Uji Remdesivir Sebagai Obat COVID-19 Belum Berhasil, Apa Artinya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Amerika Serikat belum lama ini melaporkan hasil uji coba remdesivir terhadap pasien COVID-19 di salah satu rumah sakit di Chicago. Uji coba tersebut dinyatakan berhasil karena gejala COVID-19 tampak berkurang usai pasien diberikan suntikan remdesivir. Namun, uji klinis terbaru justru menunjukkan bahwa remdesivir belum berhasil mengobati pasien.

Remdesivir adalah satu dari empat jenis obat yang sedang diuji karena dianggap berpotensi menjadi obat COVID-19. Obat ini semakin naik daun karena diklaim dapat meringankan gejala COVID-19, bahkan pada pasien dengan keluhan berat. Lantas, apa kata hasil uji coba terbaru tentang remdesivir?

Remdesivir belum terbukti mengatasi COVID-19

uji coba remdesivir covid-19

Selagi uji klinis remdesivir dilakukan di Chicago, beberapa negara pun mengadakan uji coba yang sama. Terhitung hingga akhir April, terdapat total 2.400 pasien dengan gejala COVID-19 berat yang menjalani uji coba di 152 lokasi berbeda.

Salah satu hasil uji coba yang paling dinantikan adalah yang baru-baru ini dilaporkan. Uji klinis tersebut dilakukan di Tiongkok dan menjadi standar emas bagi uji klinis lain di seluruh dunia. Total pasien yang diteliti berjumlah 237 orang. 

Pasien dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 158 pasien yang diberikan remdesivir secara rutin. Sementara itu, kelompok kedua terdiri dari 79 pasien yang diberikan perawatan COVID-19 standar tanpa remdesivir.

Hasilnya, tidak ada perbedaan khusus antara kelompok yang diberikan remdesivir dan yang tidak. Kedua kelompok membutuhkan waktu yang sama untuk pulih.

Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian di Chicago, yang menyebutkan bahwa gejala pasien berkurang drastis setelah diberikan remdesivir selama sekitar satu minggu.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

111,455

Terkonfirmasi

68,975

Sembuh

5,236

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Selain itu, sebanyak 14% pasien dari kelompok pertama meninggal dalam perawatan. Sementara pada kelompok kedua, ada 13% pasien yang meninggal dunia. Dari hasil uji coba inilah para peneliti menyimpulkan remdesivir belum berhasil menjadi obat yang berpotensi.

Uji coba juga harus dihentikan lebih awal karena adanya efek samping. Sebanyak 18 pasien dari kelompok pertama mengalami efek samping, lebih banyak dari kelompok kedua dengan hanya empat pasien yang mengalami efek samping perawatan.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang efek apa yang dialami pasien. Akan tetapi, remdesivir memang diketahui memiliki efek samping yang beragam, mulai dari gagal ginjal akut, tekanan darah rendah, hingga kegagalan organ.

Mengapa hasil uji coba remdesivir bisa berbeda-beda?

risiko covid-19 pada pasien cuci darah

Uji coba remdesivir yang dilakukan di Chicago pada dasarnya bukan gagal sama sekali. Penelitian tersebut malah cukup menjanjikan, apalagi di tengah pandemi yang masih merebak. Hanya saja, uji coba tersebut memiliki kekurangan.

Pada suatu penelitian, harus ada dua kelompok. Salah satu kelompok diberikan terapi obat, sedangkan kelompok satunya adalah kelompok kontrol yang tidak diberikan obat. Peneliti dan subjek sama-sama tidak tahu terapi apa yang diberikan pada masing-masing kelompok.

Para peneliti di Chicago memberikan remdesivir pada semua pasien yang diteliti. Akan tetapi, tidak ada kelompok kontrol. Tanpa adanya kelompok kontrol, semua pasien yang pulih di Chicago seakan membaik karena diberikan remdesivir.

Padahal, peneliti tidak bisa memastikan apakah pasien betul-betul pulih karena remdesivir atau karena perawatan COVID-19 saja.

ibuprofen covid-19

Penelitian tersebut juga tergolong singkat dengan jumlah pasien yang sedikit. Apabila jumlah pasien terlalu sedikit, hasil penelitian tidak bisa digunakan untuk membuat suatu kesimpulan. Ini sebabnya sebuah penelitian dapat melibatkan hingga ratusan peserta.

Hal yang sama ditemukan pada uji coba oleh Tiongkok awal April lalu. Sejumlah peneliti sudah menguji beberapa obat pada pasien COVID-19. Walaupun menjanjikan, hasil uji coba tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut karena jumlah pasiennya kurang.

‘Obat’ COVID-19 yang sudah ada saat ini

Para ilmuwan hingga kini masih mengembangkan obat dan vaksin COVID-19. Selama menantikan hasil uji coba terbaru, langkah terbaik yang dapat Anda lakukan adalah melindungi diri sendiri dan keluarga dari penularan COVID-19.

Melansir World Health Organization (WHO), cara paling efektif untuk mencegah tertular COVID-19 adalah:

Cara Karantina Diri Sendiri di Rumah untuk Cegah Penularan COVID-19

Uji coba remdesivir sebagai obat COVID-19 yang dilakukan hingga kini mungkin belum berhasil, tetapi ilmuwan dari dalam maupun luar negeri masih akan terus berupaya mengembangkannya.

Sebagai individu, Anda dapat berperan aktif mencegah penyebaran COVID-19 dengan menerapkan upaya pencegahan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin COVID-19 Moderna Memasuki Tahap Akhir Uji Kllinis

Vaksin COVID-19 buatan Moderna menunjukkan hasil positif dan akan memasuki tahap akhir uji klinis. Vaksin ini akan diuji coba pada 30.000 orang relawan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Menkes Mengganti Istilah PDP, ODP, dan OTG, Apa Artinya Bagi Penanganan COVID-19?

Kemenkes menghapus istilah PDP, ODP, dan OTG. Sebagi gantinya pemerintah menetapkan beberapa istilah baru untuk digunakan dalam penanganan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Selain melalui droplet, COVID-19 juga menular lewat sebaran di udara (airborne). Hal ini sudah dikonfirmasi oleh WHO. Begini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14/07/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Tips Beradaptasi dan Melindungi Diri di Masa New Normal

New normal dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang. Namun, hal terpenting adalah Anda tetap harus melindungi kesehatan dengan langkah berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
new normal
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor
asuransi di masa pandemi

5 Manfaat Punya Asuransi di Masa Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin covid-19 oxford

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit