Mengenal Physical dan Social Distancing yang Dapat Turunkan Risiko COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 kini telah menginfeksi lebih dari satu juta kasus secara global dan menelan puluhan ribu korban jiwa. Di Indonesia sendiri, sampai saat ini sudah ada lebih dari 2000 kasus dan ratusan pasien yang meninggal dunia. Sebagai salah satu upaya mengurangi risiko penularan COVID-19, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menyarankan untuk menjalani physical dan social distancing

Lantas, apa itu physical distancing dan social distancing? Bagaimana jarak sosial ini dianggap dapat menurunkan risiko penularan virus SARS-CoV-2?

Apa itu physical distancing dan social distancing?

Physical distancing merupakan upaya pencegahan dengan melakukan jarak fisik dari orang lain untuk mengurangi risiko menularnya infeksi COVID-19. Sedangkan social distancing adalah tindakan membatasi kegiatan sosial seperti membatalkan acara kelompok hingga menutup fasilitas umum untuk menghindari keramaian. 

Jika diterapkan untuk mengurangi penularan COVID-19, metode ini digunakan untuk memperlambat infeksi virus di antara populasi yang berisiko tinggi. Selain itu, jarak sosial disebut-sebut juga untuk mengurangi beban tenaga kesehatan. 

Seperti yang sudah diketahui, penyebaran COVID-19 sendiri dapat terjadi melalui percikan yang keluar dari mulut ketika bersin, batuk, atau berbicara. Meski tidak sama seperti airborne yang bisa menyebar lewat udara, percikan juga dapat bergerak dengan jarak lebih dari 100 cm.

Ini artinya, virus bisa menyebar ke orang yang berada dekat dengan orang yang terinfeksi atau bisa juga melalui sentuhan dengan benda atau permukaan yang telah terpapar dengan virus.

Oleh karena itu, orang sehat atau orang yang berpotensi terinfeksi virus minimal perlu menjaga jarak sekitar dua meter atau panjang tubuh orang dewasa. Physical distancing juga menyarankan seseorang untuk tidak menyentuh orang lain, termasuk berjabat tangan

Hal ini dikarenakan sentuhan fisik merupakan cara penularan dan penyebaran termudah, terutama dalam kasus COVID-19 ini. Untuk mewujudkannya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi kegiatan sosial yang membuat banyak orang berkumpul dalam satu tempat.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,851

Terkonfirmasi

6,057

Sembuh

1,473

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Memang, metode ini tidak dapat mencegah 100% penularan, tetapi bisa sangat membantu mencegah penyebaran virus jika Anda benar-benar mengikuti pencegahan ini sesuai dengan yang dianjurkan.

Apabila jumlah kasus yang setiap harinya terus meningkat tidak dijaga, tentu akan semakin mempersulit penanganan di rumah sakit karena pasien yang terus berdatangan. 

Akibatnya, jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan yang tidak sebanding dengan pasien inilah yang dapat meningkatkan angka kematian.

Maka itu, pemerintah di hampir sebagian besar negara yang terinfeksi menyarankan tidak bepergian untuk sementara waktu kecuali urusan mendesak. 

Mengapa physical dan social distancing efektif mengurangi penularan virus?

menghadapi-pandemi-covid-19

Apabila dilakukan dengan benar, physical dan social distancing dalam skala besar dapat memperlambat rantai penularan virus dari orang ke orang. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virusnya setidaknya lima hari sebelum mereka menunjukkan gejala. 

Oleh karena itu, jarak sosial dapat membantu membatasi penularan, terutama dari orang-orang yang belum sadar bahwa mereka terinfeksi virus. 

Metode ini sebenarnya pernah digunakan ketika wabah flu Spanyol 1918 dan dinilai cukup efektif di beberapa negara yang terinfeksi. 

Sebuah studi PNAS mengungkapkan bahwa kota-kota yang melakukan physical distancing saat awal pandemi memiliki tingkat kematian yang cukup rendah. Jarak sosial yang dilakukan saat flu Spanyol ini berupa menutup sekolah dan melarang acara di tempat umum. 

Menurut Tom Inglesby, direktur pusat di John Hopkins Center for Health Security, konsep ini sebenarnya sudah diterapkan pada dua kota di Tiongkok. 

Kota Guanghzhou merupakan salah satu kota yang melakukan pengendalian penyakit sejak awal wabah COVID-19. Alhasil, kota tersebut memiliki jumlah pasien rawat inap yang jauh lebih rendah ketika puncak wabah terjadi. 

Sementara itu, physical distancing juga satu dari sedikit cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan infeksi virus. Hal ini dikarenakan vaksin COVID-19 masih dalam pengembangan dan belum ada obat untuk memperlambat infeksi virus. 

Oleh karena itu, melakukan karantina terhadap diri sendiri untuk mempertimbangkan risiko penularan dan penyebaran infeksi virus ternyata cukup penting. 

Setidaknya, Anda dapat melindungi diri sendiri dan anggota keluarga di rumah meskipun tidak semua orang melakukannya. 

Tindakan lainnya untuk mengurangi penyebaran penyakit

mencuci tangan cara mencegah cacar air

Social distancing perlu dilakukan oleh semua orang, terutama bagi Anda yang sedang dalam keadaan kurang sehat dan lansia dengan penyakit penyerta, seperti diabetes dan jantung. 

Membatasi jarak sosial pun perlu diikuti dengan menjaga kesehatan dan kebersihan diri sendiri. Terdengar mudah dan sederhana, tetapi mencuci tangan dan mengikuti etika batuk ternyata cukup efektif memperlambat penyebaran infeksi SARS-CoV-2. 

Jika sedang sakit, gunakanlah masker yang bisa menutupi area hidung dan mulut untuk menghalangi menyebarnya percikan ke area luar. Anda juga bisa menggunakan masker untuk berjaga-jaga, terutama ketika Anda terpaksa harus bepergian dan bertemu dengan banyak orang.

Masker bedah biasa sudah memberikan perlindungan yang cukup, jika tidak tersedia ganti dengan kain seperti syal.

Sementara itu, tindakan kesehatan masyarakat lainnya yang bisa digunakan untuk membatasi penyebaran infeksi adalah isolasi dan karantina

Isolasi merupakan metode yang digunakan oleh seseorang ketika mereka sakit dan memiliki infeksi menular. Setidaknya, orang sakit akan dipisahkan dengan orang sehat. 

Isolasi diri sendiri sebenarnya dapat dilakukan, tetapi alangkah baiknya ketika Anda mengalami sejumlah gejala berkaitan dengan COVID-19 segera memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. 

Pada beberapa besar kasus, isolasi dilakukan secara sukarela. Namun, hampir sebagian pemerintah mewajibkan isolasi pada orang sakit untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Tips Merawat Hubungan Selama Social Distancing dengan Pasangan

Sementara itu, orang yang menjalani karantina juga akan terpisah dari orang lain. Walaupun tidak menunjukkan gejala, kemungkinan penularan masih dapat terjadi. 

Tindakan karantina lainnya adalah membatasi orang yang datang dan pergi ke daerah tertentu. Negara mempunyai kekuatan agar proses karantina berlangsung lancar di kota masing-masing. Baik isolasi dan karantina setidaknya dapat dilakukan untuk memperlambat penyebaran penyakit menular. 

Physical dan social distancing tidak akan efektif jika Anda tidak menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri sebagai upaya mengurangi risiko penularan dan penyebaran COVID-19. Tetap mendapatkan tidur yang cukup, memenuhi kebutuhan nutrisi dan rutin berolahraga di rumah setidaknya menjaga daya tahan tubuh menghadapi wabah penyakit.

powered by Typeform

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 22/05/2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 21/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
penyakit kawasaki covid-19 anak

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020