home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Gigi Berlubang (Karies)

Definisi|Tanda-tanda & gejala|Penyebab|Faktor risiko|Obat & Pengobatan|Komplikasi|Pencegahan
Gigi Berlubang (Karies)

Definisi

Apa itu gigi berlubang (karies)?

Gigi berlubang atau karies gigi merupakan kondisi kerusakan pada bagian terluar (enamel) dan terdalam (dentin) gigi.

Dalam istilah kedokteran, gigi berlubang disebut dengan cavities atau karies. Pada dasarnya, karies gigi adalah proses pembusukan yang mengakibatkan kerusakan pada email gigi, dentin, bahkan sampai sementum gigi.

Munculnya lubang pada gigi bisa disebabkan banyak faktor. Mulai dari bakteri di dalam mulut, mengonsumsi makanan dan minuman manis, hingga kebersihan mulut yang buruk.

Rasa sakit pada gigi berlubang tak boleh disepelekan. Lubang akan menjadi lebih besar hingga mempengaruhi lapisan gigi bagian yang paling dalam (dentin). Akibatnya, Anda akan mengalami sakit gigi parah, infeksi, atau bahkan gigi tanggal.

Seberapa umum kondisi sakit gigi berlubang?

Dikutip dari Mayo Clinic, gigi berlubang merupakan masalah dental yang sangat umum. Maka dari itu, bukan hal aneh jika sakit gigi jenis ini tidak begitu dianggap serius oleh beberapa orang.

Padahal, kalau dibiarkan, sakit gigi berlubang parah akan mengakibatkan kerusakan gigi serius. Akibat tersebut terdiri dari kerusakan gigi ditambah dengan komplikasi serius.

Karies gigi pun bisa dialami siapa saja dari segala kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan lansia. Meski begitu, gigi anak-anak dan lansia lah yang paling sering mengalami sakit gigi berlubang.

Anda dapat mencegah kondisi ini dengan menghindari faktor risikonya.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala gigi berlubang (karies)?

Tanda dan gejala dari gigi berlubang yang sakit bermacam-macam, tergantung pada keparahan dan lokasi lubang.

Apabila lubang baru terbentuk, Anda mungkin tidak mengalami gejala apapun. Namun, ketika kerusakan sudah semakin meluas, gejala karies yang terjadi meliputi:

  • Sakit gigi yang muncul secara tiba-tiba tanpa sebab jelas.
  • Nyeri ringan hingga parah saat mengonsumsi makanan atau minuman manis, panas, atau dingin.
  • Gigi jadi lebih sensitif.
  • Muncul lubang yang terlihat sangat jelas di gigi.
  • Ada noda coklat, hitam, atau putih pada permukaan gigi.
  • Bau mulut.
  • Rasa tidak enak di mulut.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Oleh karena bila ada kekhawatiran terkait gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda mengalami sakit gigi atau nyeri pada mulut, segera kunjungi dokter gigi.

Penting untuk rutin memeriksakan gigi dan melakukan pembersihan karang gigi di dokter setiap 6 bulan sekali. Bahkan meski gigi Anda terasa baik-baik saja.

Kebanyakan orang sering tidak pernah menyadari gigi mereka sudah berlubang. Akibatnya, lubang yang ada makin membesar dan menyebabkan nyeri yang parah.

Dengan memeriksakan kondisi gigi secara teratur, kerusakan yang ada dapat dicegah dan diobati sedini mungkin. Di samping itu, semakin cepat kerusakan gigi terdeteksi, maka pengobatan juga akan lebih murah dan mudah.

Penyebab

Apa penyebab gigi berlubang (karies)?

Penyebab utama gigi berlubang adalah plak. Plak adalah lapisan lengket yang terdiri dari bakteri dan asam yang terbentuk dari makanan atau minuman yang mengandung gula sehingga berubah jadi asam.

Beberapa kebiasaan buruk yang sering Anda lakukan juga dapat menyebabkan timbulnya plak pada gigi, misalnya jarang gosok gigi dan mengonsumsi makanan manis berlebihan. Ketika Anda mengonsumsi makanan yang tinggi gula, bakteri di dalam mulut akan menghasilkan asam.

Air liur yang bercampur dengan bakteri, asam, dan sisa-sisa makanan ini akan membentuk plak yang melekat pada gigi. Plak yang terus menumpuk pada gigi lama-lama akan menggerogoti enamel.

Enamel yang terkikis akibat asam atau erosi gigi ini akan memberikan celah bagi bakteri untuk masuk ke dalam dentin dan kemudian membentuk lubang. Nah, pada saat itulah Anda mengalami karies dan bisa menyebabkan sakit gigi.

Besarnya lubang pada gigi bervariasi pada setiap orang. Tergantung pada seberapa banyak plak yang terbentuk di gigi.

Faktor risiko

Siapa saja yang berisiko mengalami gigi berlubang?

Setiap orang pada dasarnya berisiko tinggi mengalami masalah ini. Namun, beberapa faktor berikut membuat Anda lebih berisiko mengalami karies gigi yang terasa sakit.

1. Faktor usia

Anak-anak dan orang lanjut usia lebih berisiko mengalami kerusakan gigi. Kebiasan mengonsumsi makanan manis sekaligus jarang menggosok gigi merupakan dua hal yang paling sering menyebabkan kerusakan gigi pada anak-anak.

Sementara seiring waktu, gigi dapat aus dan gusi pun mulai surut, sehingga membuat gigi lebih rentan mengalami kerusakan akar. Di samping itu, sejumlah obat yang mungkin dikonsumsi oleh lansia juga bisa menghambat produksi air liur.

Padahal air liur berperan penting dalam melembapkan dan membersihkan mulut dari plak dan sisa-sisa makanan.

2. Lokasi gigi

Dalam banyak kasus, terbentuknya lubang pada gigi lebih sering terjadi pada gigi bagian belakang, yaitu geraham dan premolar.

Kedua gigi ini sulit dijangkau oleh sikat gigi. Pasalnya, gigi bagian belakang memiliki banyak alur, lubang, dan celah, sehingga sering kali sisa makanan menempel di sana.

3. Makanan dan minuman manis

Segala macam makanan yang Anda konsumsi nyatanya dapat memengaruhi kesehatan gigi Anda. Makanan dan minuman manis merupakan santapan lezat bagi bakteri di dalam mulut.

Ketika Anda mengonsumsi berbagai makanan manis, bakteri di dalam mulut akan menghasilkan asam. Nah, ludah yang bercampur dengan asam dapat membentuk plak gigi yang pada akhirnya menyebabkan lubang pada permukaan gigi.

4. Tidur dengan botol susu

Tak melulu orang dewasa, kerusakan gigi juga bisa dialami oleh bayi. Bayi yang sudah memiliki gigi dan sering menyusu dengan botol sampai ia tertidur berisiko tinggi mengalami kerusakan gigi.

Gigi berlubang pada bayi yang menyusu disebut karies botol, karies rampan, atau gigi gigis.

Itu sebabnya, pastikan Anda telaten untuk membersihkan gigi bayi setelah minum susu dan sebelum ia tertidur.

5. Kekurangan fluoride

Fluoride merupakan mineral yang terbentuk secara alami untuk membantu melindungi gigi dari kerusakan. Perlu diketahui jika kandungan fluoride banyak ditemukan pada air mineral, pasta gigi, dan obat kumur.

6. Mulut kering

Mulut kering merupakan kondisi ketika bagian mulut Anda kekurangan air liur. Air liur sangat dibutuhkan untuk membersihkan sisa makanan dan plak dari gigi Anda.

Selain itu, zat yang terkandung dalam air liur dapat membantu melawan asam yang dihasilkan bakteri. Kondisi ini biasanya disebabkan karena Anda mengonsumsi obat tertentu atau sedang melalui suatu prosedur medis, misalnya kemoterapi.

7. GERD

Jika Anda memiliki riwayat penyakit asam lambung naik atau GERD, maka Anda berisiko mengalami masalah ini. GERD adalah kondisi yang dapat menyebabkan asam lambung mengalir naik ke kerongkongan sampai mulut.

Kombinasi antara asam lambung dan asam yang dihasilkan bakteri dapat membuat permukaan gigi Anda terkikis. Lama-lama kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan gigi yang serius.

8. Gangguan makan

Anoreksia dan bulimia dapat mengganggu produksi air liur di dalam mulut, sehingga meningkatkan risiko Anda terkena gigi berlubang. Di samping itu, gangguan makanan juga dapat menyebabkan erosi dan lubang pada gigi.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara gigi berlubang (karies) didiagnosis?

Adanya lubang bisa diketahui ketika Anda memeriksakan kondisi mulut dan gigi secara rutin.

Dokter akan menanyakan seputar kebiasaan Anda dalam merawat gigi dan mulut sembari memeriksa gigi Anda. Ketika memeriksa gigi Anda, dokter akan mencari titik-titik lunak yang berpotensi memunculkan lubang pada gigi.

Jika diperlukan, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan menggunakan sinar X untuk memeriksa celah di antara gigi Anda.

Bagaimana cara mengobati gigi berlubang (karies)?

Untuk mengurangi gejala gigi bolong atau berlubang yang terasa sakit, Anda dapat melakukan hal-hal seperti di bawah ini:

1. Tambal gigi

Bila lubang di gigi tidak begitu besar dan kerusakan belum menyebar terlalu dalam, dokter biasanya akan melakukan tambal gigi.

Tambal berguna untuk menutupi rongga yang ada di permukaan gigi agar tidak semakin meluas ke area sekitarnya.

2. Perawatan saluran akar gigi (root canal)

Ketika pembusukan sudah sampai bagian terdalam gigi (dentin), Anda mungkin membutuhkan perawatan saluran akar gigi.

Saluran akar gigi (root canal) adalah prosedur bedah kecil yang dilakukan saat penyebab pembusukan sudah terlanjur membunuh gigi.

Prosedur ini dapat mencegah infeksi di pulpa semakin menyebar ke gigi lainnya.

3. Cabut gigi

Cabut gigi biasanya jadi pilihan terakhir bila gigi sudah terlanjur sangat rusak dan tidak dapat diobati dengan beragam perawatan lain. Bila hanya satu gigi saja yang dicabut, Anda cukup mendapatkan anestesi lokal.

Namun, bila gigi Anda harus dicabut lebih dari satu dalam satu waktu, Anda mungkin akan diberikan obat penenang oral atau bius total.

Konsultasikan lebih lanjut tentang hal ini pada dokter gigi.

4. Obat antibiotik

Dokter dapat meresepkan antibiotik jenis tertentu untuk mencegah infeksi, termasuk pada kondisi karies gigi.

Antibiotik untuk sakit gigi harus diminum sesuai dengan anjuran dokter. Jangan mengurangi, menambahkan, atau menghentikan pengobatan tanpa persetujuan dokter. Apabila dokter memberikan antibiotik maka antibiotik tersebut harus diminum sampai tuntas.

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari gigi berlubang?

Gigi berlubang yang terasa sakit dan dibiarkan begitu saja tanpa pengobatan yang tepat dapat menyebabkan infeksi jaringan berbahaya. Infeksi ini bisa menjalar atau menyebar ke organ-organ tubuh lain dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Berikut beberapa komplikasi gigi berlubang yang perlu Anda waspadai:

1. Rasa nyeri parah

Kadang-kadang gigi berlubang bisa menyebabkan rasa nyeri yang tak boleh Anda sepelekan. Secara umum, tingkat keparahan rasa nyeri ini akan bergantung pada lubang yang Anda miliki.

Rasa nyeri karena gigi berlubang bersifat kambuhan. Anda bisa merasakan sakit yang bedenyut di bagian gigi yang bermasalah lalu mendadak hilang seketika.

Lalu, rasa nyeri bisa muncul semakin intens sampai menjalar ke bagian telinga, rahang, dan bahkan menyebabkan sakit kepala.

2. Terjadinya abses

Ketika infeksi semakin parah, maka bakteri akan berkumpul di dalam mulut, menyebabkan abses alias kantong nanah. Kondisi ini biasanya terjadi ketika infeksi sudah menyebar ke jaringan lunak dari pulpa, mulut, atau rahang penderita.

Kemunculan abses akan menimbulkan rasa nyeri yang membuat aktivitas mengunyah jadi menyakitkan.

3. Penyakit gusi

Karies juga bisa menyebabkan peradangan pada gusi. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut gingivitis. Peradangan tak hanya memengaruhi gusi di mana gigi berlubang berada, tapi juga bisa menjalar ke bagian gusi lainnya.

Akibatnya, gusi akan tampak merah dan bengkak. Gusi Anda juga bisa jadi mudah berdarah ketika menyikat gigi. Jika radang gusi ini tidak segera diobati, maka Anda bisa mengalami infeksi gusi parah yang disebut periodontitis.

4. Mengubah struktur rahang

Infeksi yang semakin meluas dapat menyebabkan kerusakan gigi makin serius. Bahkan masalah ini bisa menyebabkan gigi tanggal.

Gigi yang tanggal secara otomatis akan menyebabkan gigi lainnya bergeser, sehingga memengaruhi struktur gigi sekaligus struktur rahang Anda juga.

5. Gigi patah

Gigi merupakan salah satu anggota tubuh yang tergolong kuat. Namun, saat terjadi sesuatu seperti cedera maka akan mengakibatkan gigi menjadi patah.

Tidak hanya karena jatuh, menggigit sesuatu yang keras atau bahkan mengunyah makanan terlalu kencang juga bisa jadi penyebabnya.

Gigi patah juga bisa terjadi karena bahaya dari gigi berlubang. Hal ini terjadi karena gigi sudah lemah dan tidak mampu menahan beban sehingga berisiko mudah patah.

6. Penyakit jantung

Tahukah Anda bahwa gigi bolong atau berlubang yang dibiarkan terlalu lama bisa menyebabkan penyakit jantung? Ya, jika masalah gigi yang Anda alami dibiarkan saja, maka Anda berisiko tinggi terkena penyakit jantung.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa penyakit periodontal erat kaitannya dengan penyakit jantung. Hal ini bisa terjadi karena bakteri dalam mulut dapat memasuki aliran darah, sehingga bisa menyebabkan infeksi di otot bagian dalam jantung (infective endocarditis).

7. Penyakit stroke

Gigi berlubang (karies) juga bisa menyebabkan stroke. Beberapa penelitian menemukan risiko infeksi gigi dengan penyakit stroke saling terkait satu sama lain.

Penderita cerebrovascular ischemia dilaporkan rentan mengalami masalah infeksi oral. Cerebrovascular ischemia adalah kondisi saat otak tidak cukup menerima aliran darah segar sehingga memicu terjadinya stroke isemik.

Baik itu penyakit jantung maupun stroke sama-sama berisiko menyebabkan kematian.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah gigi berlubang (karies)?

Secara umum, cara mencegah gigi berlubang adalah dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik. Guna memiliki mulut dan gigi yang sehat, berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan.

1. Sikat gigi 2 kali sehari

Supaya gigi Anda bersih dari plak dan sisa-sisa makanan, rajinlah untuk menyikat gigi setiap hari. Para ahli menganjurkan setiap orang sikat gigi dua kali sehari, pada pagi setelah makan dan malam sebelum tidur.

Jangan asal menyikat gigi. Pastikan Anda melakukan teknik menyikat gigi yang benar dan tepat.

2. Pasta gigi fluoride

Ada banyak sekali pilihan produk pasta gigi di pasaran. Namun, pasta gigi yang mengandung fluoride diketahui lebih efektif untuk membantu memperkuat dan melindungi lapisan terluar gigi (enamel).

Tak hanya itu. Pasta gigi fluoride juga dapat membantu memineralisasi kembali daerah gigi yang sudah mulai membusuk.

3. Pilih sikat gigi yang baik

Selain pasta gigi, pastikan Anda juga memilih sikat gigi yang tepat. Pilihlah sikat gigi yang berbulu lembut dan memiliki bentuk kepala sikat yang pas dengan rongga mulut Anda.

Tidak hanya itu saja, sikat gigi yang Anda gunakan juga harus nyaman ketika digenggam.

4. Bersihkan gigi pakai benang (flossing)

Sikat gigi saja tak cukup untuk membersihkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi. Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah membersihkan gigi menggunakan benang (flossing).

Membersihkan gigi dengan benang dapat membantu menghilangkan plak dan bakteri secara lebih efektif. Pasalnya, benang gigi dapat menjangkau sisa-sisa makanan yang sulit dijangkau oleh sikat gigi.

5. Kurangi makanan manis

Bakteri di dalam mulut sangat menyukai gula. Oleh sebab itu, mengurangi makanan tinggi gula merupakan solusi tepat untuk mencegah karies pada gigi.

Ingat, bukan menghindari gula sama sekali. Anda hanya diminta untuk membatasi atau mengurangi asupan makanan yang tinggi gula.

Setelah makan dan minum yang manis-manis, jangan lupa untuk menyikat gigi. Hal ini dilakukan supaya sisa-sisa makanan tidak menempel dan mengendap di permukaan gigi lebih lama.

6. Rutin periksa ke dokter gigi

Dengan rutin periksa kesehatan ke dokter gigi, maka risiko Anda mengalami kerusakan gigi yang parah pun bisa dihindari.

Ketika dokter menemukan masalah tertentu pada gigi, ia dapat segera menentukan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Idealnya pemeriksaan gigi dilakukan setiap 6 bulan sekali. Meski begitu, Anda mungkin dianjurkan lebih sering periksa karena membutuhkan perawatan yang lebih intensif.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cavities/tooth decay – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 3 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cavities/symptoms-causes/syc-20352892 

Complications of tooth decay – HSE.ie. (2020). Retrieved 27 March 2020, from https://www.hse.ie/eng/health/az/d/dental-caries/complications-of-tooth-decay.html 

Dental Caries (Tooth Decay) | Dental Health Foundation. (2002). Retrieved 26 March 2020, from https://www.dentalhealth.ie/dentalhealth/causes/dentalcaries.html 

Periodontology, A. (2020). Gum Disease and Heart Disease | Perio.org. Retrieved 27 March 2020, from https://www.perio.org/consumer/gum-disease-and-heart-disease

Tooth decay. (2017). Retrieved 26 March 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/tooth-decay/ 

The True Story of Why You Get Cavities, According to a Billion Microbes | University of Illinois at Chicago (UIC) College of Dentistry. (2020). Retrieved 26 March 2020, from https://dentistry.uic.edu/patients/cavity-prevention-bacteria

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal diperbarui 28/12/2020
x