Mengurangi Risiko Penularan COVID-19 saat Berlibur, Bagaimana Caranya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 19 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hampir setahun sejak wabah COVID-19 merebak, kita harus membatasi seluruh aktivitas di luar rumah. Berbagai agenda mulai dari mudik, liburan keluarga, perjalanan bisnis, maupun wisata akhir tahun mesti ditunda karena berisiko menularkan COVID-19.

Kondisi epidemi COVID-19 masih berlangsung, angka kejadian masih terus meningkat, dan risiko penularan kasus masih ada di sekitar kita. Bisakah kita tetap menahan diri untuk tidak bepergian karena risiko penularan COVID-19 masih ada? Tindakan pencegahan apa saja yang bisa mengurangi risiko jika memaksakan diri untuk tetap pergi berlibur?

Risiko penularan COVID-19 saat perjalanan liburan

tes asam nukleat covid-19

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan bahwa perjalanan liburan meningkatkan risiko tertular dan menyebarkan COVID-19. “Tetap di rumah adalah cara terbaik untuk melindungi diri sendiri dan orang lain,” tulis CDC dalam situsnya (13/11).

Pemerintah Indonesia pun melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 juga telah memberi imbauan terkait protokol COVID-19 pada masa liburan. Mereka mengimbau masyarakat agar tidak datang ke destinasi wisata karena berpotensi menciptakan kerumunan.

Masyarakat diimbau agar memanfaatkan libur panjang tanpa meningkatkan risiko penularan COVID-19. Harus bisa lebih cerdas dan memilah dengan baik destinasi liburan, jangan berkerumun, dan mendatangi tempat dengan potensi kerumunan,” kata juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam jumpa pers pada Kamis (12/11).

Dalam rangkaian liburan, berada di perjalanan merupakan situasi ketika risiko penularan COVID-19 cukup tinggi khususnya mereka yang menggunakan kendaraan umum. Penggunaan kereta, pesawat, maupun bis memiliki risiko penularan virus cukup tinggi. 

Bukan saja ketika berada di kendaraan umum, namun saat proses menunggu waktu keberangkatan pun meningkatkan risiko kontak dengan sumber penularan. Sebab, banyaknya orang berada di satu tempat dan waktu yang sama, terlebih jika ruang tertutup dengan ventilasi yang tak memadai, akan meningkatkan risiko penularan. Banyak studi mengatakan ruang tertutup dengan ventilasi buruk meningkatkan risiko penularan melalui udara (airborne). 

Di dalam pesawat, CDC mengatakan penyaringan dan sirkulasi udara bekerja dengan baik sehingga memperkecil risiko penularan COVID-19 di dalam kabin“Bagaimana pun, sulit untuk menjaga jarak pada penerbangan yang ramai dan terbang selama berjam-jam. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19,” tulis CDC.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Mengurangi risiko penularan

masker gelombang kedua covid-19

Risiko penularan COVID-19 tidak bisa dihilangkan selama sumber penularannya masih ada, karena itu cara terbaik adalah menghindari keramaian dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Tapi jika Anda tetap memutuskan pergi berlibur, ikuti beberapa tips berikut ini untuk mengurangi risiko penularan COVID-19. 

  1. Sebelum memutuskan tempat liburan, perhatikan baik-baik jumlah kasus penularan di wilayah tujuan, pastikan lokasi tersebut bukan zona merah.
  2. Lakukan tes COVID-19 sebelum berangkat dan pastikan semua anggota rombongan telah dinyatakan negatif. 
  3. Kenakan masker dan sering mencuci tangan, serta pastikan Anda membawa sabun atau hand sanitizer ke manapun Anda pergi.
  4. Usahakan hanya berkumpul dengan kelompok Anda dan menjaga jarak dengan orang dari luar kelompok. 
  5. Jika memungkinkan, pilihlah bepergian dengan kendaraan pribadi. Mengemudi kendaraan pribadi memungkinkan Anda mengontrol interaksi dengan orang asing. 

Untuk mengurangi risiko penularan COVID-19, ada pilihan lain yakni dengan mengadakan pesta di rumah dengan keluarga kecil. CDC mengatakan bahwa mengadakan pesta natal atau tahun baru hanya bersama anggota keluarga serumah adalah cara menghabiskan waktu libur dengan risiko penularan paling kecil. 

Mengundang anggota keluarga dari rumah yang berbeda akan meningkatkan risiko dibanding hanya dengan orang serumah.

Mereka yang dilarang bepergian atau disarankan tetap di rumah

Berikut kelompok yang diharuskan dan diimbau untuk tidak melakukan perjalanan, di antaranya:

  1. Mereka yang dinyatakan konfirmasi positif COVID-19. Perlu diingat bahwa mereka yang positif COVID-19 meski tanpa gejala apapun tetap bisa menularkan virus ke orang lain. Jadi tetap lakukan isolasi selama 2 minggu hinga hasil tes menunjukkan Anda telah terbebas dari virus SARS-CoV-2. 
  2. Mereka yang memiliki gejala COVID-19 (batuk, demam, diare, kehilangan penciuman, atau sesak napas) sebaiknya tetap berada di rumah.
  3. Mereka yang pernah berkontak dengan orang positif COVID-19 dalam waktu 14 hari ke belakang. 
  4. Mereka yang sedang menunggu hasil tes COVID-19.

Selain itu, bagi mereka yang rentan terhadap risiko gejala berat COVID-19 seperti lansia atau memiliki penyakit penyerta (komorbid) diharapkan untuk tidak melakukan perjalanan liburan dan menjauhi sumber-sumber potensi penularan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit