Kenapa Belum Ada Vaksin untuk Novel Coronavirus?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Akibat wabah Novel coronavirus yang menyerang Tiongkok dan beberapa negara lainnya, lebih dari 800 orang terinfeksi dan 26 orang dilaporkan meninggal dunia. Infeksi virus dan bakteri umumnya dapat dicegah melalui pemberian vaksin. Namun, ada sejumlah kendala yang membuat vaksin Novel coronavirus hingga kini belum tersedia.

Jika digunakan secara efektif, vaksin tidak hanya dapat mencegah penularan penyakit berbahaya, tapi juga membuat penyakit tersebut tak lagi mematikan. Lantas, apa yang menjadi kendala dalam pengembangan vaksin virus ini?

Vaksin Novel coronavirus masih dikembangkan

Eksperimen vaksin hepatitis C

Novel coronavirus adalah bagian dari famili coronavirus yang menginfeksi saluran pernapasan. Kelompok virus ini dapat menyebabkan penyakit yang beragam, mulai dari pilek biasa, flu, hingga penyakit yang lebih parah seperti pneumonia dan bronkitis.

Coronavirus juga diketahui menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2002 dan Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) tahun 2013 silam. Keduanya menginfeksi ribuan orang dan mengakibatkan ratusan orang meninggal.

Sebelum novel coronavirus muncul, banyak peneliti telah mencoba mengembangkan vaksin untuk SARS dan MERS. Sejumlah peneliti pada tahun 2003 berhasil menguji vaksin SARS terhadap manusia, tetapi pengembangan vaksin tidak dilanjutkan karena wabah SARS kala itu telah berakhir.

Pengembangan vaksin untuk MERS juga terkendala oleh waktu, biaya, dan risiko efek samping. Menurut W. Ian Lipkin, profesor di Mailman School of Public Health, AS, risiko seseorang terkena efek samping vaksin MERS akan lebih besar dibandingkan risikonya terinfeksi virus tersebut.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

207,203

Terkonfirmasi

147,510

Sembuh

8,456

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Walau demikian, penelitian tentang vaksin SARS dan MERS beberapa tahun lalu kini menjadi bekal bagi banyak ilmuwan untuk mengembangkan vaksin novel coronavirus. Pasalnya, ketiga virus tersebut disebut-sebut memiliki banyak kemiripan.

Sekelompok peneliti di Texas, New York, dan China kini masih berupaya mengenali kode genetik virus yang dinamai 2019-nCoV ini. Kabar baiknya, proses ini tidak lagi memakan waktu berbulan-bulan seperti pada kasus SARS dahulu, melainkan hanya beberapa minggu.

Kendala dalam mengembangkan vaksin novel coronavirus

Vaksin hepatitis

Hambatan dalam mengembangkan vaksin 2019-nCoV pada dasarnya sama dengan pembuatan vaksin lainnya. Ada dua faktor utama yang berperan, yakni faktor ilmiah dan kurangnya pendanaan.

Faktor ilmiah antara lain karakteristik bibit penyakit yang diteliti dan risiko efek samping vaksin. Sementara itu, kurangnya pendanaan dapat menghambat pengembangan serta penyebaran vaksin ke daerah tertentu, sekalipun daerah tersebut termasuk rentan.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Medical Microbiology memberikan gambaran mengenai beberapa kendala umum dalam pengembangan vaksin. Berikut di antaranya:

  • Data praklinis yang tidak memadai dan kurangnya informasi tentang imunitas masyarakat yang mungkin menggagalkan uji klinis nantinya.
  • Kurangnya informasi tentang paparan infeksi pada calon penerima vaksin.
  • Vaksin akan digunakan pada kelompok masyarakat yang sistem imunnya tidak begitu responsif.
  • Variasi bibit penyakit membuat peneliti harus selalu memperbarui formulasi vaksin.
  • Biaya pengembangan vaksin yang tinggi membuat produk potensial akhirnya terabaikan.
  • Kurangnya akses vaksin ke negara-negara yang lebih miskin.

Vaksin novel coronavirus memang masih berada dalam tahap pengembangan. Namun, proses yang panjang ini akan memberikan hasil sepadan di masa yang akan datang. Selama menantikan pembuatan vaksin, langkah terbaik yang dapat diambil saat ini adalah melakukan upaya pencegahan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Melawan COVID-19: Jangan Ada Lagi Tenaga Medis yang Gugur

Penyebaran COVID-19 belum bisa dihentikan, ratusan nyawa tidak berhasil diselamatkan, termasuk para dokter dan tenaga medis yang melawan di garis depan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 2 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 1 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Mutasi Coronavirus Penyebab COVID-19 10 Kali Lebih Mudah Menular, Apa Bahayanya?

Mutasi virus corona penyabab COVID-19 disebut 10 kali lebih mudah menular daripada jenis aslinya yang berasal dari Wuhan, China.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 26 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

LIPI Lakukan UJi Klinis Kandidat Suplemen Herbal COVID-19

Tim peneliti melakukan uji klinis suplemen herbal COVID-19 di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jenis masker

Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
risiko covid-19 di wilayah dengan polusi udara tinggi

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 4 menit
plasma darah pasien covid-19 sembuh

Amerika Izinkan Perawatan COVID-19 dengan Plasma Darah Pasien Sembuh, Apa itu?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 5 menit