Amerika Izinkan Perawatan COVID-19 dengan Plasma Darah Pasien Sembuh, Apa itu?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Otoritas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) mengizinkan penggunaan plasma darah untuk penanganan COVID-19. Plasma darah pasien sembuh dipercaya mampu menjadi terapi untuk menangani pasien COVID-19. Meski begitu, klaim khasiat ini belum dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian yang mumpuni untuk bisa digunakan secara luas. 

Bagaimana plasma darah bisa menyembuhkan pasien COVID-19 dan kenapa FDA memberi izin penggunaanya? Simak ulasan berikut.

Penggunaan plasma darah untuk menangani pasien COVID-19

penggunaan plasma darah untuk pengobatan pasien COVID-19

Banyak kandidat obat, vaksin, dan suplemen herbal yang masih dalam proses penelitian demi melawan pandemi COVID-19. Salah satu di antaranya adalah terapi plasma darah atau plasma konvalesen.

Terapi plasma atau plasma konvalesen ini menggunakan plasma darah yang mengandung antibodi dari pasien COVID-19 yang sudah sembuh. 

Saat seseorang sembuh dari COVID-19, sistem kekebalan tubuh biasanya akan membentuk antibodi yang mampu melawan penyakit tersebut. Antibodi adalah protein yang terbentuk secara spesifik dari infeksi yang pernah dialami seseorang. Dia diproduksi dalam jumlah besar oleh sistem kekebalan tubuh manusia untuk mengikat dan melawan virus yang menginfeksi tubuh. Antibodi itu terkandung di dalam plasma darah.

Dalam konsep vaksinasi, tubuh seseorang yang diimunisasi akan dirangsang untuk menumbuhkan antibodi. Sedangkan plasma konvalesen  ini dilakukan dengan mentransfusi antibodi orang lain ke dalam tubuh pasien sehingga menawarkan perlindungan langsung pada penerimanya, namun bersifat sementara. 

Dokter dapat mengambil plasma darah dari pasien sembuh COVID-19, menguji kandungannya, dan kemudian memurnikannya untuk menyaring antibodi tersebut. Kemudian terapi plasma bisa dilakukan dengan menyuntikkannya ke pasien COVID-19 yang sakit. 

Menyuntikkan antibodi dari pasien sembuh COVID-19 dipercaya dapat membantu melawan virus pada masa awal infeksi sampai kekebalan tubuh pasien terinfeksi mampu memproduksi antibodi sendiri.

Metode terapi plasma darah seperti ini pernah berhasil digunakan dalam menangani penyakit akibat virus Ebola. Umumnya terapi ini berjalan dengan baik, tapi salah satu efek sampingnya adalah bisa menimbulkan alergi yang parah.

Meski demikian belum ada bukti kuat plasma darah dapat mengobati pasien terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

282,724

Terkonfirmasi

210,437

Sembuh

10,601

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Sebuah studi yang dirilis pada Kamis (13/8) menyebutkan, pasien dengan gejala parah yang menerima transfusi plasma terbukti memperlihatkan adanya kemajuan kondisi kesehatan. Namun studi ini bukan uji klinis formal, masih memiliki keterbatasan ilmiah, dan belum ditinjau rekan sejawat.

Peneliti masih harus membuktikan kalau pemberian plasma darah lah yang membuat pasien peserta uji tersebut membaik. 

Saat ini banyak negara sedang melakukan penelitian terapi plasma darah untuk penanganan pasien COVID-19, termasuk Indonesia. Tapi belum ada penelitian yang rampung dan mampu membuktikan keefektifan terapi ini.

Di Indonesia, penelitian terkait terapi plasma darah dilakukan oleh RSPAD Gatot Soebroto, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dan Biofarma Bandung.

Amerika Serikat sudah mengizinkan penggunaan terapi plasma untuk pasien virus corona

pasien covid-19 gejala parah mendapatkan terapi plasma darah

FDA telah memberikan izin untuk menggunakan plasma guna merawat pasien COVID-19 di Amerika. Walaupun bukti ilmiah keefektifan terapi ini masih belum terbukti, tapi izin tersebut tetap dikeluarkan atas dasar otorisasi penggunaan darurat karena wabah. 

Metode terapi plasma darah ini kemudian diterapkan pada 70.000 orang pasien di AS yang memiliki gejala COVID-19 parah

FDA mengatakan uji coba awal menunjukkan penggunaan terapi ini aman, meskipun diperlukan lebih banyak pembuktian efektivitasnya.

Presiden Amerika, Donald Trump mengatakan terapi ini merupakan metode yang ampuh dan meminta warga Amerika yang telah pulih dari COVID-19 untuk segera mendonor. 

Kriteria yang diizinkan otoritas AS untuk mendonorkan plasma darahnya, yakni:

  1. Orang yang telah pulih sepenuhnya dari COVID-19, dibuktikan dengan lembar diagnosa yang menyatakan pernah positif COVID-19.
  2. Sudah karantina 2 pekan setelah dinyatakan sembuh. 
  3. Minimal berusia 17 tahun dengan berat badan 110lbs (50kg).
  4. Dalam kondisi sehat dan negatif dari penyakit menular lainnya.

COVID-19

Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa menggunakan plasma yang sembuh masih merupakan pengobatan eksperimental. 

Mereka menambahkan bahwa risiko dan efek samping mulai dari yang ringan hingga yang parah harus dipertimbangkan.

“Ada sejumlah uji klinis yang dilakukan di seluruh dunia yang mengamati plasma yang sembuh dibandingkan dengan standar pengobatan. Hanya beberapa dari mereka yang benar-benar melaporkan hasil sementara dan saat ini, kualitas bukti masih sangat rendah,” kata Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, Senin (24/8).

WHO sebelumnya mengatakan bahwa terapi plasma COVID-19 dapat dilakukan secara eksperimental melalui produksi lokal asalkan kriteria etika dan keamanan dipenuhi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit