Bagaimana Jika Sekolah Dibuka Selama Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 3 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI berencana memulai kembali kegiatan belajar mengajar pada pertengahan Juli 2020. Sekolah yang dinilai aman dari COVID-19 nantinya akan dibuka dengan tetap menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna mencegah penularan penyakit.

Namun, gagasan ini mendapat kritik dan penolakan karena pembukaan sekolah pada masa pandemi dinilai terlalu berisiko. Sekalipun dengan penerapan protokol kesehatan, sekolah tetap berpotensi menjadi tempat penyebaran COVID-19 kepada siswa, tenaga pengajar, hingga orangtua.

Jika begitu, amankah membuka sekolah saat pandemi COVID-19 masih berlangsung?

Rencana pembukaan sekolah selama masa pandemi

sekolah dibuka covid-19

Awal Mei lalu, Kemendikbud menyatakan telah mengkaji rencana pembukaan sekolah selama masa pandemi COVID-19. Namun sebelum itu, Gugus Tugas COVID-19 Pusat dan Daerah setempat pertama-tama akan menentukan dahulu wilayah mana yang termasuk zona hijau dan zona merah.

Sekolah di zona hijau kemungkinan dapat dibuka kembali dengan menerapkan protokol pencegahan COVID-19 bagi siswa dan tenaga kependidikan. Sementara itu, sekolah di zona merah akan tetap melakukan kegiatan belajar dan mengajar (KBM) dari rumah.

Hamid Muhammad selaku Plt. Dirjen PAUD-Pendidikan Tinggi Menengah Kemendikbud menyatakan ada tiga skenario sistem belajar yang mungkin dilakukan selama pandemi COVID-19. Ketiganya bergantung pada kapan pandemi berakhir.

Skenario pertama, apabila pandemi berakhir pada bulan Juni, kegiatan belajar dan mengajar bisa kembali dimulai pada tahun ajaran baru 2020/2021 di bulan Juli 2020. Sekolah-sekolah dapat kembali dibuka dengan menerapkan beberapa penyesuaian.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

271,339

Terkonfirmasi

199,403

Sembuh

10,308

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Skenario kedua, jika pandemi selesai pada akhir Agustus atau September, siswa akan tetap belajar dari rumah hingga pertengahan semester ganjil 2020/2021. Kemendikbud akan mengkaji kembali kapan waktu yang lebih aman untuk membuka sekolah-sekolah.

Skenario ketiga diterapkan bila pandemi COVID-19 baru berakhir di akhir tahun. Pada skenario terburuk ini, Hamid menyatakan kegiatan belajar dan mengajar akan tetap dilaksanakan di rumah sepanjang semester ganjil 2020.

Risiko bila sekolah dibuka selama pandemi COVID-19

anak tidak mau sekolah, cara membujuk anak agar mau pergi ke sekolah

Selama beberapa pekan terakhir, negara-negara yang angka kasusnya sudah menurun mulai membuka kembali sekolah PAUD hingga tingkat lanjut. Keputusan ini juga diambil karena penularan COVID-19 pada anak-anak dinilai tidak separah orang dewasa.

Meski demikian, penurunan kasus tidak membuat suatu negara sudah pasti aman dari COVID-19. Laporan dari Shenzhen, Tiongkok, juga menyatakan bahwa penularan pada anak ternyata sama parah dan cepatnya dengan orang dewasa.

Di Korea Selatan dan Finlandia, kasus baru kembali muncul setelah beberapa sekolah dibuka kembali. Tanpa adanya vaksin COVID-19, pembukaan sekolah saat berlangsungnya pandemi justru berisiko membuat lebih banyak orang (terutama anak-anak) tertular.

Apabila sekolah dibuka, anak-anak tidak hanya berisiko tertular dari teman sekelasnya. Mereka juga dapat tertular dari orang tanpa gejala (OTG) di dalam kendaraan umum atau sebelum masuk lingkungan sekolah.

Anak-anak yang positif COVID-19 bisa saja menyebarkan virus pada teman sebangku, teman sekelompok, atau gurunya tanpa sadar. Selain penularan langsung, mereka juga berisiko menyebarkan virus lewat barang yang disentuhnya tanpa mencuci tangan.

Anak yang tertular kemudian dapat menulari orangtuanya di rumah. Orangtuanya lalu menulari orang lain di sekitarnya, begitu seterusnya hingga wilayah yang tadinya aman malah mengalami peningkatan kasus.

Bila ada wilayah yang ingin membuka kembali sekolahnya, pemerintah setempat dan pihak sekolah harus sangat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jika tidak, KBM yang bertujuan baik malah bisa membuka pintu penyebaran penyakit.

Anjuran IDAI tentang pembukaan sekolah selama pandemi

Anak laki-laki cuci tangan pakai sabun

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menerbitkan anjuran tentang pembukaan sekolah selama masa pandemi COVID-19.

Anjuran ini dibuat dengan melihat jumlah kasus yang masih bertambah, melonggarnya PSBB, serta sulitnya menerapkan pencegahan infeksi pada anak-anak.

Berikut anjuran yang diberikan oleh IDAI:

  1. IDAI mendukung dan mengapresiasi kebijakan Kemendikbud untuk menjadikan rumah sebagai sekolah dan melibatkan peran aktif siswa, guru, dan orangtua dalam proses KBM.
  2. IDAI menganjurkan agar KBM tetap dilaksanakan melalui skema pembelajaran jarak jauh (PJJ), baik secara dalam jaringan maupun luar jaringan, menggunakan modul belajar dari rumah yang sudah disediakan Kemendikbud.
  3. Dengan mempertimbangkan antisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai Desember 2020. Pembukaan sekolah-sekolah dapat dipertimbangkan jika jumlah kasus telah menurun.
  4. Apabila syarat pembukaan sekolah sudah terpenuhi, IDAI mengimbau semua pihak agar bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI dalam mengontrol epidemi, menyiapkan sistem layanan kesehatan, serta mendeteksi dan melacak kasus baru.
  5. IDAI menyarankan agar pemerintah dan pihak swasta melakukan pemeriksaan rt-PCR secara masif (30 kali lipat dari jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19) termasuk pada anak-anak.

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Ada banyak kendala bila sekolah dibuka selama masa pandemi COVID-19. Sebagai contoh, tidak mudah mengajarkan anak memakai masker untuk mencegah penularan.

Mereka mungkin tidak betah memakai maskernya atau sering menyentuhnya saat bermain. Padahal, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko penularan.

Orang-orang dewasa di sekolah mungkin juga kesulitan karena harus membersihkan hampir semua barang dengan desinfektan setiap hari. Hal ini lama-kelamaan dapat berdampak pada kegiatan belajar dan mengajar.

Selain itu, kasus COVID-19 di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Laju penularannya pun kian meningkat dan belum menunjukkan penurunan. Bila dipaksakan, pembukaan sekolah justru membuat anak-anak lebih berisiko terjangkit COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit