Tim Ilmuwan Israel Hampir Selesai Mengembangkan Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejumlah ilmuwan dari Israel mengklaim bisa segera menyediakan vaksin COVID-19 dalam beberapa pekan ke depan. Vaksin baru ini dikembangkan selama empat tahun dengan meneliti sebuah virus yang ditemukan pada unggas. Para ilmuwan menilai virus tersebut memiliki kemiripan dengan coronavirus penyebab wabah COVID-19.

Belum tersedianya vaksin memang menjadi salah satu faktor yang membuat COVID-19 terkesan begitu menakutkan. Di sisi lain, pengembangan vaksin perlu melewati banyak penelitian serta memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Vaksin temuan ilmuwan di Israel seakan menjadi angin segar dalam menghadapi wabah COVID-19.

Seperti apa vaksin tersebut dan bisakah Indonesia memperolehnya dalam waktu cepat?

Asal-muasal vaksin COVID-19 dari Israel

vaksin novel coronavirus

Tim ilmuwan yang mengembangkan vaksin COVID-19 itu berasal dari MIGAL Galilee Research Institute, Israel. Temuan ini berawal saat mereka meneliti Infectious Bronchitis Virus (IBV) sekitar empat tahun yang lalu. IBV adalah coronavirus yang menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan unggas.

Penelitian yang mereka lakukan awalnya bertujuan untuk mengembangkan vaksin guna mencegah infeksi IBV. Vaksin yang mereka temukan kemudian diuji di Volcani Institute, Israel, dan terbukti efektif mengatasi penyakit akibat infeksi IBV pada unggas.

Pembuatan vaksin IBV tanpa disangka ternyata turut menghasilkan produk sampingan. Usai diteliti, tim ilmuwan asal Israel tersebut menyimpulkan bahwa produk sampingan yang mereka temukan mempunyai potensi untuk mencegah penularan COVID-19.

Menurut laporan penelitian tersebut, susunan genetik IBV pada unggas sangat mirip dengan coronavirus penyebab COVID-19. Kedua virus juga menggunakan mekanisme yang sama saat menyerang sel tubuh inangnya. Dengan demikian, vaksin IBV mungkin juga bisa digunakan untuk mencegah penularan COVID-19.

Tim ilmuwan tersebut kemudian mengubah susunan genetik vaksin IBV agar sesuai dengan strain coronavirus penyebab COVID-19. Saat ini, mereka sedang menunggu persetujuan untuk melakukan uji in-vivo pada hewan hidup.

Jika pengujian berhasil, mereka akan melanjutkannya dengan produksi dan distribusi vaksin. Menteri Sains dan Teknologi Israel, Ofir Akunis, mengumumkan bahwa seluruh proses produksi vaksin COVID-19 mungkin akan memakan waktu 8-10 minggu.

Produk akhir vaksin COVID-19 rencananya akan berbentuk vaksin oral yang diminum secara langsung. Hal ini bertujuan agar masyarakat umum dapat memperoleh serta mengonsumsi vaksin dengan mudah.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

522,581

Terkonfirmasi

437,456

Sembuh

16,521

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Apakah vaksin COVID-19 akan bisa diperoleh dengan mudah?

Vaksin hepatitis

Pada kesempatan yang sama, Akunis juga menyatakan bahwa proses produksi hingga persetujuan keamanan vaksin akan berlangsung selama 90 hari. Jangka waktu tersebut jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mencapai 18 bulan.

Kendati demikian, ahli penyakit infeksi di Australia turut memperingatkan kendala yang mungkin dihadapi para ilmuwan di Israel selama mengembangkan vaksin COVID-19. Kendala terbesar mereka adalah lamanya waktu untuk melakukan uji coba terhadap hewan dan manusia agar vaksin bisa memperoleh persetujuan keamanan.

mencegah tertular coronavirus

Oleh sebab itu, ilmuwan yang meneliti vaksin COVID-19 kini sedang mencari rekanan potensial untuk mempercepat uji coba pada manusia. Mereka juga akan membantu penyelesaian pengembangan produk akhir serta aturan-aturan yang nantinya berlaku.

Sekalipun vaksin COVID-19 sudah diproduksi oleh para ilmuwan di Israel, Indonesia tampaknya perlu tetap bersabar. Pasalnya, pembagian vaksin tidaklah mudah dan singkat, apalagi mengingat banyaknya negara yang terkena dampak wabah ini.

Penularan COVID-19 Bisa Terjadi Melalui Sentuhan Barang di Sekitar Anda

Apakah vaksin satu-satunya jalan untuk mengatasi COVID-19?

covid-19 tubuh manusia

Amesh Adalja, sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security, mengonfirmasi bahwa pembuatan vaksin COVID-19 dari coronavirus unggas memang memungkinkan. Ia bahkan cukup yakin pengembangan vaksin bisa semakin bertambah maju.

Akan tetapi, ia juga menyebutkan bahwa dunia tidak dapat sepenuhnya berharap pada vaksin COVID-19 yang kini dikembangkan di Israel. Vaksin memang dapat mencegah penularan COVID-19, tapi perannya mungkin tidak begitu besar dalam mengakhiri wabah ini.

Selain itu, vaksin yang sudah dikembangkan sekalipun tetap perlu dikaji dan diteliti lebih lanjut. Brenda Hogue, profesor ahli dalam bidang terapi imun dan virus di Arizona State University, menyebutkan bahwa pengembangan vaksin pada umumnya akan memakan waktu dua tahun.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah menggalakkan upaya pencegahan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun, membatasi kontak dekat dengan orang yang sakit, serta membersihkan permukaan barang yang sering disentuh.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Para ilmuwan melakukan studi pada obat anti komplemen untuk pasien COVID-19. Kemampuannya menghambat peradangan dipercaya dapat meringankan gejala.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
sembuh covid-19

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit