Mutasi COVID-19 Berpotensi Menghindari Antibodi, Apa Pengaruhnya pada Vaksin?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 17 November 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Virus SARS-CoV-2 diketahui dapat bermutasi di dalam tubuh pasien untuk menghindari sistem antibodi atau kekebalan tubuh. Varian mutasi virus penyebab COVID-19 ini diduga membuatnya mampu menghindari sistem kekebalan dan menghambat aktivitas perlawanan dari antibodi.

Fakta ini membuat para ilmuwan memikirkan konsekuensi kemanjuran vaksin ataupun terapi antibodi semacam terapi plasma darah atau terapi antibodi monoklonal. Bagaimana virus bermutasi dan mengelak dari respons antibodi tubuh? 

Mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menghindari antibodi

mutasi antibodi COVID-19

Sebuah studi yang baru-baru ini dipublikasi di BioRxiv menunjukkan varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang tersebar luas berpotensi memiliki kemampuan menghindari respons kekebalan tubuh. 

Sejak awal pandemi, para peneliti mengidentifikasi ribuan mutasi virus SARS-CoV-2 dalam genom virus (genetika) yang diambil dari sampel pasien COVID-19. Dalam studi terbaru ini, David Robertson dari Universitas Glasgow dan rekan-rekannya memeriksa mutasi yang disebut N439K.

Mutasi virus penyebab COVID-19 jenis ini terjadi di bagian protein virus yakni bagian terluar virus yang berfungsi membuka jalan masuk dan berfungsi untuk menyerang sel tubuh. 

Dalam eksperimen laboratorium, para peneliti menemukan bahwa mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menghambat aktivitas antibodi dalam melawan virus. Padahal antibodi yang digunakan dalam eksperimen tersebut adalah antibodi yang terbilang sangat kuat. 

Antibodi yang aktivitasnya dihalangi oleh mutasi jenis N439k adalah antibodi dari pasien COVID-19 pulih dan antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal adalah antibodi sintetis yang dibuat di laboratorium, antibodi sintetis ini sedang dalam penelitian untuk pengobatan pasien COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Mutasi virus SARS-CoV-2 ini dapat terjadi di dalam tubuh pasien

mutasi virus sars-cov-2 penyebab covid-19 antibodi

Studi mengenai kemampuan virus ini bermutasi di dalam tubuh manusia dilakukan oleh para ahli di Brigham and Women’s Hospital, salah satu rumah sakit pendidikan yang berasosiasi dengan Harvard Medical School.

Para spesialis ini mengamati seorang pasien COVID-19 laki-laki berusia 45 tahun. Pasien ini memiliki penyakit penyerta gangguan autoimun sejak lama dan menjalani pengobatan dengan imunosupresan. Kira-kira 40 hari setelah dinyatakan positif, pria ini menjalani tes lanjutan dengan hasil menunjukkan bahwa kadar virus dalam tubuhnya telah berkurang. 

Tapi kemudian muncul kembali dan melonjak meskipun ia masih menjalani terapi pengobatan antivirus. Infeksi pasien ini kembali mereda lagi dan lagi-lagi muncul kembali. Hilang dan munculnya virus dalam tubuh pasien ini terjadi dua kali sebelum akhirnya pasien meninggal dunia setelah 5 bulan melawan COVID-19. 

Analisis genom (genetika) pada tubuh pasien ini menunjukkan ia tidak terinfeksi ulang namun virus yang pertama kali menginfeksinya inilah yang bermutasi dengan cepat langsung di dalam tubuhnya. Hal ini menjadi catatan penting bagaimana proses mutasi virus SARS-CoV-2 terjadi hingga mampu mengelak dari sistem antibodi tubuh. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit