna memperbaiki bentuk dan ukuran rahang mungkin diperlukan.

Dokter dapat memasang kabel, pelat, atau sekrup untuk menstabilkan tulang rahang Anda. Dalam prosedur ini, Anda mungkin tidak perlu menggunakan kawat gigi untuk merapikan gigi.

Jangan sungkan untuk berkonsultasi langsung kepada dokter gigi mengenai kekhawatiran Anda terkait masalah kesehatan gigi ini.

Dokter gigi tentu akan memberikan saran tentang pilihan perawatan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Pencegahan maloklusi

Tidak ada satu cara pasti untuk mencegah maloklusi. Hal ini karena kebanyakan kasus gigi berantakan atau tidak sejajar merupakan bawaan dari lahir.

Akan tetapi, terdapat sejumlah hal yang bisa Anda coba untuk mencegah pertumbuhan rahang dan gigi yang abnormal. Beberapa di antaranya seperti:

  • membatasi penggunaan botol susu dan dot pada anak-anak,
  • menghentikan kebiasan tidur dengan posisi mengisap jempol, dan
  • melakukan deteksi dini maloklusi dengan dokter gigi.

Deteksi dini merupakan cara efektif untuk mencegah masalah gigi dan mulut. Jika ditemukan kelainan yang menyebabkan gigi berantakan, dokter dapat segera menentukan pengobatan.

Prinsipnya, makin cepat gangguan terdeteksi, makin besar juga peluang Anda untuk sembuh.

Selain langkah pencegahan di atas, jangan lupa untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Hal ini penting untuk mencegah kerusakan gigi yang makin parah.

Anda mnimal harus menyikat gigi dua kali sehari, yakni pada pagi dan malam hari. Bersihkan pula sela-sela gigi Anda dengan benang gigi secara perlahan untuk mencegah kemunculan plak.

Perhatikan asupan makanan yang Anda makan sehari-hari. Pasalnya, makanan yang dikonsumsi juga bisa memengaruhi kesehatan gigi dan mulut Anda.

Apabila memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar kondisi ini, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

Kesimpulan

  • Maloklusi adalah kondisi ketika susunan tulang rahang dan gigi tidak sejajar sehingga menyebabkan gigi berantakan.
  • Penyebab utamanya yaitu gangguan pada tulang rahang atau gigi yang bersifat bawaan.
  • Faktor lain yang juga berperan yakni kebiasaan minum pakai dot dan mengisap jempol.
  • Dokter mendiagnosis kondisi gigi yang berantakan dengan rontgen gigi.
  • Perawatan yang bisa dilakukan mulai dari cabut gigi, pemasangan kawat gigi, hingga operasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Malocclusion: Classes, Definition & Treatment. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 11 October 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22010-malocclusion

Malocclusion of teeth. MedlinePlus. (2022). Retrieved 11 October 2022, from https://medlineplus.gov/ency/article/001058.htm

Malocclusion in Children. Stanford Medicine Children’s Health. (2022). Retrieved 11 October 2022, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=malocclusion-90-P01860

Classification of Maloccluision. Columbia University. (2006). Retrieved 11 October 2022, from http://www.columbia.edu/itc/hs/dental/D5300/Classification%20of%20Malocclusion%20GALLOIS%2006%20final_BW.pdf

Cenzato, N., Nobili, A., & Maspero, C. (2021). Prevalence of Dental Malocclusions in Different Geographical Areas: Scoping Review. Dentistry Journal, 9(10), 117. https://doi.org/10.3390/dj9100117

Zou, J., Meng, M., Law, C., Rao, Y., & Zhou, X. (2018). Common dental diseases in children and malocclusion. International Journal Of Oral Science, 10(1). https://doi.org/10.1038/s41368-018-0012-3

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Oct 20
Ditinjau secara medis oleh drg. Farah Nadiya