Saran Kemenkes untuk Manfaatkan Obat Tradisional Sebagai Pencegah COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 5 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyarankan masyarakat untuk menggunakan obat tradisional untuk mencegah COVID-19Obat tradisional diharapkan mampu memelihara kesehatan masyarakat dan mencegah terkena penyakit, termasuk infeksi virus corona penyebab COVID-19.

Obat tradisional seperti apa yang disarankan Kemenkes RI?

Kemenkes RI: Manfaatkan obat tradisional untuk pencegahan COVID-19

obat tradisional untuk covid-19

Pandemi COVID-19 di Indonesia diprediksi tidak akan berakhir dalam waktu dekat ini. Masyarakat harus beradaptasi dengan keadaan new normal setidaknya hingga vaksin penangkal COVID-19 ditemukan, yaitu menjalankan pencegahan mulai dari gaya hidup bersih hingga menjaga kesehatan tubuh. 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyarankan agar masyarakat memanfaatkan obat tradisional berupa jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka sebagai salah satu opsi pencegahan COVID-19. Fitofarmaka adalah obat dari bahan alam yang terbukti keamanan dan khasiatnya secara ilmiah.

“Pemanfaatan obat tradisional sebagai upaya memelihara kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan kesehatan termasuk pada masa darurat kesehatan atau bencana nasional COVID-19,” tulis Kemenkes dalam keterangan persnya.

Obat tradisional sudah terbukti memiliki khasiat dalam menjaga daya tahan tubuh, mengurangi beberapa keluhan seperti batuk, sakit tenggorokan, mengurangi darah tinggi, diabetes, dan beberapa khasiat lainnya.

Hanya saja, Kemenkes RI menekankan bahwa obat tradisional tidak boleh digunakan dalam keadaan gawat darurat dan membahayakan jiwa.

Masyarakat juga diminta untuk memperhatikan cara aman penggunaan obat tradisional agar mendapatkan manfaatnya secara maksimal pada masa wabah COVID-19 ini.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

522,581

Terkonfirmasi

437,456

Sembuh

16,521

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Perhatikan aturan obat tradisional saat hendak dikonsumsi

obat tradisional covid-19

Sebagaimana obat pada umumnya, penggunaan obat tradisional juga harus mengikuti beberapa aturan yaitu sebagai berikut.

  1. Obat tradisional tersebut harus memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
  2. Memperhatikan aturan pakai yang tercantum dalam kemasan. 
  3. Memperhatikan tanggal kadaluarsa. 
  4. Memperhatikan kontraindikasi obat (berlawanan dengan kondisi kesehatan Anda).
  5. Memperhatikan khasiat obat.
  6. Kemasan dan bentuk fisik produk harus dalam kondisi baik. 

Selain obat tradisional yang sudah diolah, Anda juga bisa menggunakan langsung bahan-bahan alam yang tersedia. Di antaranya adalah tanaman-tanaman obat seperti jahe, kunyit, temulawak, lengkuas, kencur, kayu manis, sereh, daun kelor, daun katuk, dan masih banyak lagi.

Penggunaan obat tradisional juga harus sesuai dengan standar kesehatan dan jangan sampai membuat Anda sakit pada masa pandemi COVID-19 ini.

nutrisi COVID-19

Bahan-bahan alam yang bisa digunakan masyarakat untuk pengobatan sudah  tercantum dalam Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia (FROTI). 

FROTI memuat daftar tumbuhan obat asal Indonesia yang terbukti memiliki manfaat kesehatan. Daftar itu juga menyebutkan manfaat, cara pakai, dosis, dan hal-hal penting lain yang harus diperhatikan pada setiap tanaman obat. 

Salah satunya adalah jahe merah yang bermanfaat mengobati selesma, penyakit dengan gejala pilek, bersin, dan hidung tersumbat. Jahe merah tidak boleh digunakan oleh ibu hamil dan anak berusia di bawah 2 tahun. Jahe merah juga memiliki efek samping meningkatkan asam lambung.

Penggunaan obat tradisional untuk penanganan COVID-19

obat herbal hipertensi paru

Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang mengembangkan obat tradisional untuk pengobatan COVID-19. Hanya saja, obat tersebut masih harus melalui serangkaian tahapan uji coba dan membutuhkan waktu hingga siap digunakan. 

Sampai saat ini, belum ada obat herbal khusus untuk penanganan COVID-19 di Indonesia. 

“Obat tradisional juga tidak boleh digunakan dalam keadaan kegawatdaruratan dan keadaan yang potensial membahayakan jiwa,” tulis Kemenkes. 

Di negara lain, obat tradisional mulai diujicobakan untuk pengobatan COVID-19. Tiongkok bahkan meresmikan penggunaan obat tradisional sebagai opsi pengobatan COVID-19 di negaranya pada Selasa (14/4) lalu.

Tiga obat tradisional yang dipatenkan oleh pemerintah Tiongkok tersebut yakni Lianhuaqingwen, Jinhuaqinggan, dan  Xuebijing.

Menilik Kandungan Herbavid-19, Ramuan Herbal untuk Pengobatan COVID-19

Pejabat Tiongkok mengklaim bahwa ketiga obat tersebut ampuh meringankan gejala COVID-19 seperti demam, batuk, kelelahan, dan mengurangi kemungkinan pasien mengalami kondisi parah.

Meski begitu, klaim khasiat ini tidak dibarengi dengan bukti ilmiah seperti hasil studi dan uji klinis yang dipublikasi secara internasional.

Studi berjudul Use of herbal drugs to treat COVID-19 should be with caution itu mengatakan bahwa tanpa melalui uji klinis, penggunaan obat herbal pada pasien COVID-19 berpotensi menyebabkan konsekuensi yang mengkhawatirkan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Para ilmuwan melakukan studi pada obat anti komplemen untuk pasien COVID-19. Kemampuannya menghambat peradangan dipercaya dapat meringankan gejala.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
sembuh covid-19

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit