Rasa Aman Palsu, Alasan Mengapa Banyak Orang Berkerumun Saat Pandemi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kendati bahaya penularan COVID-19 masih tinggi, antusiasme masyarakat ternyata tidak berkurang untuk menyambut pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Rupanya, hal ini terjadi karena banyak orang mengalami rasa aman palsu selama pandemi.

Perasaan aman palsu dapat memperburuk pandemi karena kewaspadaan masyarakat terhadap COVID-19 kian menurun. Padahal, risiko penularan masih sama seperti ketika kasus-kasus pertama diumumkan. Lantas, dari mana datangnya rasa aman palsu dan bagaimana cara mengatasinya?

Apa itu rasa aman palsu?

Pemerintah kini mulai melonggarkan PSBB di beberapa kota dan bersiap memulai new normal. Selama masa perubahan ini, kita tidak hanya menghadapi musuh berupa virus SARS-CoV-2, tapi juga timbulnya perasaan aman palsu (false sense of security).

Pada minggu-minggu pertama diumumkannya kasus COVID-19, masyarakat dengan cepat terbawa arus kepanikan. Anda sendiri mungkin pernah menyaksikan orang berbondong-bondong memborong masker, hand sanitizer, hingga kebutuhan pokok.

Karantina mandiri pun mulai diberlakukan. Sekolah-sekolah diliburkan, pegawai kantor mulai bekerja di rumah, dan tempat umum ditutup sementara. Anjuran kesehatan berisi langkah pencegahan COVID-19 digaungkan di mana-mana.

Masyarakat kini sudah akrab dengan physical distancing, kebiasaan mencuci tangan, dan bahkan membawa perlengkapan sendiri. Pemakaian masker pun menjadi semakin umum. Dari pejalan kaki, pedagang, hingga anak-anak, Anda dapat menemukan orang yang memakai masker di mana-mana.

Namun, ada satu kekurangan masker yang tidak dapat dipungkiri. Kampanye masker selama pandemi membuat masyarakat mengalami rasa aman palsu. Penggunaan masker membuat banyak orang merasa terlindung dari penularan COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

291,182

Terkonfirmasi

218,487

Sembuh

10,856

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Ini sebabnya Anda melihat orang-orang berkerumun di jalan, mal-mal kian ramai, dan CFD dibanjiri oleh pengunjung. Masyarakat kini berani berkerumun karena merasa terlindungi dengan memakai masker.

Padahal, memakai masker saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran COVID-19. World Health Organization (WHO) sendiri ikut buka suara dalam pedoman penggunaan masker yang diterbitkannya pada 5 Juni 2020.

Sebelumnya, WHO tidak menyarankan penggunaan masker pada masyarakat awam yang sehat. Masker awalnya hanya direkomendasikan bagi orang sakit dan mereka yang berkontak dengan pasien COVID-19.

Kini, setiap orang disarankan untuk menggunakan masker. Orang yang sakit sebaiknya tetap di rumah, sedangkan orang yang mengalami gejala COVID-19 bisa berkonsultasi dengan dokter dan menjalani perawatan yang diperlukan.

Kendati masker berperan penting, WHO tetap mengingatkan bahwa pencegahan utama tetaplah dengan physical distancing dan disiplin menjaga kebersihan. Masker adalah langkah yang akan melengkapi segala upaya pencegahan.

New Normal Akibat Pandemi COVID-19 dan Efek Psikologisnya

Mengapa rasa aman palsu selama pandemi berbahaya?

iritasi karena masker

Risiko penularan COVID-19 masih sama besar seperti beberapa pekan lalu. Alih-alih menurun, angka positif harian pun pernah menembus 1.000 kasus. Tanpa jaga jarak dan disiplin mencuci tangan, Anda tetap bisa tertular sekalipun menggunakan masker.

Masih banyak pula yang belum memakai masker dengan benar. Masker kadang tidak dipakai sampai menutup hidung atau dilepas sembarangan. Padahal, tindakan ini dapat mengurangi keampuhan masker dalam mencegah penularan.

Selain itu, tidak semua masker bekerja dengan keampuhan yang sama. Bila menilai keampuhannya, maka masker terbaik untuk mencegah COVID-19 adalah masker N95. Namun, masker ini tidak bisa digunakan sehari-hari karena menimbulkan sesak.

Masker yang digunakan masyarakat umum adalah masker kain. Masker jenis ini cukup ampuh untuk perlindungan sehari-hari, tapi penggunanya harus tahu cara mencuci dan menyimpan masker dengan tepat untuk mencegah kontaminasi.

Masker memang memiliki peran penting dalam perang melawan pandemi COVID-19. Bahkan, para ahli menyebutkan bahwa pemakaian masker bisa mencegah gelombang kedua COVID-19 yang dikhawatirkan muncul dalam beberapa bulan mendatang.

face shield covid-19

Meski begitu, jangan sampai hal ini membuat Anda terjebak dalam rasa aman palsu selama pandemi. Pastikan Anda tetap melakukan upaya pencegahan untuk melindungi diri maupun orang-orang terdekat dari risiko penularan.

Cara terbaik untuk menghindari rasa aman palsu selama pandemi adalah dengan selalu waspada. Walaupun new normal sudah di depan mata, angka positif dan risiko penularan belum banyak berubah.

Ketika bepergian ke luar rumah, pastikan Anda selalu menjaga jarak dengan orang lain. Ikuti cara memakai masker yang tepat, serta jaga kebersihan diri Anda dengan mencuci tangan dan membersihkan barang yang sering digunakan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
gerakan tangan abc untuk kesehatan anak di tengah adaptasi kebiasaan baru

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit