Studi: Pasien Bisa Positif COVID-19 Meski Tak Ada Gejala dan Lolos Karantina

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Peneliti Jerman mengungkap screening berbasis tanda dan gejala tidak efektif dalam mendeteksi infeksi COVID-19. Ada beberapa pasien yang positif Covid-19 meski tak  menunjukkan ada gejala. 

Dalam penelitian New England Journal of Medicine, para peneliti Jerman membeberkan satu fakta bahwa bisa saja orang yang tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi COVID-19 seperti batuk dan demam tetap positif terinfeksi. 

Laporan tersebut berdasarkan pengecekan pada 126 orang warga negara Jerman yang saat itu baru saja dievakuasi dari Wuhan ke Frankfurt, Jerman.

Dua warga Jerman positif COVID-19 meski tak menunjukkan ada gejala

positif covid-19 meski tak ada gejalaPada awal Februari, Sabtu (1/2) pemerintah Jerman menjemput 126 warganya dari Wuhan, Tiongkok. Mereka dievakuasi dan diterbangkan ke Frankfurt setelah lolos melewati rangkaian screening atau pemeriksaan.

Dari 126 orang tersebut, dua orang yang tampak sehat dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 setelah melewati masa karantina selama dua minggu dan tak menunjukkan ada gejala apapun. 

Dua orang ini diketahui positif terinfeksi COVID-19 meski tak menunjukkan ada gejala setelah semua orang yang dievakuasi melakukan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan laboratorium ini dilakukan dengan metode Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Semua menjalani tes, tak terkecuali mereka yang bebas dari gejala sakit seperti demam, kelelahan, sakit tenggorokan, batuk, pilek, sakit otot, dan diare. 

RT-PCR adalah pemeriksaan untuk menganalisis ada tidaknya virus dalam sampel yang diteliti, seperti analisis ekspresi gen, penentuan jumlah virus, deteksi organisme yang mengalami mutasi genetik. Pemeriksaan ini diketahui memerlukan peralatan dan reagen yang mahal serta pemahaman teknik yang benar untuk hasil yang akurat.

Untuk diketahui, pemeriksaan sampel dengan metode RT-PCR ini tidak dilakukan pada 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan. 238 Orang ini hanya melewati masa inkubasi dikarantina selama 14 hari. 

Selama masa karantina di Natuna itu, secara berkala dilakukan pengecekan tanda dan gejala pada 238 orang ini dan kemudian dinyatakan bersih dari COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

207,203

Terkonfirmasi

147,510

Sembuh

8,456

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Bagaimana dua orang terdeteksi positif COVID-19?

wni terinfeksi coronavirus singapura

Selama penerbangan itu, ada 10 penumpang yang diisolasi. Mereka diisolasi di tiga ruangan berbeda, rinciannya sebagai berikut :

  • Enam orang diisolasi karena menunjukkan gejala infeksi COVID-19, yakni batuk, demam, dan sesak nafas. 
  • Dua orang merupakan kerabat dari enam suspect di atas.
  • Dua orang diisolasi karena diketahui telah melakukan kontak dengan pasien positif COVID-19 selama berada di Tiongkok, meski tak menunjukkan ada gejala.

Sesampainya di Frankfurt, 10 penumpang itu langsung dikirim ke Rumah Sakit Universitas Frankfurt. Mereka melakukan serangkaian pemeriksaan dengan swab throat (mengambil sampel mukosa tenggorokan) dan sputum (dahak). Kemudian dilakukan uji lab RT-PCR dari sampel tersebut dan seluruh hasilnya dinyatakan negatif COVID-19.

Sedangkan 116 penumpang lainnya dibawa ke lokasi evaluasi kesehatan di Bandara Frankfurt. Mereka juga melakukan rangkaian pemeriksaan yakni pengukuran suhu tubuh, termasuk wawancara kesehatan seputar gejala diare, batuk, nyeri otot, dan kelelahan.

Satu orang mengalami demam tinggi hingga 39 derajat celcius, dia langsung dipisahkan dari rombongan dan dibawa ke rumah sakit. Tapi kemudian hasil pengecekan sampel mukosa tenggorokan dan dahak menunjukkan negatif COVID-19.

115 Orang yang tersisa dipindahkan ke markas militer untuk melalui masa karantina selama 14 hari. 

mencegah tertular coronavirus

Setelah melewati beberapa tahap pengecekan kesehatan dalam masa karantina, mereka tetap ditawari untuk melakukan pengecekan sampel mukosa tenggorokan untuk diuji laboratorium (RT-PCR). Semua setuju kecuali satu orang.

Dari hasil pengecekan, dua orang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 meski tak menunjukkan ada gejala. Terhadap dua orang ini dilakukan pengecekan ulang dan hasil yang keluar tetap menandakan positif terpapar.

Padahal dua orang ini dalam keadaan sehat dan telah melewati satu minggu masa karantina. Dua orang pasien positif COVID-19 tersebut adalah perempuan berusia 44 tahun dan laki-laki berusia 58 tahun. Berita baiknya adalah kedua orang ini tidak menjadi sakit, setelah dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pengobatan, salah satu dari mereka hanya mengalami ruam-ruam samar. 

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Berpotensi menginfeksi orang lain

Fakta lainnya adalah sampel mukosa tenggorokan yang diteliti juga tumbuh di piringan laboratorium menunjukkan potensi untuk menginfeksi orang lain.

Dari hasil tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Sebastian Hoehl dari Rumah Sakit Universitas Frankfurt menekankan bahwa proses screening berbasis tanda dan gejala tidak efektif dan mendeteksi COVID-19.

“Kami menemukan bahwa pelepasan virus yang berpotensi menular bisa terjadi pada orang yang tidak demam dan tidak menunjukkan gejala, atau hanya tanda-tanda kecil infeksi,” tulis laporan tersebut.

Dalam laporan tersebut, dr. Sebastian dan kawan-kawan mengingatkan para ahli tetap waspada terhadap penularan asimptomatik COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 Berbahaya yang Datang Diam-diam

Happy hypoxia adalah gejala COVID-19 yang baru-baru ini diketahui dan dinyatakan sebagai salah satu gejala berat yang membahayakan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 7 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Pria 33 tahun yang tertular COVID-19 dua kali setelah dinyatakan sembuh pada akhir Maret. Apakah kekebalan terhadap infeksi kedua tidak terbentuk?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Amerika Izinkan Perawatan COVID-19 dengan Plasma Darah Pasien Sembuh, Apa itu?

Plasma darah pasien sembuh dipercaya mampu menjadi terapi untuk menangani pasien COVID-19. Meski begitu keefektifannya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Melawan COVID-19: Jangan Ada Lagi Tenaga Medis yang Gugur

Penyebaran COVID-19 belum bisa dihentikan, ratusan nyawa tidak berhasil diselamatkan, termasuk para dokter dan tenaga medis yang melawan di garis depan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 2 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jenis masker

Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit
uji coba vaksin covid-19

Perkembangan Terakhir Sejumlah Calon Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 7 menit
anak covid-19 peradangan multisistem

Sindrom Peradangan Multisistem, Gejala COVID-19 Berbahaya pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit