Begini Proses Penanganan Pasien Suspek Coronavirus di Indonesia

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Menurut WHO, hingga tanggal 2 Februari 2020 total kasus Novel coronavirus yang sudah terkonfirmasi di seluruh dunia mencapai 14.557 orang. Meski belum ada kasus Novel coronavirus yang positif di Indonesia, pemerintah beserta para petugas kesehatan terus melakukan upaya penuh dalam menambahkan pengawasan pada pasien yang menjadi suspek coronavirus.

Alur penanganan yang dilakukan pada pasien suspek Novel coronavirus

WHO sudah menetapkan penyebaran Novel coronavirus sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada tanggal 30 Januari 2020.

Menurut dokter spesialis paru di RSUI dan RSU Persahabatan, Dr. Raden Rara Diah Handayani, Sp.P(K), Novel coronavirus memiliki risiko kematian yang rendah, yaitu hanya sebanyak dua persen. Bahkan, jika dibandingkan dengan kasus flu burung yang sempat merebak beberapa tahun lalu, persentase kematian dari Novel coronavirus masih lebih kecil.

Namun, meningkatnya jumlah kasus secara signifikan menunjukkan bahwa Novel coronavirus dapat menyebar dengan sangat cepat. Karena itulah seluruh masyarakat di dunia harus mulai waspada dengan virus ini. WHO mengimbau seluruh negara agar segera melakukan pengawasan kesehatan terutama pada pasien suspek coronavirus.

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan data, analisis, dan interpretasi yang dilakukan terus menerus secara sistematis dari pasien yang diperlukan untuk merencanakan tindakan selanjutnya.

Dalam hal ini, pasien suspek coronavirus akan diawasi dengan ketat tanpa diobati sampai ada perubahan dalam hasil tesnya. Langkah ini juga digunakan untuk menemukan tanda-tanda penyakit yang pernah diidap pasien kambuh kembali.

Dikutip dari Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia, pengawasan dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

  • Melakukan deteksi dini pada pasien yang masih dalam pengawasan atau pemantauan 2019-nCoV di pintu masuk negara
  • Mendeteksi adanya penularan dari manusia ke manusia
  • Mengidentifikasi faktor risiko 2019-nCoV
  • Mengidentifikasi daerah yang berisiko terhadap infeksi 2019-nCoV

Tidak hanya pasien yang sudah menjadi suspek coronavirus, pengawasan juga dilakukan pada orang-orang yang sering berhubungan atau masuk ke dalam kelompok berisiko. Untuk hal ini, pasien dibagi menjadi beberapa klasifikasi.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Pasien dalam pengawasan atau pasien suspek Novel coronavirus

Pasien yang termasuk dalam kelompok ini merupakan pasien yang mengalami demam 38℃ atau lebih. Pasien juga mengalami gejala terkait dengan masalah pernapasan seperti batuk, sakit tenggorokan, dan sesak napas, baik jika kondisi tersebut membutuhkan rawat inap maupun tidak.

Namun, Dr. Diah menambahkan bahwa pasien baru dianggap suspek jika memiliki riwayat perjalanan ke China atau negara lainnya yang tinggi akan risiko infeksi Novel coronavirus dalam kurun waktu 14 hari sebelum gejala muncul. Kondisi lainnya adalah pasien merupakan petugas kesehatan yang bekerja pada lingkungan dengan pasien yang memiliki penyakit pernapasan akut berat.

Pasien dalam pemantauan atau orang yang memiliki kontak erat

Pasien yang termasuk dalam golongan ini mengalami gejala atau riwayat demam tanpa diikuti dengan gejala pneumonia atau masalah pernapasan. Pasien juga memiliki riwayat perjalanan ke China atau negara berisiko tinggi dalam waktu 14 hari tanpa pernah terpapar pada virus.

Orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien suspek coronavirus juga akan dipantau, beberapa yang termasuk ke dalamnya adalah petugas kesehatan yang bekerja di tempat perawatan khusus, orang yang merawat, menunggu, atau berada di satu ruangan yang sama dengan pasien, dan orang yang serumah dengan pasien.

Kasus probable

Pasien yang tergolong pada kasus ini adalah pasien yang hasil tes coronavirusnya tidak dapat disimpulkan atau hasil assay pan-coronavirusnya positif.

Kasus tegak

Pasien yang masuk dalam golongan ini adalah pasien yang sudah benar-benar terinfeksi 2019-nCoV dari hasil tes laboratoriumnya.

Bagaimana jika pasien suspek Novel coronavirus sudah dikonfirmasi?

Dr. Diah menjelaskan, orang-orang yang baru pulang dari China atau negara lain yang sudah terinfeksi termasuk ke dalam kategori yang berisiko. Bila orang-orang tersebut mengalami gejala batuk dan pilek yang masih ringan, mereka masih bisa diawasi di rumah.

Isolasi di rumah dipantau oleh petugas kesehatan yang berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk memperhatikan kemungkinan memburuknya gejala. Biasanya, petugas akan melakukan kunjungan secara berkala, tapi terkadang petugas juga dapat melakukan pemantauan melalui telepon.

Jika keadaan pasien malah semakin memburuk, pasien harus segera memeriksakan diri pada fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Nantinya, pasien suspek coronavirus akan mendapatkan terapi untuk menangani gejala disertai dukungan lainnya seperti multivitamin dan makanan bernutrisi yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan virus. Setelah gejalanya hilang atau hasilnya negatif, pasien boleh dipulangkan.

Lain halnya jika pasien suspek coronavirus benar-benar dikonfirmasi terkena virus 2019-nCoV, petugas akan menghubungi pusat KLB (Kejadian Luar Biasa), lalu membawa pasien ke rumah sakit rujukan untuk diperiksa. Mengantar pasien juga harus menggunakan ambulans bersama petugas yang memakai alat perlindungan diri.

Kejadian tersebut akan dilaporkan ke dinas kesehatan dan pasien harus menjalani penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui besar masalah pada KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. Dinas kesehatan juga melakukan pengawasan pada orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien yang sudah dikonfirmasi dan tidak lagi menjadi suspek coronavirus.

Saat merawat pasien, para petugas harus memakai masker N95, pelindung mata, gaun lengan panjang, dan sarung tangan. Idealnya, peralatan yang digunakan pada pasien Novel coronavirus hanya sekali pakai atau memang khusus untuk satu pasien. Bila ingin digunakan pada lebih dari satu pasien, peralatan harus dibersihkan dan didisinfeksi.

Sejauh ini, belum ada kasus coronavirus yang sudah dikonfirmasi di Indonesia. Meski begitu, banyak yang ragu dengan hal ini karena negara-negara lain sudah terkena, bahkan ada pasien yang meninggal dunia. Menanggapi keraguan ini, Dr. Diah meminta masyarakat tidak perlu khawatir.

“Kalau misalnya ada, Menteri Kesehatan pasti akan mengumumkan,” tegasnya.

Berbicara tentang rumah sakit rujukan, Dr. Diah menambahkan sudah banyak rumah sakit di Indonesia yang bisa didatangi ketika ada pasien suspek coronavirus. Beberapa di antaranya adalah RSPI Dr. Sulianti Saroso di Jakarta, RSU Dr. Hasan Sadikin di Bandung, dan RSU Dr. M. Jamil di Padang.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Waspadai Risiko Penularan COVID-19 di Kendaraan Umum

Bagi pengguna moda transportasi umum serta taksi dan ojek online, simak panduan berikut agar terhindar penularan COVID-19 di kendaraan umum.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang menguji obat herbal COVID-19 dari dua tanaman yakni daun ketepeng dan benalu. Sejauh mana perkembangannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 18/05/2020

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Anak dan remaja termasuk kelompok yang rentan stres saat masa pandemi COVID-19, karena itu orangtua perlu memahami penyebab dan cara mengatasi kondisi ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 17/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020