Efektivitas Vaksin Flu dalam Melawan COVID-19, Apakah Bisa Digunakan?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Gejala yang ditimbulkan wabah COVID-19 mirip dengan gejala flu biasa. Hal tersebut membuat kebanyakan orang menganggap bahwa vaksin flu dapat membantu melawan COVID-19. Hal ini dikarenakan baik influenza dan COVID-19 sama-sama menyerang saluran pernapasan penderitanya.

Akan tetapi, apakah vaksin flu efektif membantu melawan virus SARS-CoV-2?

Benarkah vaksin flu dapat membantu mengurangi risiko COVID-19?

Dokter memberikan vaksin hepatitis B

Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan lebih dari 114.000 kasus secara global dan menelan lebih dari 4.000 korban jiwa. 

Sampai saat ini para ahli masih berupaya mengembangkan vaksin untuk mencegah COVID-19 dan mencari alternatif pengobatan yang efektif untuk mengobati para pasien. Selain itu, pemerintah di seluruh dunia juga mengimbau warganya untuk melakukan upaya pencegahan dengan menjaga kesehatan dan kebersihan. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,165

Terkonfirmasi

5,877

Sembuh

1,418

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Sementara itu, banyak orang yang mempertanyakan apakah vaksin flu dapat digunakan untuk mencegah COVID-19 mengingat sama-sama menyerang sistem pernapasan. 

Jawabannya adalah tidak. Vaksin flu dibuat khusus untuk mencegah infeksi virus influenza yang tentunya berbeda dengan virus corona atau SARS-CoV-2. Namun, menyuntikkan vaksin flu setidaknya dapat membantu menjaga daya tahan tubuh menjadi lebih baik menghadapi wabah COVID-19. 

tes antibodi COVID-19

Jika orang mendapatkan vaksin flu, risikonya munculnya gejala flu seperti demam dan batuk akan lebih sedikit dan mereka mungkin lebih jarang ke klinik kesehatan.

Dengan begitu, jumlah pasien flu akan lebih sedikit dan memudahkan dokter menemukan pasien COVID-19. Lalu, apakah dengan menyuntikkan vaksin flu dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi risiko COVID-19?

Menurut CDC, vaksin flu dapat memunculkan antibodi agar berkembang lebih cepat dua minggu setelah vaksin dilakukan. Antibodi ini dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi virus sesuai dengan apa yang ditawarkan oleh vaksin, seperti vaksin flu untuk virus influenza. 

obat antimalaria mengatasi covid-19

Jenis vaksin flu memang cukup bervariasi. Akan tetapi terdapat dua dari vaksin trivalen yang dibuat khusus untuk lansia berumur 65 tahun ke atas agar respons kekebalan tubuhnya lebih kuat. 

Sebenarnya, secara teori vaksin flu mungkin dapat digunakan untuk membantu mengurangi risiko COVID-19 dengan menambah respons sistem imun di tubuh Anda. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari WHO yang menyatakan vaksin flu dapat digunakan. 

Oleh karena itu, mendapatkan vaksin flu sebenarnya tidak apa-apa, terutama untuk mencegah penyakit influenza. Akan tetapi, mendapatkan vaksin influenza tidak ada hubungannya dengan risiko terkena COVID-19.

gejala dan komplikasi coronavirus

Perbedaan COVID-19 dengan influenza

Vaksin flu memang tidak dapat mencegah penyakit COVID-19, tetapi tidak ada salahnya untuk rutin mendapatkan vaksin tersebut demi mencegah influenza. 

Pertanyaan apakah vaksin influenza dapat digunakan untuk COVID-19 mungkin sering muncul di benak masyarakat karena gejala dan apa yang diserang cukup mirip. Akan tetapi, menurut WHO terdapat beberapa perbedaan yang perlu diketahui terkait COVID-19 dan influenza. 

1. Penularan 

coronavirus tanpa gejala

Salah satu hal yang membedakan antara COVID-19 dan influenza adalah penularan. Pasien influenza biasanya dapat terinfeksi meskipun belum terlalu sakit. Sedangkan penularan COVID-19 terjadi melalui percikan pernapasan alias droplet dari pasien yang terinfeksi kepada orang lain. 

Sementara itu, hanya 1% kasus COVID-19 dari kasus yang dilaporkan di Tiongkok tidak memiliki gejala dan dua hari setelahnya tanda-tandanya baru muncul. 

Di beberapa negara, pemerintah menggunakan sistem pengawasan flu dan penyakit pernapasan lainnya, seperti pneumonia, untuk mencari kasus COVID-19. Akan tetapi, bukan berarti penyebaran virus influenza mirip dengan SARS-CoV-2. 

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

2. Komplikasi

Pneumonia disebabkan bakteri penyebab batuk berdarah

Selain penularan, perbedaan utama lainnya dari COVID-19 dan influenza adalah komplikasi. Pasien yang terinfeksi COVID-19 ternyata dapat mengembangkan penyakit yang lebih parah, terutama ketika mereka menderita penyakit penyerta, seperti diabetes atau penyakit jantung. 

Dibandingkan dengan influenza, SARS-CoV-2 merupakan virus baru, sehingga tubuh belum memproduksi antibodi untuk melawan virus ini. 

Akibatnya, orang akan lebih rentan terhadap infeksi dan beberapa di antara mereka mungkin bisa berujung pada penyakit parah hingga kematian. 

3. Ketersediaan vaksin 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, vaksin untuk flu sudah tersedia, tetapi tidak untuk COVID-19. Sampai saat ini, vaksin untuk COVID-19 masih dalam tahap pengembangan. 

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri sendiri sebagai salah satu upaya mencegah COVID-19. 

4. Keperluan karantina 

karantina adalah

Pada saat seseorang terkena flu, tidak diperlukan karantina satu wilayah untuk mencegah penularannya. Bedakan dengan COVID-19. 

Karantina satu kota hingga negara diperlukan untuk mengurangi risiko paparan COVID-19 dari negara yang terinfeksi. Selain karena belum banyak hal yang belum diketahui dari virus ini, COVID-19 juga memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi dan dapat menimbulkan komplikasi yang parah. 

Oleh karena itu, ketika merawat pasien COVID-19 dokter tidak menanganinya dengan cara yang sama dengan penyakit influenza. 

Vaksin flu memang tidak dapat digunakan untuk mencegah COVID-19. Namun, tidak ada salahnya untuk tetap mendapatkan vaksin sebagai upaya menghindari penyakit influenza.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 22/05/2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 21/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
penyakit kawasaki covid-19 anak

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020