Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), kelompok yang paling berisiko parah akibat COVID-19 adalah mereka yang menderita penyakit autoimun. Salah satu penyakit autoimun yang ‘mencuri’ perhatian para dokter adalah lupus. Lantas, apa yang membuat risiko COVID-19 pada penderita lupus perlu diwaspadai?

Risiko COVID-19 pada penderita lupus

komplikasi lupus

Penyakit lupus merupakan kondisi autoimun ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringannya sendiri. Hal ini lah yang membuat penderita lupus memiliki risiko mengembangkan gejala yang lebih parah ketika terkena COVID-19. 

Begini, penyakit COVID-19 adalah penyakit baru dan sejauh ini masih banyak hal yang membuat para ahli belum mengetahui seluk beluk penyakit pernapasan ini. Mulai dari gejala hingga efek COVID-19 terhadap tubuh setiap individu masih diteliti lebih lanjut. 

Berdasarkan informasi yang ada, lansia dan orang dari segala usia dengan riwayat penyakit kronis dianggap berisiko lebih tinggi mengalami gejala yang lebih parah ketika terjangkit.

Sementara itu, lupus adalah penyakit yang menyerang berbagai jaringan dan memiliki pengobatan yang cukup bervariasi. Sebagai contoh, penyandang lupus menggunakan obat imunosupresan, yaitu obat yang digunakan untuk menekan dan mengurangi fungsi sistem kekebalan tubuh.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,473

Terkonfirmasi

7,308

Sembuh

1,613

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Obat imunosupresan dipakai untuk mengatasi gejala lupus yang mereka alami. Di sisi lain, obat jenis seperti ini juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi virus

Terlebih lagi jika penderita lupus berusia di atas 65 tahun, menjalani rawat jalan, atau memiliki kondisi medis lainnya yang terkait dengan lupus. 

Maka dari itu, beberapa faktor di atas membuat risiko penderita lupus terhadap COVID-19 menjadi lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. 

Kategori tingkat risiko COVID-19 pada penderita lupus

Dilansir dari Lupus UK, ada panduan yang bisa dilakukan oleh penderita lupus terkait tingkat risiko COVID-19. Hal ini bertujuan membantu para dokter dan perawat memasukkan kategori tingkat risiko pasien yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Kelompok berisiko tinggi atau sangat rentan

neozep forte

Normalnya, kelompok penderita lupus yang mempunyai risiko COVID-19 tinggi memiliki skor 3 atau lebih. Mereka memerlukan instruksi untuk melindungi diri sendiri hingga menjalani pengobatan khusus yang berasal dari anjuran dokter. 

Di Eropa sendiri, panduan ini telah diterapkan dengan mengirimkan instruksi kepada setiap penderita lupus untuk melindungi diri dengan karantina kurang lebih selama 12 minggu. Bagi mereka yang termasuk menerima perawatan di bawah ini disarankan untuk melakukan anjuran tersebut untuk mengurangi paparan risiko COVID-19. 

  • menggunakan steroid dosis tinggi satu kali sehari atau lebih selama empat minggu
  • menjalani pengobatan siklofosfamid dalam enam bulan terakhir
  • baru-baru ini terserang penyakit autoimun lainnya
  • memakai steroid dosis yang lebih rendah dengan tambahan obat imunosupresif lain
  • menggunakan dua obat imunosupresif dan berusia di atas 70 tahun 
  • memiliki penyakit lainnya, seperti diabetes, penyakit jantung, hingga penyakit paru

COVID-19

Satu hal yang perlu diingat bahwa obat imunosupresif yang dipakai oleh penyandang lupus yang rentan terhadap infeksi virus COVID-19 tidak termasuk hydroxychloroquine. 

2. Kelompok berisiko sedang atau rentan

obat penyebab lupus

Bagi penderita lupus yang termasuk kelompok dengna risiko COVID-19 sedang atau rentan dianjurkan untuk melakukan karantina mandiri di rumah. Selain itu, mereka juga diminta untuk menjalani physical distancing, termasuk dengan anggota keluarga di rumah. 

Biasanya kelompok penderita lupus yang berisiko sedang memiliki penyakit yang terkontrol dengan baik. Lupus yang mereka derita baru-baru ini tidak kambuh dan tidak mempunyai masalah kesehatan lainnya. 

Pengobatan yang penyandang lupus di kelompok ini pun menggunakan satu jenis obat imunosupresif atau hydroxychloroquine dalam 12 bulan sebelumnya. Maka dari itu, upaya mencegah COVID-19, seperti physical distancing dan rutin mencuci tangan perlu diterapkan pada siapa saja, termasuk penderita lupus. 

3. Kelompok berisiko rendah 

Systemic Lupus Erythematosus (SLE)

Terakhir, penderita lupus yang termasuk dalam kelompok risiko COVID-19 yang cukup rendah memiliki skor 1 dan direkomendasikan untuk tetap menjaga jarak dengan orang lain. 

Normalnya, mereka yang masuk dalam kategori ini menderita lupus tanpa riwayat penyakit lainnya. Mereka pun dapat mengendalikan penyakit yang mereka alami dengan baik tanpa gejala yang begitu parah dan pengobatan yang digunakan hanya berupa hydroxychloroquine. 

Beberapa saran di atas tidak benar-benar ditujukan khusus untuk penderita lupus dengan risiko COVID-19 lebih tinggi. Panduan ini berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, sehingga akan ada kemungkinan berubah sewaktu-waktu. 

Walaupun demikian, tidak ada salahnya untuk melakukan isolasi mandiri di rumah dan upaya pencegahan lainnya demi mengurangi risiko penyebaran virus.

Obat Chloroquine Sebagai Salah Satu Opsi Pengobatan untuk COVID-19

Gejala COVID-19 yang perlu diwaspadai penderita lupus

gejala novel coronavirus

Pada umumnya gejala umum COVID-19 mirip dengan penyakit lainnya, seperti flu, yaitu demam tinggi, sesak napas, dan batuk kering.

Ketiga gejala di atas bisa disertai dengan rasa lelah yang tentu akan sulit dibedakan dengan penyakit lainnya. Maka dari itu, penderita lupus perlu memperhatikan gejala yang berhubungan dengan infeksi COVID-19 agar mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.

Selain itu, penderita lupus juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu, sehingga risiko mengembangkan gejala COVID-19 yang parah pun lebih tinggi. Mulai dari kesulitan bernapas, nyeri dada, hingga perubahan pada warna wajah dan bibir menjadi pertanda seseorang membutuhkan perawatan medis darurat. 

Tips meringankan gejala COVID-19 pada penderita lupus

istirahat santai

Sebenarnya sejauh ini belum ada obat yang benar-benar bertujuan khusus untuk mengobati COVID-19. Namu, para ahli telah mencoba berbagai obat yang dapat digunakan untuk meringankan gejala COVID-19, seperti;

  • konsumsi acetaminophen untuk mengurangi nyeri dan demam
  • memenuhi kebutuhan cairan dan makan makanan yang bergizi 
  • beristirahat dan tidak terlalu banyak melakukan kegiatan yang membuat cepat lelah

Ketiga cara di atas biasanya cukup efektif untuk meredakan gejala yang mirip dengan COVID-19. Lantas, bagaimana dengan pengobatan yang dijalani oleh penderita lupus yang memiliki risiko COVID-19 lebih tinggi?

Para penderita lupus sangat disarankan untuk tidak mengubah aturan obat-obatan lupus yang telah dianjurkan oleh dokter. Penting untuk diingat jika lupus kembali aktif, akan meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi yang lebih parah.

Cara Perawatan di Rumah Jika Mengalami Gejala Ringan COVID-19

Apabila Anda khawatir mengalami gejala yang mirip dengan COVID-19, sangat direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mengetahui obat apa saja yang aman untuk dikonsumsi.

Sebagai contoh, laporan awal dari Clinical Infectious Disease menunjukkan bahwa klorokuin dan hydroxychloroquine sebagai pengobatan umum lupus dapat digunakan untuk meringankan gejala COVID-19.

Walaupun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait risiko COVID-19 pada penderita lupus beserta obat-obatan yang dikonsumsi.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020