Gejala Lyme Disease dan COVID-19 Hampir Mirip, Apa Perbedaannya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Belum usai memerangi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, dilaporkan bahwa pasien yang terkena lyme disease kembali meningkat di Amerika Serikat. Disebut-sebut memiliki gejala hampir sama, apa perbedaan COVID-19 dan lyme disease?

Apa itu lyme disease?

gigitan kuku lyme disease

Lyme disease adalah penyakit infeksi bakteri yang ditularkan melalui gigitan kutu. Biasanya, jenis kutu yang membawa penyakit ini adalah kutu kaki hitam atau juga dikenal sebagai kutu rusa.

Terdapat empat jenis bakteri yang menyebabkan penyakit lyme disease, yaitu Borrelia burgdorferi, Borrelia afzelii, Borrelia garinii, dan Borrelia mayonii. Jenis bakteri yang paling umum menyerang pasien di negara-negara Asia adalah Borrelia afzelii dan Borrelia garinii.

Anda tidak akan langsung tertular penyakit ini hanya karena kulit kontak dengan kutu selama beberapa menit. Pada kebanyakan kasus, kutu harus menempel selama 36 sampai 48 jam untuk menularkan penyakitnya.

Setelah menggigit Anda, bakteri akan menembus kulit dan masuk ke aliran darah. Semakin lama kutu menempel, maka semakin banyak bakteri yang akan masuk ke dalam tubuh. Karena itulah untuk mencegahnya, Anda harus segera menyingkirkan kutu yang menempel di kulit.

Sebenarnya di Indonesia sendiri lyme disease merupakan kasus yang jarang muncul. Penyakit ini paling sering terjadi di Amerika Serikat, dengan rata-rata 300.000 kasus setiap tahunnya.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

63,749

Terkonfirmasi

29,105

Sembuh

3,171

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Perbedaan gejala COVID-19 dan lyme disease

gejala lyme disease dan covid-19
Sumber: Lyme Disease Clinic

Mengingat COVID-19 dan lyme disease sedang banyak menyerang tubuh belakangan ini, banyak yang dibuat bingung akan gejala penyakit apa yang sebetulnya mereka rasakan.

Jika dibandingkan, pasien yang menderita COVID-19 dan lyme disease memang mengalami beberapa gejala yang sama. Berikut adalah kesamaan gejala keduanya.

Gejala lyme disease:

  • demam
  • nyeri tubuh
  • tubuh menggigil
  • sakit kepala
  • kaku leher
  • kelelahan

Gejala COVID-19:

  • demam
  • tubuh menggigil
  • pusing
  • nyeri tubuh
  • sakit tenggorokan
  • berkurangnya kemampuan penciuman dan perasa

Namun, perlu diketahui bahwa gejala-gejala di atas kebanyakan adalah gejala nonspesifik, yang artinya dapat disebabkan oleh sejumlah penyakit yang lain seperti flu biasa.

Gejala yang muncul pada lyme disease juga gejala yang normal dirasakan oleh para pasien penderita penyakit akibat infeksi dari gigitan serangga.

Bagaimana cara membedakan keduanya?

sesak napas

Selain gejala nonspesifik, setiap penyakit juga memiliki gejala spesifik yang menjadi ciri khas kemunculannya. Tentu ada perbedaan besar dari gejala lyme disease dan gejala COVID-19.

Tanda yang paling menonjol dari lyme disease adalah munculnya ruam merah setelah tiga hari sejak Anda terinfeksi. Ruam yang disebut erythema migrans (EM) itu dapat meluas selama beberapa hari dan dapat menyebar hingga sekitar 30 sentimeter.

Ada beberapa orang yang mengalami ruam di lebih dari satu tempat pada tubuh, tapi ada juga yang malah tidak mengalami ruam sama sekali.

Setelah beberapa lama, gejalanya bisa berkembang dan memunculkan kondisi seperti facial palsy, di mana otot pada salah satu sisi wajah mengalami kelumpuhan dan membuat wajah tampak melorot.

Sedangkan pada COVID-19, mengingat penyakit ini menyerang paru-paru, tanda yang akan dirasakan oleh pasien adalah sesak dada atau batuk-batuk yang membuat pasien sulit bernapas. Penyakit ini juga dapat memperburuk kondisi orang-orang yang sebelumnya telah memiliki kondisi seperti asma dan pneumonia.

Memang, terkadang lyme disease juga ditandai dengan sesak napas. Namun, hal ini sangat jarang ditemukan pada pasien.

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Selain gejala, perbedaaan besar antara lyme disease dan COVID-19 juga terdapat pada penularan, pencegahan, dan penangannya.

Jika lyme disease adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Borrelia dari gigitan kutu, COVID-19 terjadi karena infeksi virus SARS-CoV-2 yang ditularkan melalui tetesan air liur yang keluar saat sedang berbicara, batuk, atau bersin.

Pencegahan infeksi COVID-19 bisa dengan menjaga jarak fisik dari orang lain sejauh 1,8 meter, rajin mencuci tangan, dan gunakan masker bila perlu.

Lain lagi dengan lyme disease, Anda harus menggunakan pakaian yang tertutup serta menggunakan salep anti serangga sebelum menghabiskan waktu di daerah yang lebat dengan rumput-rumput tinggi.

Terlepas dari penyakit apapun yang menyerang Anda, teruslah menjaga kesehatan dengan melakukan segala langkah pencegahan serta lebih waspada terhadap diri sendiri. Bila mulai merasakan gejala yang sekiranya telah mengganggu, lebih baik segera periksakan ke dokter.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tinggal Sendiri Selama Pandemi, Apa yang Harus Diperhatikan?

Hidup sendirian tidak selamanya menyenangkan. Ada kalanya tinggal sendiri bisa menimbulkan rasa kesepian yang parah, terutama selama pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/07/2020 . 6 menit baca

Rasa Aman Palsu, Alasan Mengapa Banyak Orang Berkerumun Saat Pandemi

Meski bahaya penularan COVID-19 masih tinggi, banyak orang sudah mulai berkerumun. Ternyata, ini disebabkan oleh rasa aman palsu saat pandemi. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 30/06/2020 . 4 menit baca

Olahraga di Luar Rumah Saat Pandemi? Perhatikan Hal-hal Ini

Olahraga yang dilakukan di luar rumah bisa bermanfaat bagi kebugaran dan kesehatan mental. Tapi apakah aman olahraga di luar rumah saat pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 30/06/2020 . 4 menit baca

Jamur Cordyceps Militaris Bantu Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

Jamur Cordyceps militaris, sebagai suplemen yang memiliki potensi untuk meningkatkan sistem imun tubuh dalam melawan virus penyebab penyakit.

Ditulis oleh: Maria Amanda
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

teledermatologi saat pandemi

Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 04/07/2020 . 6 menit baca
covid-19 menular lewat ac

Benarkah Ruangan Ber-AC Tingkatkan Risiko Penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca

Menghadapi Masa Transisi dari Terapi Langsung ke Terapi Online Selama Pandemi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 5 menit baca
pelacakan kontak covid-19

Pelacakan Kontak Dapat Menekan Angka Penyebaran Kasus COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/07/2020 . 5 menit baca