Eksperimen Tes Antibodi, Metode Lain Mendeteksi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kasus wabah COVID-19 secara global kini mencapai angka sekitar 83.000 dan menewaskan lebih dari 2.800 korban jiwa. Di antara puluhan ribu kasus, terdapat salah satu negara yang memiliki jumlah kasus dan kematian yang cukup rendah meskipun sering didatangi warga Tiongkok, yaitu Singapura. Bahkan, baru-baru ini mereka mengklaim penggunaan tes antibodi untuk melacak infeksi COVID-19. 

Tes antibodi ini disebut-sebut lebih efektif dibandingkan metode pemeriksaan COVID-19 lainnya. Apa sebenarnya yang membuat cara ini diunggulkan oleh Singapura?

Bagaimana tes antibodi mengecek infeksi penyakit COVID-19?

tes serum albumin

Dengan meningkatnya jumlah kasus dan kematian di seluruh dunia, terutama di pusat wabah penyakit, yaitu Wuhan, Tiongkok, para ahli berlomba dengan waktu dalam membuat vaksin

Sementara itu, para peneliti di Singapura berusaha untuk mencari metode lain yang lebih efektif mendeteksi virus SARS-CoV-2. Pasalnya, tes yang digunakan untuk melacak COVID-19, yakni RT-PCR dinilai tidak begitu efisien.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

373,109

Terkonfirmasi

297,509

Sembuh

12,857

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran
 

RT-PCR atau  Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction adalah pemeriksaan untuk menganalisis apakah pada sampel terdapat virus atau tidak. 

Umumnya, pasien yang menjalani RT-PCR akan melakukan swab tenggorokan, oral, atau anal dengan menggunakan reaksi rantai polimerase. Akan tetapi, metode ini memiliki kelemahan, yaitu hanya dapat mendeteksi ada tidaknya virus pada sampel. 

RT-PCR tidak dapat mengidentifikasi pasien yang mengalami infeksi, sudah pulih, atau mendeteksi, apakah virus sudah hilang dari tubuh mereka. 

Keterbatasan tersebut akhirnya membuat Singapura mengembangkan tes antibodi untuk mendeteksi COVID-19 secara lebih rinci. 

pasien positif COVID-19

Dilansir dari American Association for the Advancement of Science, para ahli di Singapura mencoba mengidentifikasi COVID-19 dengan eksperimen tes antibodi. Peserta yang menjalani uji coba merupakan pasien yang diduga terinfeksi virus di gereja Singapura. 

Tidak disangka-sangka, tes antibodi yang termasuk baru ini membantu Kementerian Kesehatan Singapura mengidentifikasi kasus COVID-19 yang bermula di gereja Grace of Assembly God.

Dari metode ini mereka dapat melihat siapa yang pertama kali terinfeksi virus, yaitu seorang pria berusia 28 tahun. Akan tetapi, pemerintah belum dapat menentukan bagaimana pria tersebut dapat terjangkit COVID-19. 

Tidak terdeteksi bukan berarti tidak terinfeksi 

menghadapi covid-19

Sementara itu, pada kelompok kasus lainnya pada 25 Januari 2020, terdapat pasangan yang diduga menghadiri kebaktian gereja bersama dengan wisatawan dari Wuhan. 

Pasangan tersebut menunjukkan gejala COVID-19 dan memeriksakan diri mereka ke dokter. Akan tetapi, mereka tidak didiagnosis terinfeksi virus karena mengalami gejala ringan. 

mencegah tertular coronavirus

Selepas perayaan Tahun Baru Imlek, para peneliti mengirim pasangan itu ke Pusat Nasional untuk Penyakit Menular untuk menjalani tes pada 18 Februari.

alkohol suhu tinggi coronavirus

Alasannya karena setelah mereka pulih dari gejala, para ahli ingin memastikan apakah keduanya sudah terbebas dari virus. Pasangan ini akhirnya menjalani pemeriksaan menggunakan tes PCR dan antibodi untuk mendeteksi COVID-19. 

Hasilnya cukup mengejutkan. Sang suami dinyatakan positif melalui tes PCR dan dirawat di rumah sakit keesokan harinya. Di sisi lain, istrinya dinyatakan negatif lewat PCR, tetapi setelah tes antibodi keluar beberapa hari kemudian, dalam tubuhnya terdapat antibodi dari COVID-19 persis seperti suaminya.

Menurut Danielle Anderson, ahli virologi dari Duke-NUS dalam konferensi pers pada Selasa, para ahli percaya bahwa pertama kalinya tes antibodi digunakan dalam masalah ini. 

laboratorium coronavirus

Walaupun demikian, mereka masih menunggu hasil dari pengujian secara serologis, yaitu tidak hanya mengikuti jalur virus. Dengan begitu, peneliti lebih dapat memahami epidemiologi dari COVID-19 karena banyaknya kasus yang menyebar berasal dari pasien yang tidak menunjukkan gejala

Akibatnya, mereka kesulitan ‘menemukan’ virus di dalam tubuh suspek terduga, sehingga kemungkinan melonjaknya kasus dalam waktu singkat cukup besar. 

Oleh karena itu, tes antibodi untuk mengidentifikasi COVID-19 diharapkan dapat menunjang diagnosis pada pasien suspek terduga. 

Apa itu tes antibodi?

pemeriksaan laboratorium demam berdarah

Tes antibodi untuk mengidentifikasi virus pada pasien terduga COVID-19 di Singapura dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Linfa Wang. Linfa Wang merupakan seorang spesialis penyakit menular di Duke-NUS. Bagi masyarakat awam mungkin jarang mendengar pemeriksaan berdasarkan antibodi di tubuh manusia. 

Tes antibodi adalah pemeriksaan yang melibatkan analisis sampel darah pasien untuk melihat ada atau tidaknya antibodi tertentu dan jumlah antibodi yang ada. Normalnya, pemeriksaan ini dilakukan untuk beberapa penyakit tertentu, seperti alergi dan hepatitis A.

Pada kasus tes antibodi yang digunakan di COVID-19, peneliti mengambil sampel darah dari pasien yang sudah dinyatakan pulih. Kemudian, mereka mencoba mengidentifikasi antibodi dengan menargetkan lonjakan protein yang dapat mencegah dan membunuh sel virus

Sumber: Times of Israel

Dalam penelitian tersebut, mereka juga menciptakan protein virus sintetis yang dapat mendeteksi antibodi dalam sampel darah tanpa perlu menggunakan virus hidup. 

Akan tetapi, metode pemeriksaan COVID-19 ini perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah antibodi hanya akan bereaksi terhadap virus baru saja. 

Selain itu, tim peneliti juga khawatir bahwa adanya kesamaan antara virus sindrom pernapasan akut dan SARS-CoV-2 dapat menyebabkan reaktivitas silang. Maka itu, mereka juga berusaha mengembangkan cara membedakan kedua virus tersebut secara akurat. 

Sampai saat ini, kasus COVID-19 di Singapura belum melonjak secara drastis seperti di negara lainnya. Hal ini mungkin dikarenakan berbagai upaya pemerintah yang melakukan diagnosis yang agresif, seperti temuan tes antibodi untuk COVID-19 ini dan karantina yang lebih ketat.

Beda Tes COVID-19 Saran WHO dan Rapid Test Perintah Jokowi

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Pelonggaran PSBB dan Risiko Terhadap Penularan COVID-19

PSBB kembali dilonggarkan setelah sebelumnya diperketat akibat terjadi lonjakan kasus infeksi. Seperti apa risiko pelonggaran PSBB?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Mencegah Megaklaster COVID-19 dengan Menghindari 3C

Satu peristiwa superspreader bisa menjadi megaklaster penularan COVID-19 sedangkan satu kasus lainnya bisa jadi tidak menularkan sama sekali.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 9 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kepadatan kota memengaruhi covid-19

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Vaksin COVID-19 bukan satu-satunya solusi

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit