home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Maloklusi (Gigi Berantakan)

Definisi|Jenis maloklusi |Tanda-tanda & gejala|Penyebab|Faktor-faktor risiko|Diagnosis|Obat & Pengobatan|Pencegahan
Maloklusi (Gigi Berantakan)

Definisi

Apa itu maloklusi?

Maloklusi adalah kondisi susunan tulang rahang dan gigi yang tidak sejajar atau rata. Kondisi ini menyebabkan gigi berantakan, entah itu jadi tumpang tindih, bengkok, gigi tonggos (overbite), dan masalah lainnya.

Bila dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, gigi berantakan dapat berdampak pada hal-hal berikut ini:

  • Menurunkan rasa percaya diri penderitanya karena membuat tampilan wajah tidak simetris.
  • Membuat penderitanya kesulitan untuk berbicara, serta menggigit, dan mengunyah makanan.
  • Menyebabkan kerusakan gigi yang parah karena posisi gigi berantakan dan bertumpuk hingga sulit untuk dibersihkan.
  • Menyebabkan nyeri dan kejang otot di sekitar persendian rahang.
  • Menyebabkan masalah pencernaan.

Seberapa umumkah maloklusi?

Maloklusi adalah gangguan gigi dan mulut yang cukup umum. Anda dapat mencegah kondisi ini dengan menghindari faktor risiko yang ada. Silakan bertanya langsung dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Jenis maloklusi

Apa saja jenis-jenis maloklusi?

Berdasarkan tingkat keparahannya, maloklusi dapat dibedakan menjadi beberapa kelas, yaitu:

Kelas 1

Maloklusi kelas 1 adalah kondisi ketika gigi atas tumpang tindih dengan gigi bawah. Dalam jenis maloklusi ini, gigitannya normal dan tumpang tindihnya hanya sedikit. Maloklusi kelas 1 adalah klasifikasi maloklusi yang paling umum.

Kelas 2

Maloklusi kelas 2 adalah kondisi gigi yang mengalami overbite. Overbite adalah gigi depan atas lebih maju dibanding dengan gigi depan bawah. Kondisi ini dikenal sebagai retrognathia.

Kelas 3

Maloklusi kelas 3 adalah kondisi gigi yang mengalami underbite. Underbite adalah gigi depan bawah lebih maju dibanding dengan gigi depan atas. Kondisi ini juga dikenal sebagai prognathism.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala maloklusi?

Tergantung pada klasifikasi maloklusi, gejala dari gangguan ini bisa jadi ringan atau berat. Gejala umum dari maloklusi termasuk:

  • Gigi yang tidak sejajar
  • Fitur wajah yang tidak simetris atau presisi
  • Bagian dalam pipi atau lidah sering tergigit
  • Merasa tidak nyaman ketika mengunyah atau menggigit makanan
  • Mengalami gangguan bicara seperti cadel
  • Cenderung bernapas melalui mulut daripada hidung

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah memburuknya kondisi maloklusi. Jadi, konsultasikan pada dokter sesegera mungkin bila Anda mengalami satu atau beberapa gejala di atas.

Penyebab

Apa penyebab dari gigi berantakan?

Sampai saat ini tidak diketahui secara pasti apa penyebab maloklusi. Namun, para ahli menduga bahwa bawaan genetik adalah penyebab utamanya. Bila salah satu atau kedua orang tua mengalami kondisi ini, Anda berisiko untuk mengalaminya juga.

Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh gangguan pada tulang rahang dan gigi. Misalnya ukuran rahang yang tidak sama, bentuk rahang yang terlalu kecil, atau gigi yang terlalu besar. Ketiganya dapat membuat gigi tumbuh berantakan atau pola gigitan yang tidak normal.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko untuk mengalami kondisi ini?

Tanpa disadari ada sejumlah kebiasaan yang dapat mengubah bentuk dan struktur rahang, misalnya seperti:

  • Kebiasaan pakai dot dan minum pakai botol hingga usia lebih dari 3 tahun
  • Kebiasaan menghisap jempol

Faktor lainnya yang berpotensi menyebabkan maloklusi adalah:

  • Mengalami cacat lahir seperti bibir sumbing atau belahan pada langit-langit mulut
  • Cedera yang mengenai area mulut dan menyebabkan rahang tidak sejajar
  • Adanya tumor di mulut atau rahang
  • Pertumbuhan gigi yang tidak normal (terlalu banyak/sedikit), bentuk gigi yang tidak normal, atau gigi tanggal
  • Perawatan tambal gigi, dental crown, retainer, atau kawat gigi yang tidak pas
  • Punya riwayat penyakit gigi dan mulut, seperti gigi ompong, gingivitis, atau penyakit periodontitis
  • Gangguan saluran napas karena alergi atau pembesaran adenoid (amandel)

Diagnosis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana kondisi ini didiagnosis?

Maloklusi biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan gigi rutin. Dokter akan menanyakan soal riwayat kesehatan gigi Anda.

Dokter juga akan menanyakan Anda seputar cara dalam merawat gigi. Beri tahu juga semua obat-obatan yang sedang rutin Anda minum. Mulai dari obat dengan atau tanpa resep dokter, suplemen makanan, hingga obat herbal.

Guna mendapatkan hasil yang lebih mendetail, Anda dapat menjalani prosedur rontgen gigi dengan sinar X. Rontgen gigi memegang peranan penting untuk membantu dokter dalam mendiagnosis maloklusi (gigi berantakan).

Prosedur ini dapat memperlihatkan gigi yang berlubang dan struktur gigi yang tersembunyi. Tak hanya itu, rontgen gigi juga bisa membantu dokter dalam mengetahui kondisi tulang rahang secara menyeluruh.

Jika terdeteksi, maloklusi akan diklasifikasikan berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Dokter gigi dapat merujuk Anda ke dokter spesialis bedah mulut untuk menentukan perawatan yang tepat.

Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum rontgen gigi?

Penting dipahami bahwa rontgen gigi memiliki risiko radiasi. Tes pencitraan satu ini mungkin tidak aman untuk ibu hamil atau wanita yang sedang menjalani program hamil.

Walaupun kadar radiasinya rendah, paparan radiasi dari sinar X ditakutkan dapat mengganggu perkembangan janin yang ada di dalam rahim. Itu sebabnya, sebelum rontgen gigi, beri tahu dokter bila Anda sedang hamil atau berencana hamil.

Selain itu, beri tahu juga bila Anda pakai gigi palsu atau punya tambalan berbahan amalgam. Hal ini karena logam dapat menghambat sinar X untuk menembus ke dalam tubuh Anda.

Obat & Pengobatan

Apa saja pengobatan untuk gigi berantakan?

Setelah diagnosis dibuat, dokter gigi dapat memutuskan perawatan terbaik yang sesuai dengan kondisi ini. Dalam kasus yang ringan, Anda mungkin tidak membutuhkan prosedur khusus. Namun, obat pereda nyeri mungkin dibutuhkan bila Anda merasakan nyeri hebat di sekitar rahang atau gigi.

Paracetamol atau ibuprofen dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit ringan. Anda bisa mendapatkan kedua obat ini di apotek terdekat tanpa harus menebus resep dokter. Meski begitu, selalu baca dengan saksama aturan pakainya sebelum Anda minum obat bebas jenis apa pun.

Dalam kasus tertentu, dokter gigi dapat merujuk Anda ke ortodontis jika maloklusi yang Anda alami cukup parah. Ortodontis adalah dokter spesialis yang berpraktek khusus di bidang estetika posisi gigi, rahang, dan wajah.

Tergantung pada jenis maloklusi Anda, ortodontis dapat menganjurkan berbagai perawatan medis, di antaranya yaitu:

1. Kawat gigi

Kawat gigi merupakan prosedur paling populer untuk meratakan gigi atau menyelaraskan tulang rahang yang tidak normal. Jika gigi terlalu berdesakan, kemungkinan prosedur cabut gigi diperlukan sebelum proses pemasangan kawat gigi dilakukan. Kawat gigi dapat digunakan pada usia berapa saja asalkan gigi dan gusi Anda dalam keadaan sehat.

Anda membutuhkan beberapa kali kunjungan ke dokter gigi sebelum kawat benar-benar di pasang. Sementara proses pemasangan kawat gigi biasanya memakan waktu sekitar 20-30 menit. Namun, durasi ini bisa saja berubah tergantung pada tingkat keparahan kondisi gigi Anda.

Sebelum pasang kawat gigi, dokter akan membersihkan, menghaluskan, lalu mengeringkan permukaan gigi Anda. Hal ini supaya kawat gigi dapat melekat dengan baik di permukaan gigi. Setelah itu, dokter akan mengoleskan lem khusus di permukaan gigi dan bracket. Bracket berfungsi sebagai ‘jangkar’ bagi kawat gigi.

Bracket akan dilekatkan pada tempat yang telah ditentukan. Bila kawat dan bracket sudah merekat sempurna, gigi Anda akan disinari dengan laser. Sinar laser membantu supaya lem cepat kering dan keras, sehingga kawat gigi tidak mudah lepas.

Anda mungkin akan merasakan nyeri dan tidak nyaman di mulut setelah prosedur selesai. Nyeri ini biasanya bisa bertahan beberapa hari ke depan.

Namun, tak perlu khawatir. Biasanya dokter akan memberikan obat anti nyeri untuk membantu mengurangi rasa sakitnya. Dokter juga biasanya akan meminta Anda untuk makan makanan yang lembek dan lunak. Tujuannya adalah agar gigi yang baru dipasang behel tidak sakit ketika dipakai mengunyah.

Lama durasi pemakaian kawat gigi bisa berbeda pada setiap orang. Akan tetapi, rata-rata orang membutuhkan waktu sekitar dua tahunan untuk menjalani perawatan satu ini.

2. Cabut gigi

Pencabutan gigi bisa jadi solusi untuk merapikan gigi yang terlalu berantakan atau berdesak-desakan dengan mencabut satu atau beberapa gigi. Prosedur cabut gigi biasanya melibatkan bius lokal. Ini artinya Anda tak akan merasa sakit selama prosedur berlangsung.

Sebelum cabut gigi, usahakan untuk menyikat gigi, berkumur, dan flossing terlebih dulu. Jika Anda punya riwayat penyakit diabetes, segera lapor ke dokter. Begitu pula bila Anda sedang rajin minum obat antibiotik untuk mengobati infeksi tertentu.

Bila gigi yang bermasalah tidak terhalang gusi, dokter dapat langsung mencabut gigi Anda tanpa pembedahan. Sementara bila mahkota gigi tidak terlihat karena tumbuh miring atau patah, operasi odontektomi mungkin dibutuhkan. Odontektomi adalah prosedur pembedahan yang melibatkan sayatan kecil di gusi.

Setelah diberi obat bius, dokter akan memastikan dulu bahwa area gigi yang bermasalah benar-benar sudah mati rasa. Kemudian dokter akan menggoyangkan gigi yang bermasalah dengan menggunakan pengungkit khusus. Jika gigi sudah terasa cukup kendur, barulah dokter akan mencabut gigi menggunakan tang.

Gusi tempat gigi yang dicabut akan berdarah dan ini adalah hal yang wajar. Anda bisa menggigit kapas atau gulungan kain kasa di lokasi gigi yang dicabut untuk membantu menghentikan perdarahan.

Hindari berkumur terlalu keras, menyentuh gusi bekas gigi dicabut, dan merokok setelah cabut gigi. Hindari pula makanan atau minuman yang terlalu panas, asam, dan pedas sampai sensasi kebas benar-benar mereda.

3. Pemasangan tutup kepala khusus

Dokter spesialis bedah gigi dan mulut dapat membantu memperbaiki struktur rahang yang tidak rata dengan pemasangan tutup kepala khusus. Prosedur ini dapat membantu menghambat pertumbuhan rahang atas.

Dengan begitu rahang atas dan bawah penderita nantinya bisa kembali sejajar. Prosedur ini dapat dilakukan mulai usia anak-anak.

Dokter juga dapat memasang splint gigi atau bite plates untuk mengobati kasus kelainan struktur rahang yang parah. Sama seperti pemeriksaan medis lainnya, dokter akan menanyakan perihal riwayat kesehatan Anda terlebih dulu.

Baru setelahnya dokter akan melibatkan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan tes lab dan rontgen gigi juga dapat dilakukan. Jangan ragu menanyakan soal manfaat dan risiko proses ini ke dokter sebelum menjalani prosedur medis apa pun.

4. Operasi

Dalam kasus tertentu, operasi untuk memperbaiki bentuk dan ukuran rahang mungkin diperlukan. Kabel, pelat, atau sekrup dapat digunakan untuk menstabilkan tulang rahang. Pada prosedur ini, Anda mungkin tidak membutuhkan pemasangan kawat gigi untuk merapikan gigi.

Jangan sungkan untuk berkonsultasi langsung ke dokter gigi mengenai kekhawatiran Anda terkait kondisi ini. Dokter gigi dapat memberikan saran tentang pilihan perawatan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah gigi berantakan?

Tidak ada satu cara pasti untuk mencegah maloklusi karena kebanyakan kasusnya merupakan bawaan dari lahir.

Namun, ada sejumlah hal yang bisa dicoba untuk mencegah pertumbuhan rahang dan gigi yang abnormal. Beberapa di antaranya seperti:

  • Membatasi penggunaan botol susu dan dot pada anak-anak
  • Hentikan kebiasan tidur dengan posisi mengisap jempol
  • Lakukan deteksi dini maloklusi di dokter gigi

Deteksi dini merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah berbagai masalah gigi dan mulut. Rontgen gigi dapat dilakukan untuk membantu dokter mengamati keadaan rongga mulut dan masalah gigi dan mulut secara menyeluruh.

Bila dokter menemukan kelainan pada tulang rahang yang memicu gigi berantakan, dokter dapat segera menentukan pengobatan. Pada prinsipnya, semakin cepat masalah Anda terdeteksi, maka semakin besar pula peluang Anda untuk sembuh.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut. Hal ini penting untuk mencegah kerusakan gigi yang semakin parah.

Anda cukup menyikat gigi dua kali sehari pada pagi dan malam hari. Bersihkan pula sela-sela gigi Anda dengan benang secara perlahan untuk mencegah kemunculan plak

Perhatikan asupan makanan yang Anda makan sehari-hari. Sebab, makanan yang Anda makan juga dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut Anda.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter untuk memahami solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Crooked teeth. http://www.webmd.com/oral-health/guide/crooked-teeth-misaligned-bites#1 . Accessed November 23, 2016.

Malocclusion. http://www.healthline.com/health/malocclusion-of-teeth#Overview1 .Accessed November 23, 2016.

teeth, M. (2019). Malocclusion of teeth: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Medlineplus.gov. Retrieved 19 July 2019, from https://medlineplus.gov/ency/article/001058.htm

default – Stanford Children’s Health. (2019). Stanfordchildrens.org. Retrieved 19 July 2019, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=malocclusion-90-P01860

Malocclusion http://www.columbia.edu/itc/hs/dental/D5300/Classification%20of%20Malocclusion%20GALLOIS%2006%20final_BW.pdf diakses pada 19 Juli 2019

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Risky Candra Swari pada 29/12/2020
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x