Mutasi Coronavirus Penyebab COVID-19 10 Kali Lebih Mudah Menular, Apa Bahayanya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini

Sudah sejak Juni lalu, ilmuwan mengetahui adanya mutasi dari Coronavirus penyebab COVID-19. Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang bermutasi menjadi jenis baru ini diketahui lebih mudah menular dan menginfeksi manusia daripada jenis aslinya yang berasal dari Wuhan, China.

Hal ini juga diumumkan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah, dalam sebuah postingan di media sosial.

“(Mutasi coronavirus) ditemukan 10 kali lebih mungkin untuk menginfeksi orang lain dan lebih mudah disebarkan oleh individu,” tulis Abdullah, Minggu (16/8).

Kenapa mutasi Coronavirus penyebab COVID-19 lebih mudah menular?

Mutasi baru dari SARS-CoV-2 ini disebut dengan strain D614 atau mutasi G. Untuk mengingatkan kembali, virus Corona penyebab COVID-19 yang saat ini sedang mewabah bernama SARS-CoV-2. Virus ini diketahui pertama kali menyerang manusia di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu.

Sejak saat itu SARS-CoV-2 telah bermutasi beberapa kali. Mutasi pertama yakni strain ‘S’, muncul pada pertengahan Januari 2020, lalu virus terus bermutasi sedikit demi sedikit. 

Perkembangan terbaru, peneliti dari Universitas Bologna, Italia, menemukan adanya 6 jenis mutasi strain Coronavirus yang saat ini sedang mewabah.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

275,213

Terkonfirmasi

203,014

Sembuh

10,386

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Apa sih mutasi virus? Mutasi adalah perubahan materi atau bahan genetika yang menyusun virus. Mutasi terjadi saat virus mereplikasi/memperbanyak diri.

Saat makhluk hidup mereplikasi diri, ia tidak selalu membuat salinan sempurna yang sama persis seperti materi dan komposisi genetik yang membentuknya. Dengan kata lain, virus membuat kesalahan saat  proses replikasi diri, inilah yang disebut mutasi.

Perbedaan mutasi D614G dari jenis aslinya terdapat pada susunan spike protein virus atau bagian luar virus yang membentuk seperti ‘duri-duri’. Bagian ‘duri’ ini yang digunakan virus untuk memasuki tubuh manusia.

Sebuah studi terpisah dari The Scripps Research Institute, Amerika serikat, menjelaskan mutasi Coronavirus jenis D614G itu 10 kali lebih menular daripada aslinya karena spike proteinnya lebih jarang pecah. Studi ini dipublikasikan di situs penelitian online bioRxiv namun belum melalui tinjauan ilmiah dari rekan sejawat hingga saat ini.

Mutasi adalah sesuatu yang wajar terjadi, ia bisa membuat si virus lebih berbahaya atau lebih lemah. Namun, sejauh ini hanya mutasi D614G yang berhasil diidentifikasi berpotensi mengubah perilaku SARS-CoV-2 menjadi tipe yang memiliki kemampuan infeksi lebih tinggi.

mencegah tertular coronavirus

Apa pentingnya melakukan analisis terhadap mutasi virus menular?

Dalam studi bulan Juli yang diterbitkan dalam jurnal Cell, Dr Bette Korber, ahli biologi Amerika Serikat menemukan bahwa jenis D614G awalnya lebih banyak terjadi di Eropa. Kasus-kasus infeksi COVID-19 dari SARS-CoV-2 hasil mutasi ini mulai meningkat di luar Eropa pada awal maret. 

Mutasi D614G sekarang menjadi jenis dominan dalam pandemi COVD-19, yakni sekitar 70 persen dari  50.000 genom virus korona membawa mutasi tersebut.

Meski disebut 10 kali lebih mudah menular, Dr Korber mengatakan bahwa jenis mutasi ini tidak lebih mematikan pada pasien COVID-19. Ia menjelaskan bahwa tingkatan gejala pada pasien COVID-19 tergantung pada penyakit penyerta, usia, dan jenis kelamin.

Professor Gavin Smith dari departemen program penyakit menular National University of Singapore mengatakan bahwa mutasi ini tidak benar-benar lebih mudah menular. Ia mengatakan, mutasi D614G hanya terlihat lebih mudah menular karena memasuki wilayah dengan penularan COVID-19 yang tidak terkontrol dengan baik.

Bagi masyarakat, mutasi ini tidak mengubah cara pencegahan yang harus dilakukan tapi justru harus dilakukan dengan lebih baik dan disiplin. Paling utama adalah menjaga jarak dan hindari keramaian, jika terpaksa harus keluar rumah maka kenakan masker dan perhatikan jarak dengan orang lain, serta selalu ingat menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit