Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), persebaran orang dari kota ke desa tidak bisa betul-betul dikendalikan. Hal ini membuat penularan COVID-19 rawan terjadi di desa.

Masyarakat desa harus siaga menerima kedatangan orang-orang dari kota yang berpotensi menjadi sumber penularan. Padahal di beberapa tempat, sosialisasi penerapan hidup bersih sehat di tengah pandemi saja masih sulit untuk dilakukan.

Cara masyarakat di desa menangkal penularan COVID-19

penularan COVID-19 di desa

Salah satu cerita sulitnya sosialisasi kepada masyarakat di desa diceritakan oleh Nisa, bidan dari organisasi Médecins Sans Frontières (disingkat MSF dan berarti Dokter Lintas Batas) yang bertugas di sebuah puskesmas di Pandeglang, Banten.

Menurutnya, mengajak masyarakat di desa terpencil untuk menyesuaikan hidup untuk mencegah penularan COVID-19 memang menjadi tantangan tersendiri untuk para petugas medis.

“Ini adalah hal yang baru, aturan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Jadi mereka belum mengerti,” kata Nisa dalam webinar bersama relawan MSF Indonesia pada Kamis (14/5).

Di puskesmas tempatnya bekerja, imbauan untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak harus disampaikan berulang-ulang. Menurutnya, untuk mengubah perilaku seseorang itu bukan perihal mudah. 

Nisa mengaku masa awal-awal sosialisasi sangat sulit. Misalnya, kursi tunggu puskesmas yang sudah diberi tanda silang masih tetap diduduki atau kursi plastik yang disusun berjarak akan berpindah dalam waktu cepat.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,473

Terkonfirmasi

7,308

Sembuh

1,613

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

“Itu terjadi tidak sadar ya, karena kan sifatnya kekeluargaan. Mereka maunya dekat-dekat sambil mengobrol,” kata Nisa. 

Belum lagi urusan mengenakan masker yang sebelum pandemi COVID-19 menyerang hampir tidak pernah dilakukan oleh orang-orang di desa. Pengap atau susah bernapas menjadi alasan utama mereka sulit terbiasa dengan masker. 

Namun, Nisa sadar betul, untuk menanamkan kebiasaan yang asing pada masyarakat butuh kesabaran. Jadi, ia harus punya cara sendiri untuk bisa saling mengerti dengan pasien dan masyarakat desa yang ia tangani. 

“Misalnya ibu hamil ya, dia itu tidak pakai masker saja sudah merasa sesak. Jadi saya kasih waktu untuk dia buka masker lalu kami jaga jarak sebentar, dia ambil napas dan tidak bicara dulu,” kata Nisa menuturkan strateginya. 

“Pokoknya kita dulu yang mengikuti pasien dulu, cari cara supaya dia nyaman. Jadi pelan-pelan diberi pengertiannya,” lanjut Nisa.

Selama satu bulan penerapan imbauan tersebut, masyarakat sudah mulai terbiasa menggunakan masker, jaga jarak, dan cuci tangan sebelum dan sesudah pelayanan di puskesmas. Nisa berharap kebiasaan ini terus terbangun sehingga masyarakat desa bisa mencegah penularan COVID-19 terjadi di wilayahnya.

Arus mudik dan risiko penularan COVID-19 di kampung halaman

penularan COVID-19 di desa

Sejauh ini penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB semakin longgar dan berisiko di beberapa wilayah di Indonesia terutama di perkotaan.

Dari pelanggaran physical distancing secara terang-terangan seperti kerumunan di depan gerai Mcdonald’s Sarinah, Jakarta yang sempat viral.

Selama pandemi, polisi melaporkan telah membubarkan kerumunan lebih dari satu juta kali. Hal ini disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Ahmad Ramadan dalam keterangan pers Senin (18/5).

Arus mudik saat pandemi pun sulit dikendalikan karena dibukanya izin operasi transportasi darat, laut, dan udara.  Desa menghadapi gelombang pemudik yang berisiko membawa sumber penularan COVID-19.

Pencegahan penularan COVID-19 di desa harus semakin ketat dilakukan.

“Para tenaga medis hanya bisa menjalankan protokol respons pandemi dengan sebaik-baiknya dan berharap tidak terjadi skenario terburuk (dari arus mudik),” ujar Nisa.

Mudik Saat Pandemi COVID-19 Berbahaya, Ini Sebabnya

Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, para kader dan tim gugus COVID-19 sudah bersiap dan memasang strategi menghadapi pemudik.

Tim tingkat desa/kelurahan akan mendata setiap orang yang tiba dari luar kota maupun dari luar negeri. Mereka melakukan pemeriksaan rapid test dan diawasi untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. 

“Untuk sosialisasi pada masyarakat, kami memanfaatkan masjid untuk sarana sosialisasi berulang setiap hari. Saat ini, masyarakat sudah mulai mengerti,” kata Adi Teguh Ardiansyah, petugas Dinas Kesehatan Dompu yang juga tim gugus COVID-19.

Dikabarkan juga bahwa beberapa tim relawan Dompu mulai melakukan edukasi pencegahan penularan COVID-19 ke pelosok-pelosok desa. Desa-desa yang tidak memiliki banyak akses teknologi informasi.

Imbauan terus dilakukan agar masyarakat yang tinggal di kota tidak perlu pulang kampung ke desa mengingat potensi penularan COVID-19 di kampung halaman.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020