Kekurangan Vitamin D Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejauh ini masih banyak hal yang belum diketahui peneliti terkait COVID-19. Namun, temuan baru mengungkapkan bahwa kadar vitamin D di dalam tubuh ternyata berperan cukup penting terhadap angka kematian COVID-19. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Peran vitamin D terhadap angka kematian COVID-19

kurang vitamin D pici skizofrenia

Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan jutaan kasus di seluruh dunia dan ratusan orang meninggal dunia. Jumlah kasus kematian yang kian hari terus meningkat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari riwayat penyakit kronis yang diderita pasien hingga keterbatasan fasilitas di rumah sakit. 

Baru-baru ini penelitian yang dimuat di medRxiv mengungkapkan salah satu penyumbang angka kematian pada COVID-19 yaitu kekurangan vitamin D. 

Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Northwestern University ini menganalisis data statistik dari rumah sakit dan klinik di beberapa negara mulai dari Tiongkok, Perancis, Jerman, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat. 

Beberapa negara di atas merupakan negara dengan tingkat kematian COVID-19 tertinggi, seperti Italia, Spanyol, dan Inggris. Hampir sebagian pasien dari negara tersebut ternyata mempunyai kadar vitamin D yang rendah dibandingkan negara-negara yang tidak terkena dampak begitu parah.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

522,581

Terkonfirmasi

437,456

Sembuh

16,521

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Penelitian ini dilakukan karena tim peneliti ingin mengetahui perbedaan tingkat kematian COVID-19 yang tidak dapat dijelaskan dari satu negara ke negara lainnya. Maka itu, mereka mencoba memeriksa kadar vitamin D sejumlah pasien dari negara yang terkena dampak parah. 

Hal ini dikarenakan salah satu faktor risiko dari kematian COVID-19 adalah badai sitokin. Badai sitokin merupakan kondisi peradangan hebat yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif. 

Penelitian tersebut ternyata menemukan adanya hubungan yang cukup kuat antara kadar vitamin D dengan badai sitokin terhadap angka kematian COVID-19.

Pasalnya, badai sitokin dapat memberikan dampak yang cukup parah terhadap paru dan menimbulkan gangguan pernapasan akut yang bisa berujung pada kematian.

Walaupun demikian, bukan berarti masyarakat diminta untuk ‘menimbun’ suplemen vitamin D dalam jumlah banyak. Temuan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan membandingkan negara lainnya yang memiliki kondisi yang berbeda. 

Kekurangan vitamin D dapat memicu badai sitokin

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kekurangan vitamin D berpengaruh terhadap angka kematian COVID-19 karena dapat memicu badai sitokin. Mengapa demikian?

Kecukupan vitamin D dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh bawaan dan mencegah mereka menjadi terlalu aktif. Itu berarti bahwa kadar vitamin D yang sehat kemungkinan besar dapat melindungi pasien COVID-19 dari komplikasi yang parah, termasuk kematian. 

Vitamin D mungkin tidak dapat mencegah orang lain dari penularan infeksi virus, tetapi dapat mengurangi risiko terjadinya komplikasi dan kematian pada pasien.

Para peneliti juga berpendapat bahwa hubungan ini juga membantu menjelaskan mengapa anak kecil memiliki risiko kematian COVID-19 yang rendah.

Hal tersebut dikarenakan anak masih mengandalkan sistem kekebalan tubuh bawaan mereka, sehingga kemungkinan besar dapat mengurangi risiko terjadinya reaksi yang berlebihan. 

faktor penentu hilang COVID-19

Walaupun vitamin D berperan penting dalam pandemi COVID-19, masyarakat tetap diminta untuk tidak mengonsumsi vitamin D secara berlebihan. Konsumsi suplemen vitamin secara berlebihan tentu akan menimbulkan efek samping. 

Maka dari itu, peneliti masih memerlukan studi lebih lanjut untuk melihat bagaimana vitamin D secara efektif dapat digunakan untuk melindungi dari komplikasi COVID-19.

Intinya, kekurangan vitamin D cukup berbahaya, tetapi dapat ditangani lewat penggunaan suplemen yang wajar. Temuan ini mungkin dapat menjadi siasat baru untuk membantu melindungi kelompok yang rentan terhadap COVID-19, seperti pasien lansia. 

Sementara itu, dilansir dari Andrew Weil Center for Integrative Medicine, mencukupi vitamin D memang perlu untuk menghadapi COVID-19, terutama mengurangi risiko kematian.

Namun, ketika tubuh mengalami peradangan seperti yang terjadi pada pasien yang terinfeksi COVID-19 dan mengalami kondisi parah, vitamin D justru perlu dihentikan sementara. 

Hal tersebut mengingat vitamin D dapat mengaktifkan jalur peradangan dan molekul inflamasi, IL-1B. Hal ini ternyata menjadi ciri dan bisa berpengaruh terhadap munculnya gejala COVID-19.

Maka dari itu, vitamin D mungkin perlu dihentikan sementara waktu saat gejalanya muncul dan dapat dilanjutkan sesuai dengan kondisi pasien.

Siapa yang paling berisiko kekurangan vitamin D?

masalah tidur lansia

Faktor komplikasi COVID-19 yang bisa berujung pada kematian mungkin dapat disebabkan oleh kurangnya kadar vitamin D dalam tubuh. Maka dari itu, penting untuk mencukupi kebutuhan vitamin D harian Anda lewat makanan dan suplemen. 

Kebutuhan harian vitamin D bergantung pada usia seseorang, seperti:

  • bayi di bawah usia 12 bulan: 400 IU (satuan internasional)
  • anak berusia 1-13 tahun: 600 IU
  • remaja 14-18 tahun: 600 IU
  • dewasa 19-70 tahun: 600 IU
  • lansia 71 tahun ke atas: 800 IU
  • wanita hamil dan menyusui: 600 IU

Bagi orang yang berisiko tinggi terhadap kekurangan vitamin D, seperti lansia, biasanya membutuhkan lebih banyak asupan harian. Berikut ini beberapa kelompok yang paling berisiko mengalami kekurangan vitamin D, seperti:

  • bayi yang sedang disusui ASI tanpa suplemen vitamin D tambahan
  • lansia karena fungsi ginjal menurun untuk mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif
  • orang dengan kulit gelap 
  • penderita osteoporosis
  • orang yang menderita penyakit ginjal, hati kronis, dan obesitas

Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien COVID-19

Beberapa jenis di atas merupakan salah satu kelompok yang berisiko mengalami kekurangan vitamin D. Oleh karena itu, memenuhi asupan harian vitamin D sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing ternyata cukup penting, terutama untuk mengurangi risiko kematian COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit