Tim Ilmuwan Israel Hampir Selesai Mengembangkan Vaksin COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejumlah ilmuwan dari Israel mengklaim bisa segera menyediakan vaksin COVID-19 dalam beberapa pekan ke depan. Vaksin baru ini dikembangkan selama empat tahun dengan meneliti sebuah virus yang ditemukan pada unggas. Para ilmuwan menilai virus tersebut memiliki kemiripan dengan coronavirus penyebab wabah COVID-19.

Belum tersedianya vaksin memang menjadi salah satu faktor yang membuat COVID-19 terkesan begitu menakutkan. Di sisi lain, pengembangan vaksin perlu melewati banyak penelitian serta memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Vaksin temuan ilmuwan di Israel seakan menjadi angin segar dalam menghadapi wabah COVID-19.

Seperti apa vaksin tersebut dan bisakah Indonesia memperolehnya dalam waktu cepat?

Asal-muasal vaksin COVID-19 dari Israel

vaksin novel coronavirus

Tim ilmuwan yang mengembangkan vaksin COVID-19 itu berasal dari MIGAL Galilee Research Institute, Israel. Temuan ini berawal saat mereka meneliti Infectious Bronchitis Virus (IBV) sekitar empat tahun yang lalu. IBV adalah coronavirus yang menyebabkan penyakit pada saluran pernapasan unggas.

Penelitian yang mereka lakukan awalnya bertujuan untuk mengembangkan vaksin guna mencegah infeksi IBV. Vaksin yang mereka temukan kemudian diuji di Volcani Institute, Israel, dan terbukti efektif mengatasi penyakit akibat infeksi IBV pada unggas.

Pembuatan vaksin IBV tanpa disangka ternyata turut menghasilkan produk sampingan. Usai diteliti, tim ilmuwan asal Israel tersebut menyimpulkan bahwa produk sampingan yang mereka temukan mempunyai potensi untuk mencegah penularan COVID-19.

Menurut laporan penelitian tersebut, susunan genetik IBV pada unggas sangat mirip dengan coronavirus penyebab COVID-19. Kedua virus juga menggunakan mekanisme yang sama saat menyerang sel tubuh inangnya. Dengan demikian, vaksin IBV mungkin juga bisa digunakan untuk mencegah penularan COVID-19.

Tim ilmuwan tersebut kemudian mengubah susunan genetik vaksin IBV agar sesuai dengan strain coronavirus penyebab COVID-19. Saat ini, mereka sedang menunggu persetujuan untuk melakukan uji in-vivo pada hewan hidup.

Jika pengujian berhasil, mereka akan melanjutkannya dengan produksi dan distribusi vaksin. Menteri Sains dan Teknologi Israel, Ofir Akunis, mengumumkan bahwa seluruh proses produksi vaksin COVID-19 mungkin akan memakan waktu 8-10 minggu.

Produk akhir vaksin COVID-19 rencananya akan berbentuk vaksin oral yang diminum secara langsung. Hal ini bertujuan agar masyarakat umum dapat memperoleh serta mengonsumsi vaksin dengan mudah.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Apakah vaksin COVID-19 akan bisa diperoleh dengan mudah?

Vaksin hepatitis

Pada kesempatan yang sama, Akunis juga menyatakan bahwa proses produksi hingga persetujuan keamanan vaksin akan berlangsung selama 90 hari. Jangka waktu tersebut jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mencapai 18 bulan.

Kendati demikian, ahli penyakit infeksi di Australia turut memperingatkan kendala yang mungkin dihadapi para ilmuwan di Israel selama mengembangkan vaksin COVID-19. Kendala terbesar mereka adalah lamanya waktu untuk melakukan uji coba terhadap hewan dan manusia agar vaksin bisa memperoleh persetujuan keamanan.

mencegah tertular coronavirus

Oleh sebab itu, ilmuwan yang meneliti vaksin COVID-19 kini sedang mencari rekanan potensial untuk mempercepat uji coba pada manusia. Mereka juga akan membantu penyelesaian pengembangan produk akhir serta aturan-aturan yang nantinya berlaku.

Sekalipun vaksin COVID-19 sudah diproduksi oleh para ilmuwan di Israel, Indonesia tampaknya perlu tetap bersabar. Pasalnya, pembagian vaksin tidaklah mudah dan singkat, apalagi mengingat banyaknya negara yang terkena dampak wabah ini.

Penularan COVID-19 Bisa Terjadi Melalui Sentuhan Barang di Sekitar Anda

Apakah vaksin satu-satunya jalan untuk mengatasi COVID-19?

covid-19 tubuh manusia

Amesh Adalja, sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security, mengonfirmasi bahwa pembuatan vaksin COVID-19 dari coronavirus unggas memang memungkinkan. Ia bahkan cukup yakin pengembangan vaksin bisa semakin bertambah maju.

Akan tetapi, ia juga menyebutkan bahwa dunia tidak dapat sepenuhnya berharap pada vaksin COVID-19 yang kini dikembangkan di Israel. Vaksin memang dapat mencegah penularan COVID-19, tapi perannya mungkin tidak begitu besar dalam mengakhiri wabah ini.

Selain itu, vaksin yang sudah dikembangkan sekalipun tetap perlu dikaji dan diteliti lebih lanjut. Brenda Hogue, profesor ahli dalam bidang terapi imun dan virus di Arizona State University, menyebutkan bahwa pengembangan vaksin pada umumnya akan memakan waktu dua tahun.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan saat ini adalah menggalakkan upaya pencegahan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun, membatasi kontak dekat dengan orang yang sakit, serta membersihkan permukaan barang yang sering disentuh.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020