Benarkah Obat HIV Dapat Digunakan untuk Melawan Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sampai saat ini, tenaga medis masih mencari cara menyembuhkan wabah coronavirus yang melanda kota Wuhan, Tiongkok. Salah satunya adalah dengan menguji obat HIV untuk melawan Novel coronavirus

Apakah uji coba tersebut berhasil? Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui jawabannya. 

Benarkah obat HIV dapat melawan infeksi Novel coronavirus?

obat hiv aids

Dikarenakan belum adanya vaksin yang tersedia untuk mencegah wabah Novel coronavirus, para tenaga medis berusaha untuk mengobati pasien dengan meringankan gejala mereka. 

Hasilnya cukup meyakinkan, yaitu ada beberapa pasien yang sembuh setelah menjalani perawatan intensif. Akan tetapi para ahli masih berupaya untuk mencari cara lain, termasuk uji coba obat HIV untuk melawan infeksi coronavirus

Sejumlah media melaporkan, saat ini para peneliti mencoba mengobati pasien novel coronavirus dengan obat HIV, yaitu Aluvia. Aluvia merupakan perpaduan antara dua obat HIV, yaitu Lopinavir dan RitonavirKombinasi obat HIV tersebut kemudian dipakai untuk melawan coronavirus yang terjadi di Wuhan. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,851

Terkonfirmasi

6,057

Sembuh

1,473

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Percobaan terhadap lopinavir dan ritonavir sebenarnya sudah dilakukan oleh para ahli dari Tiongkok dan dimuat dalam jurnal Lancet. Di dalam percobaan tersebut, obat HIV ini digunakan di salah satu rumah sakit di Wuhan secara acak. 

obat mercaptopurine
Sumber: walesonline

Pasien diminta untuk mengonsumsi dua pil lopinavir dan ritonavir sambil menghirup alfa-interferon sebanyak dua kali sehari. Hasilnya, gejala yang dialami oleh mereka ternyata berkurang. 

Kedua obat ini menargetkan protease, yaitu enzim yang digunakan oleh HIV dan coronavirus agar protein terpotong ketika membuat tiruan selnya sendiri. 

Percobaan obat HIV untuk melawan coronavirus ini dilakukan karena kombinasi lopinavir dan ritonavir cukup efektif ketika digunakan pada pasien SARS-CoV. Maka itu, hasil penelitian terdahulu akhirnya dipakai oleh tenaga kesehatan sebagai salah satu upaya mengurangi penyebaran coronavirus

Walaupun demikian, hingga saat ini pemerintah dan tenaga kesehatan di Tiongkok masih mencari tahu, obat apa yang benar-benar efektif untuk melawan wabah virus ini. Termasuk memastikan apakah obat HIV dapat digunakan untuk mengatasi coronavirus secara keseluruhan atau hanya berlaku pada beberapa pasien saja.

Apa itu lopinavir dan ritonavir?

infelon

Setelah mengetahui obat HIV apa yang telah diujicobakan oleh para ahli untuk melawan coronavirus, kenali dahulu apa itu sebenarnya lopinavir dan ritonavir. 

Seperti yang dilansir dari laman Medlineplus, kombinasi lopinavir dan ritonavir digunakan untuk mengobati HIV atau human immunodeficiency virus. Cara kerja obat ini adalah dengan mengurangi jumlah HIV dalam darah. 

Kedua obat ini digabung tentu tidak tanpa alasan. Jika lopinavir dan ritonavir dikonsumsi dalam waktu yang bersamaan, ritonavir dapat membantu meningkatkan jumlah lopinavir dalam tubuh. Maka itu, efeknya akan jauh lebih besar. 

Sejak tahun 2000, lopinavir dan ritonavir sudah dipastikan aman oleh FDA sebagai obat antiretroviral (ARV). Akan tetapi, tidak ada pedoman minimal usia yang dapat mengonsumsi obat ini. 

Walaupun demikian, kedua obat ini tidak dapat menyembuhkan HIV secara total, melainkan hanya mengurangi risiko Anda terkena AIDS yang didapat dari HIV atau kanker. 

Cara penggunaan obat lopinavir dan ritonavir

magnesium oksida
Sumber: Freepik

Normalnya, obat HIV yang disinyalir dapat digunakan untuk melawan coronavirus ini tersedia dalam bentuk tablet dan cairan. 

Bagi Anda yang membutuhkan obat ini biasanya dapat mengonsumsinya dua kali sehari. Akan tetapi, pada beberapa orang dewasa dengan kondisi tertentu, batas konsumsinya dapat diturunkan menjadi satu kali sehari. 

Apabila Anda mendapatkan lopinavir dan ritonavir dalam bentuk cairan, sebaiknya konsumsi bersamaan dengan makanan. Sedangkan kombinasi obat HIV untuk melawan coronavirus dalam bentuk tablet dapat dimakan tanpa perlu memakan sesuatu. 

Tablet lopinavir dan ritonavir tidak boleh dihancurkan, dikunyah, maupun dipatahkan karena dapat mengurangi efeknya dalam darah Anda. 

obat angioten

Bagi anak yang mengonsumsi obat ini, tentu dosisnya akan berbeda dengan orang dewasa. Apabila anak mengonsumsi table lopinavir dan ritonavir, dokter akan memberikan dosis setengah dari orang dewasa. Selain itu, takaran obat ini juga tergantung pada berat badan anak, sehingga sangat penting untuk mengetahui berat badan anak ketika mengonsumsi obat. 

Cara penggunaan obat HIV ini mungkin akan berbeda ketika dicoba untuk melawan novel coronavirus. Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu mengikuti anjuran dokter dan instruksi yang tertera di kemasan obat. 

Efek samping lopinavir dan ritonavir

tips traveling

Setelah mengetahui cara penggunaan obat HIV yang sedang diujicoba efektivitasnya dalam melawan coronavirus, kenali apa sajaefek samping dari lopinavir dan ritonavir

Biasanya, gabungan antara dua obat HIV ini dapat menimbulkan reaksi alergi dari sedang hingga parah. Apabila setelah mengonsumsi lopinavir dan ritonavir Anda mengalami gejala alergi yang parah seperti di bawah ini, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

  • Sakit kepala yang disertai dengan nyeri dada dan detak jantung tidak beraturan
  • Sakit perut pada bagian atas yang menyebar hingga ke punggung
  • Mual dan muntah
  • Hilangnya nafsu makan dan feses berwarna menyerupai tanah liat
  • Demam, sakit tenggorokan, wajah membengkak, dan ruam kulit
  • Kadar gula darah meningkat drastis

Selain reaksi alergi, obat HIV yang mungkin dapat digunakan dalam mengatasi wabah coronavirus ini juga menghasilkan sejumlah efek samping yang cukup normal, seperti:

  • Mual, muntah, dan diare
  • Kolesterol tinggi
  • Perubahan bentuk tubuh, terutama pada bagian lengan, kaki, wajah, dan pinggang

Oleh karena itu, sangat disarankan bagi Anda yang menggunakan obat HIV ini, terutama untuk melawan coronavirus, tetap mengikuti instruksi dokter. Apabila Anda merasa lopinavir dan ritonavir tidak memberikan kemajuan atau efek apapun, konsultasikan kembali dengan dokter.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Waspadai Risiko Penularan COVID-19 di Kendaraan Umum

Bagi pengguna moda transportasi umum serta taksi dan ojek online, simak panduan berikut agar terhindar penularan COVID-19 di kendaraan umum.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang menguji obat herbal COVID-19 dari dua tanaman yakni daun ketepeng dan benalu. Sejauh mana perkembangannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 18/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
minum alkohol membunuh coronavirus

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020