Penularan Coronavirus Dapat Terjadi Melalui Feses Manusia, Benarkah?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Novel coronavirus atau 2019-nCoV disebut-sebut dapat ditularkan melalui feses manusia. Benarkah kabar ini?  Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui jawabannya.

Bisakah penularan coronavirus melalui feses manusia?

Novel coronavirus (2019-nCoV) kini sudah menginfeksi lebih dari 40.000 kasus dan menelan lebih dari 900 korban jiwa. Dengan meningkatnya angka kematian dan jumlah kasus infeksi membuat masyarakat semakin waspada, terutama mengenai proses penularannya. 

Menurut sejumlah laporan dari media, sel coronavirus ditemukan pada feses manusia. Temuan ini tentu mengejutkan masyarakat awam. Tidak banyak yang menyangka bahwa penularan coronavirus dapat terjadi melalui feses manusia. 

Pasalnya, para ahli mengira bahwa coronavirus hanya dapat menular melalui tetesan pernapasan, yaitu ketika penderitanya batuk dan bersin lalu orang lain menghirupnya. Kondisi ini dapat terjadi ketika Anda berada dekat dengan penderita sekitar 1-2 meter. Lalu, bagaimana dengan penularan melalui feses?

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,851

Terkonfirmasi

6,057

Sembuh

1,473

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Menurut penelitian dari Journal of the American Medical Association (JAMA), terdapat 14 dari 138 pasien di rumah sakit Wuhan yang mengalami diare dan mual sebagai gejala awal. Umumnya, gejala coronavirus diawali dengan demam tinggi dan sulit bernapas. 

penyebab novel coronavirus

Selain itu, pasien pertama di Amerika Serikat yang positif 2019-nCoV pun mengalami diare selama dua hari berturut-turut sebelum akhirnya dikonfirmasi mengidap penyakit ini. Walaupun beberapa kasus diare sebagai gejala coronavirus, beberapa kasus ini juga ditemukan di Tiongkok. 

Menurut William Keevil, seorang profesor kesehatan lingkungan dari University of Southampton, kasus ini sebenarnya cukup mirip dengan penyakit SARS. 

Hal ini dikarenakan penularan SARS dari feses pun pernah terjadi tahun 2003 di Hong Kong. Penularan ini dapat terjadi karena adanya kepulan udara hangat yang berasal dari toilet. Akibatnya, udara tersebut mencemari beberapa apartemen dan gedung sekitar yang diangkut oleh angin. 

Oleh karena itu, para ahli tidak terlalu kaget dan mengatakan bahwa penularan novel coronavirus melalui feses manusia sangat mungkin terjadi. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan pernyataan tersebut. 

Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian berapa lama virus mereka masih belum mengetahui dengan pasti berapa lama virus baru ini dapat bertahan di luar tubuh manusia

Ketahanan novel coronavirus di luar tubuh manusia

novel coronavirus menyebabkan pneumonia

Penularan coronavirus melalui feses manusia dapat menjadi tantangan baru bagi para ahli. Apabila temuan ini benar-benar terbukti, salah satu tempat yang sangat berisiko mengalami penyebaran tertinggi adalah rumah sakit. 

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan dan kesehatan sebagai salah satu upaya mengurangi risiko penyebaran coronavirus

Dengan adanya temuan sel virus pada feses manusia membuat kebanyakan orang bertanya tentang ketahanan novel coronavirus di luar tubuh manusia. 

Menurut dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K), dokter spesialis paru di MRCCC Siloam Semanggi, virus perlu berada di benda hidup agar bertahan. 

Apabila tidak ada sel hidup dan virus sudah keluar dari tubuh makhluk hidup, selnya akan mati. Maka itu, coronavirus membutuhkan inang makhluk hidup agar dapat bertahan. 

novel coronavirus 2019 adalah virus corona

Bahkan, ketika berada di udara bebas dan menempel pada permukaan benda mati, kemungkinan sel virus dapat bertahan sekitar 15 menit. Akan tetapi, ketika berada di udara bebas, terkena sinar matahari, dan kebetulan saat itu suhu udaranya tinggi, kemungkinan virus mati dengan cepat sangat besar.

Penularan novel coronavirus disinyalir dapat terjadi ketika berada dalam jarak 1 meter atau 6 kaki. Pada jarak tersebut kemungkinan tetesan pernapasan dapat langsung menyembur ke orang lain. Maka itu, di rumah sakit diberikan jarak aman dari satu tempat tidur ke tempat tidur lainnya sepanjang 2 meter. 

Apabila dibandingkan dengan penularan coronavirus melalui feses manusia, feses masih memiliki sel hidup di dalamnya. Akan tetapi, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah penularan coronavirus melalui feses manusia berisiko atau tidak. 

Jenis coronavirus lainnya juga pernah ditemukan di feses manusia

coronavirus tanpa gejala

Temuan bahwa penularan coronavirus dapat terjadi melalui feses manusia sebenarnya bukan pertama kali terjadi, sehingga para ahli tidak terlalu terkejut mengenai hal ini. 

Menurut penelitian dari Journal of clinical virology, coronavirus yang menjangkiti tubuh manusia jarang terjadi pada pasien dengan gangguan sistem pencernaan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kasus ini dapat terjadi pada siapapun. 

Coronavirus merupakan bibit penyakit manusia yang umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Pada pasien dengan riwayat penyakit pernapasan, virus ini dapat diidentifikasi 13% dari sampel pernapasan. 

Di sisi lain hampir 25% human coronavirus jenis NI6312 dan hampir 50% pasien dengan HCoV-HKU1 mempunyai riwayat gangguan sistem pencernaan. Maka itu, temuan ini menunjukkan bahwa coronavirus dapat berkembang pada saluran pencernaan. 

wni terinfeksi coronavirus singapura

Di dalam penelitian tersebut terlihat bahwa coronavirus cukup jarang ditemukan pada sampel feses pasien yang menderita gangguan sistem pencernaan. Namun, HCoV-HKU1 ditemui pada sampel feses anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan pencernaan dan sebagian besar menderita gangguan pernapasan juga. 

Selain itu, tidak ditemukan jenis coronavirus lainnya pada sampel feses pasien yang sudah dikumpulkan, seperti HCoV-NL63, HCoV-229E, dan HCoV-OC43. 

Penularan coronavirus, baik 2019-nCoV maupun jenis lainnya memang jarang terjadi ditemukan pada feses manusia. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk tetap menjaga kebersihan, kesehatan, dan daya tahan tubuh untuk mengurangi risiko penyebaran wabah ini.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Waspadai Risiko Penularan COVID-19 di Kendaraan Umum

Bagi pengguna moda transportasi umum serta taksi dan ojek online, simak panduan berikut agar terhindar penularan COVID-19 di kendaraan umum.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang menguji obat herbal COVID-19 dari dua tanaman yakni daun ketepeng dan benalu. Sejauh mana perkembangannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 18/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
minum alkohol membunuh coronavirus

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020