Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 7 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Ilmuwan Universitas Gadjah Mada mengembangkan teknologi yang bisa mendeteksi COVID-19 dengan cepat lewat alat bernama GeNose. Alat ini diklaim bisa mendeteksi apakah seseorang terinfeksi COVID-19 melalui embusan napasnya. 

Apakah GeNose bisa menjadi standar untuk mendiagnosa infeksi COVID-19? Bagaimana cara kerja alat ini?

Bagaimana GeNose mendeteksi infeksi virus corona penyebab COVID-19?

genose alat deteksi covid-19 dari embusan napas

GeNose adalah teknologi pengendus keberadaan COVID-19 dalam napas manusia. Alat ini dibuat oleh ilmuwan UGM dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK).

Pemeriksaan dilakukan dengan meminta pasien mengembuskan napas ke tabung khusus (rebreathing mask) untuk menampung napas. Napas yang telah ditampung tersebut kemudian disambungkan ke alat GeNose melalui selang. 

Sensor-sensor GeNose akan menangkap keberadaan virus penyebab COVID-19 yang terbawa oleh napas dan menganalisisnya dengan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Ketua peneliti, Kuwat Triyana, menjelaskan bahwa ketika bagian tubuh manusia terinfeksi virus maka ia akan menghasilkan senyawa organik yang bernama Volatile Organic Compound (VOC). Senyawa organik ini disebut sangat spesifik sehingga ketika seseorang bernapas maka sensor GeNose dapat meresponnya dengan membentuk pola yang sangat khas. 

Pola khas tersebut kemudian yang dianalisis oleh AI untuk menentukan apakah orang tersebut terinfeksi COVID-19 atau tidak. 

“Sebelumnya butuh waktu sekitar 3 menit, namun terakhir saat kami melakukan uji di BIN (Badan Intelijen Negara) ternyata bisa dipercepat menjadi 80 detik,” kata Kuwat.

Pilot project profiling dan validasi GeNose telah dilakukan di ruang isolasi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Yogyakarta. Uji klinis ini dilakukan pada 615 sampel napas dari 83 orang pasien. Hasilnya diketahui 43 orang terkonfirmasi positif dan 40 orang negatif. 

“80 persen orang yang terkonfirmasi positif ini tanpa gejala dan mereka yang negatif juga tidak memiliki gejala apapun yang mirip COVID-19. Artinya alat ini bisa membedakan mana orang positif COVID-19 walaupun tanpa gejala,” kata dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, salah satu tim peneliti.

Untuk uji klinis selanjutnya, UGM telah mendapat dukungan penuh dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

UGM melakukan serah terima teknologi alat deteksi COVID-19 GeNose ke Kemenristek/BRIN pada Kamis (24/9).

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

368,842

Terkonfirmasi

293,653

Sembuh

12,734

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Persiapan uji klinis GeNose

uji klinis genose alat deteksi covid-19 dari embusan napas

Rencananya, uji klinis tahap kedua akan dilakukan pada 2.000 orang pasien di 9 rumah sakit yang telah bekerja sama dengan UGM.

Untuk bisa memvalidasi akurasi mesin ini harus ada uji diagnostik atau uji klinis. Pasien yang menjadi peserta uji deteksi COVID-19 dengan GeNose juga dilakukan tes molekuler RT-PCR (swab) untuk melihat keakuratannya. 

RT-PCR adalah kepanjangan dari real-time Polymerase Chain Reaction, yakni tes yang dilakukan dengan mengambil sampel dari usapan selaput lendir hidung atau tenggorokan. Saat ini tes swab PCR adalah cara diagnosa COVID-19 yang paling akurat. 

Rumah sakit yang akan bekerjasama dalam uji diagnostik ini di antaranya:

  1. RSUP Dr. Sardjito
  2. RSPAU Hardjolukito Yogyakarta
  3. RS Bhayangkara TK III Polda DI Yogyakarta 
  4. RSLKC Bambanglipuro, Bantul
  5. RST Dr. Soedjono Magelang
  6. RS Bhayangkara TK I Raden Said Soekanto, Jakarta
  7. RS Akademik UGM
  8. RSUD Saiful Anwar, Malang
  9. RSPAD Gatot Soebroto (masih dalam konfirmasi)
  10. RSUP Soeradji Tirtonegoro, Klaten (masih dalam konfirmasi)

Jika alat ini lolos semua rangkaian uji, maka GeNose direncanakan akan masuk tahap pilot produksi sekitar Oktober atau November.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
kepadatan kota memengaruhi covid-19

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit