Teknik Pernapasan Tertentu Bisa Meredakan Gejala Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sesak napas adalah salah satu gejala umum dari COVID-19. Beberapa orang yang mengalami gejala ini akhirnya mencoba teknik pernapasan tertentu untuk meringankan gejala tersebut, termasuk J.K. Rowling, penulis buku Harry Potter.

Apakah teknik pernapasan yang disebut oleh penulis kondang ini ampuh untuk tangani coronavirus (COVID-19)?

Adakah teknik pernapasan tertentu untuk ringankan gejala COVID-19?

pH tubuh asam sesak napas dada sakit

Baru-baru ini, J.K. Rowling menyebut bahwa ada teknik pernapasan yang membantu dirinya mengatasi gejala sesak napas yang mirip dengan coronavirus (COVID-19). 

Dalam twitnya, terdapat video dokter dari rumah sakit Inggris ini, digambarkan bagaimana mengontrol batuk. Mulai dari menarik napas dalam-dalam hingga menutupi mulut dan batuk agar terkontrol.

Lantas, apakah teknik pernapasan yang disebut J.K. Rowling ini dapat membantu meringankan gejala coronavirus?

Teknik pernapasan yang diperagakan oleh dr. Sarfaraz Munshi dari Queen’s Hospital di Inggris tersebut memang dapat membantu meringankan sesak napas yang sering dialami pasien coronavirus. 

Akan tetapi, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa metode ini dapat digunakan oleh pasien yang terinfeksi virus yang menyerang sistem pernapasan ini. 

Mengontrol batuk yang disebut oleh J.K. Rowling ini ternyata cukup membantu bagi penderita cystic fibrosis. Cystic fibrosis adalah kelainan bawaan yang menyebabkan kerusakan parah pada paru-paru, sistem pencernaan, dan organ lain di dalam tubuh bayi.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Begini, sel paru manusia memproduksi lendir yang lengket sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh. Apabila paru-paru terinfeksi virus, terutama SARS-CoV-2 atau influenza, produksi lendir akan meningkat. Lendir dari paru ini bertujuan untuk ‘menjebak’ patogen yang menyerang.

Umumnya, lendir ini akan dikeluarkan dari paru layaknya rambut kecil yang bergerak di saluran udara. Maka itu, ketika seseorang batuk, lendir dapat dikeluarkan sebagai dahak atau ditelan.

Paru bisa menghasilkan lendir yang cukup banyak sehingga sulit untuk bernapas. Hal ini dikarenakan lendir menghalangi saluran udara kecil yang mencegah tubuh mendapatkan oksigen dari paru-paru. 

Pada penyakit seperti cystic fibrosis, batuk yang terkontrol memang dapat membantu menghilangkan lendir dan memudahkan Anda bernapas.

Namun, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa teknik pernapasan ini bisa digunakan untuk meringankan gejala coronavirus

Bolehkah metode ini tetap dicoba?

teknik pernapasan untuk tidur

Sebenarnya, mencoba teknik pernapasan yang direkomendasikan oleh dokter dari Inggris tersebut untuk meringankan gejala coronavirus bukan menjadi masalah. Namun, ada risiko yang cukup mengkhawatirkan karena metode itu dapat secara tidak sengaja menyebarkan virus. 

Pada saat Anda batuk, tubuh akan memproduksi tetesan lendir dari paru yang dapat menyebar atau percikan dari mulut. Akibatnya, percikan air yang cukup banyak dan berisi virus dapat menginfeksi orang lain. 

Sebagai contoh, ketika seseorang batuk, secara tidak langsung percikan dari mulut yang menempel di tangan bisa berpindah ke benda atau permukaan yang disentuh orang lain.

Sesak napas Anda mungkin membaik, tetapi ketika dilakukan di dekat orang lain, risiko penyebarannya akan cukup besar. 

Pada saat seorang pasien positif COVID-19 dirawat di rumah sakit, mereka akan ditempatkan di ruangan khusus yang udaranya tidak tercemar. Pasien juga diwajibkan memakai masker untuk menyerap percikan air saat batuk, sedangkan petugas medis memakai alat pelindung diri (APD).

Begini teknik pernapasan untuk meringankan sesak napas

tanda hipertensi paru

Sebenarnya, teknik pernapasan yang disebut-sebut dapat meringankan gejala coronavirus tersebut lebih cocok digunakan oleh orang yang sering mengalami sesak napas akibat infeksi paru

Penderita cystic fibrosis, bronkitis kronis, dan asma kronis mungkin sudah sering melakukan metode ini ketika mereka kesulitan bernapas. 

Apabila Anda mengalami kondisi yang sama dan ingin menggunakan teknik ini, sebaiknya tidak dilakukan di dekat orang lain dan lebih baik menggunakan masker.

Selain itu, jangan lupa untuk melakukan berbagai cara mencegah penularan COVID-19, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak. 

Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko penyebaran karena percikan air dari tenggorokan dapat bertahan di permukaan. 

Mengontrol batuk

Salah satu teknik pernapasan yang dapat meringankan sesak napas seperti gejala coronavirus adalah dengan mengontrol batuk. 

Dilansir dari Baltimore Washington Medical Center, sering batuk dapat menghambat saluran udara dan membuat Anda kesulitan bernapas. 

Apabila Anda mencoba metode mengontrol batuk, paru akan kembali longgar dan membawa lendir melalui saluran udara tanpa menghambat apa pun. Metode ini juga dipercaya dapat menghemat oksigen, terlebih saat Anda batuk. Berikut langkah-langkahnya.

  1. Duduk di kursi dengan kaki menempel di lantai dan condongkan tubuh ke depan
  2. Lipat lengan di atas perut dan tarik napas perlahan melalui hidung
  3. Condongkan tubuh sedikit ke depan dan buang napas sambil menekan lengan ke perut
  4. Buka sedikit mulut dan batuk dua sampai tiga kali
  5. Usahakan untuk membuat batuk tidak terlalu panjang
  6. Tarik napas dengan lembut melalui hidung
  7. Istirahat

Droplet Pasien COVID-19 Bertahan di Udara, WHO Imbau Petugas Medis

Mengatur pernapasan

Selain mencoba mengontrol batuk ketika merasa sesak napas, ada teknik pernapasan lainnya yang mungkin dapat meringankan gejala yang mirip coronavirus, yaitu mengatur napas

Fokus utama dari mengatur napas adalah bernapas dengan lembut dengan usaha yang sedikit. 

  1. Duduk dengan posisi yang nyaman
  2. Meletakkan tangan di tulang rusuk atau atas perut
  3. Cobalah rasakan pergerakan tulang rusuk atau perut naik dan turun saat bernapas
  4. Tarik napas lewat hidung dan keluarkan dari mulut
  5. Usahakan bernapas dengan ritme yang pelan dan nyaman

Walaupun kedua teknik pernapasan di atas mungkin dapat membantu meringankan sesak napas yang mirip dengan gejala coronavirus, usahakan untuk memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020