Perawatan Pasien Cuci Darah yang Rentan Tertular COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi COVID-19 di Indonesia membuat masyarakat harus melakukan psychical distancing dan tidak keluar rumah. Namun bagi pasien cuci darah, keluar rumah adalah keharusan terutama untuk ke klinik atau rumah sakit yang menjadi lokasi dengan risiko infeksi COVID-19 tinggi.

Pasien gagal ginjal stadium akhir harus rutin melakukan hemodialisis atau cuci darah secara rutin paling tidak dua kali dalam seminggu. Meskipun setiap kali keluar rumah menambah potensi risiko tertular menjadi semakin besar, cuci darah tidak bisa ditunda karena itulah cara mereka bertahan hidup. 

Padahal efek COVID-19 bisa lebih berbahaya jika menginfeksi pasien dengan penyakit penyerta sebelumnya. Lantas, bagaimana pasien cuci darah di Indonesia menghadapi risiko COVID-19?

Risiko tertular COVID-19 yang dihadapi pasien cuci darah

risiko COVID-19 pasien cuci darah

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 merupakan tantangan bagi sistem kesehatan. Hal ini karena kebaruannya, kecepatan penyebarannya, dan keparahan gejalanya. 

Gejala awal COVID-19 mirip dengan flu, yakni demam, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Namun jika virus ini menyerang organ vital tubuh, akibat kerusakannya akan jadi serius.  

Skala keparahan efek infeksi sangat luas, dari yang tanpa gejala, mengalami gagal napas kritis, kegagalan fungsi pada beberapa organ sekaligus, hingga kematian.

Kebanyakan kasus kematian akibat infeksi COVID-19 terjadi pada pasien dengan komorbiditas atau pasien memiliki penyakit penyerta yakni penyakit kardiovaskular, penyakit paru-paru kronis, imunosupresi (penurunan daya tahan tubuh), diabetes, penyakit hati, dan penyakit ginjal kronis.

Belum ada penelitian spesifik tentang sejauh mana bahaya risiko efek COVID-19 pada pasien gagal ginjal kronis yang tengah membutuhkan cuci darah secara rutin.

Hanya saja, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien cuci darah kemungkinan memiliki risiko efek lebih serius saat terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

1. Daya tahan tubuh rendah jadi salah satu faktor risiko

daya tahan tubuh pasien covid-19

Mayoritas pasien cuci darah memiliki daya tahan tubuh di bawah rata-rata. Hal tersebut membuat risiko terinfeksi COVID-19 cenderung lebih besar. 

Ini karena tingginya kadar ureum dalam darah tidak mampu terbuang lewat air kencing. Ureum adalah ampas dari protein dan asam amino yang berada di dalam hati. Kadar ureum yang berlebihan dapat meracuni darah dan menurunkan daya tahan tubuh. 

“Jika dirunut seperti ini, artinya infeksi virus ini akan lebih berat. Kemungkinan mencapai gagal napas pada pasien cuci darah lebih tinggi dibandingkan orang sehat,” jelas Akbarbudhi Antoro, dokter penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

2. Infeksi COVID-19 menyerang organ ginjal

risiko covid-19 pada pasien cuci darah

Di Tiongkok terjadi beberapa kasus pasien COVID-19 yang mengalami gagal ginjal hingga membutuhkan transplantasi. Padahal pasien tersebut tidak memiliki riwayat penyakit ginjal sebelumnya. 

Kondisi ini kemungkinan dipicu oleh sirkulasi oksigen yang tersendat pada penderita COVID-19 yang mengalami pneumonia. Akibatnya, kerusakan pada ginjal tidak dapat dihindari.

Kasus serupa pun pernah terjadi pada beberapa pasien terjangkit SARS. Dahulu, para ahli menemukan bahwa virus yang menyebabkan SARS dan MERS tersebut menimbulkan infeksi pada tubulus atau tabung ginjal. 

Jurnal JAMA Network mengatakan, dengan fakta tersebut maka risiko terjadinya perburukan kondisi pada pasien gagal ginjal yang harus cuci darah ketika terinfeksi COVID-19 patut diwaspadai.

3. Pasien cuci darah rentan mengalami komplikasi gangguan organ lainnya

Pasien gagal ginjal yang bergantung pada cuci darah biasanya mengalami penyakit penyerta lain. Seiring dengan tidak berfungsinya kedua ginjal, pasien cuci darah rentan terhadap kerusakan organ tubuh lainnya. 

Risiko gangguan tersebut termasuk kerentanan pada kondisi paru-paru dan jantung pasien.

“Saat ginjal tidak berfungsi, pasien rentan mengalami komplikasi gangguan jantung dan paru. Bahkan satu kali sesi saja terlewatkan maka akan ada penumpukan cairan di paru-paru yang mengancam jiwa mereka,” ujar dr. Akbar.

Cerita pasien cuci darah menjaga kesehatan di tengah pandemi COVID-19

risiko covid-19

Sejak merebaknya wabah COVID-19 di Indonesia, rumah sakit dan klinik penyedia cuci darah mulai melakukan screening pemeriksaan kesehatan pasien sebelum diizinkan masuk.

Pasien akan diperiksa suhu tubuh dan ditanyai tentang gejala COVID-19 yang mereka rasakan seperti sakit tenggorokan dan sesak napas. Mereka yang memiliki gejala akan dialihkan ke rumah sakit rujukan COVID-19 untuk diperiksa lebih lanjut. 

Sementara itu, rumah sakit rujukan tidak bisa melakukan proses cuci darah sekaligus. Situasi ini membahayakan pasien cuci darah bukan hanya pada risiko infeksi COVID-19.

Cerita Dokter IGD, Garis Depan Penanganan COVID-19 di Indonesia

Tony Samosir, ketua umum Komunitas Cuci Darah Indonesia (KPCDI), mengatakan regulasi ini membuat pasien harus menunda jadwal cuci darah dan hal itu membahayakan nyawa mereka.

“Gagal ginjal itu memang seringkali batuk, sesak, dan suhu tubuhnya tinggi. Ini dikarenakan saat terlalu banyak minum, akan ada timbunan air di paru,” jelas Tony. 

“Kami setuju bahwa pasien dengan gejala mirip COVID-19 harus dites dan diisolasi, siapa tahu memang benar positif. Tapi harus ada tindakan paralel, sediakan ruang isolasi khusus yang menyediakan fasilitas cuci darah,” lanjut Tony.

Tony meminta pemerintah untuk membuat prosedur penanganan pasien cuci darah di tengah pandemi COVID-19. Standar penanganan tersebut sudah dibahas oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia karena dirasa betul-betul diperlukan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Beragam Komplikasi Pneumonia yang Perlu Diwaspadai

Pneumonia dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. Meskipun begitu, pneumonia merupakan kondisi yang bisa dirawat hingga sembuh.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020