5 Mitos soal Coronavirus yang Belum Terbukti Kebenarannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Akhir-akhir ini, perhatian masyarakat dunia tertuju pada wabah coronavirus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Bagaimana tidak, jumlah kasus dan korban jiwa virus yang disebut sebagai 2019-nCoV ini semakin hari semakin meningkat. Selain itu, beberapa temuan yang kebenarannya belum diketahui pun beredar di media sosial. Apa saja mitos coronavirus?

Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui apa saja kabar yang beredar di masyarakat seputar coronavirus dan bagaimana faktanya. 

Fakta vs. mitos seputar coronavirus

coronavirus tanpa gejala

Menurut laporan WHO per tanggal 4 Februari 2020, coronavirus atau 2019-nCov telah menginfeksi 20.630 orang dan memakan 425 korban jiwa. 

Jumlah kasus dan korban jiwa yang semakin meningkat tentu membuat masyarakat semakin waspada. Selain itu, para tenaga kesehatan masih mencoba berbagai upaya untuk menangani pasien yang jumlahnya terus bertambah meskipun belum ada obat tertentu untuk virus ini. 

Rasa waspada tersebut semakin diperparah dengan adanya kabar-kabar yang berseliweran di media sosial dan belum dipastikan kebenarannya. Mulai dari pengobatan herbal alternatif hingga cara penularan coronavirus

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

392,934

Terkonfirmasi

317,672

Sembuh

13,411

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Oleh karena itu, WHO memulai sebuah kampanye yang berisi tentang fakta dan mitos seputar coronavirus. Apa saja mitos yang beredar di kalangan masyarakat dan perlu dipatahkan oleh fakta? 

1. Mitos atau fakta: coronavirus dapat menyebar lewat paket atau barang

coronavirus barang impor

Salah satu mitos seputar coronavirus yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah dapat menular melalui paket atau surat dari Tiongkok. 

Mitos coronavirus yang satu ini didapat karena masyarakat yang sering membeli barang dari Asia khawatir bahwa barang mereka terkontaminasi oleh virus. Faktanya, tidak demikian. 

Fakta: Sebenarnya, menerima paket atau barang dari negara Asia, terutama Tiongkok, termasuk aman. 

Menurut CDC, coronavirus memiliki kemampuan bertahan yang cukup rendah pada permukaan suatu barang. Kemungkinan risiko penularan dari produk yang dikirim memang ada, tetapi cukup rendah, terutama ketika disimpan tanpa disentuh oleh Anda selama beberapa hari. 

Belum ada penelitian atau bukti dari mitos coronavirus terkait barang impor. Anda perlu ingat bahwa risiko penyebaran virus ini paling tinggi berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. 

2. Minum alkohol dapat menyembuhkan coronavirus

kecanduan alkohol

Selain dapat menular lewat paket atau barang dari negara yang terinfeksi, mitos coronavirus lainnya adalah alkohol dapat menyembuhkan infeksi virus ini. 

Kabar ini cukup populer mengingat nama coronavirus sering dihubungkan dengan merek minuman beralkohol. Padahal, virus dan minuman beralkohol ini tidak memiliki keterkaitan sama sekali. 

Fakta: Fakta tersebut didukung oleh pernyataan dari Susan Philip, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Depkes San Fransisco. Menurutnya, penyembuhan atau penyebab coronavirus tidak berhubungan dengan konsumsi alkohol. 

Faktanya, alkohol dapat membunuh bakteri dan virus, tetapi ketika digunakan dalam bentuk hand sanitizer atau sabun antiseptik. Penggunaan hand sanitizer yang mengandung 60% alkohol untuk mencuci tangan dapat membantu mencegah infeksi coronavirus

Maka itu, pemahaman mitos bahwa minum minuman beralkohol dapat menyembuhkan atau menjadi penyebab coronavirus perlu diluruskan. 

3. Vaksin pneumonia efektif untuk coronavirus

Proses-injeksi-vaksin-hepatitis-B

Salah satu gejala dari novel coronavirus yang cukup berbahaya adalah gejala pneumonia, seperti kesulitan bernapas. Akibatnya, banyak orang yang mengira bahwa vaksin untuk melawan pneumonia dapat digunakan untuk coronavirus

Mitos coronavirus yang satu ini ternyata salah besar. 

Fakta: Sebenarnya, vaksin untuk pneumonia, seperti pneumokokus atau Haemophilus influenza tipe B (HiB) tidak dapat melindungi tubuh dari coronavirus yang baru. 

Coronavirus yang pertama kali ditemukan pada warga Wuhan, Tiongkok ini sangat baru dan berbeda dari virus lainnya. Akibatnya, para ahli membutuhkan waktu untuk membuat vaksin melawan virus yang sudah memakan ratusan korban. 

Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa mitos coronavirus yang satu ini tidak benar agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat. 

Walaupun vaksin pneumonia bukan menjadi jawaban untuk perlindungan dari coronavirus, mendapatkan vaksin terhadap penyakit pernapasan tetap dianjurkan. Hal ini bertujuan agar Anda dapat melindungi kesehatan meskipun tidak terkena wabah coronavirus

4. Konsumsi bawang putih mencegah infeksi

makan bawang putih

Selain konsumsi alkohol, mitos lainnya terkait penyembuhan coronavirus adalah konsumsi bawang putih disinyalir dapat mencegah infeksi virus. 

Fakta: bawang putih memang memiliki segudang manfaat yang baik untuk kesehatan karena kandungan senyawa antibakteri yang cukup tinggi di dalamnya. Mulai dari menjaga kesehatan jantung hingga menurunkan risiko kanker paru didapat dari rempah masakan berwarna putih ini.

Akan tetapi, sampai saat ini belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa bawang putih dapat mencegah infeksi coronavirus. Oleh karena itu, kabar tentang konsumsi bawang putih bisa melindungi tubuh dari coronavirus belum terbukti benar. 

5. Dapat menular melalui pandangan mata

Pernahkah Anda mendengar kabar atau mitos mengenai penularan coronavirus dapat terjadi melalui pandangan mata? Jika iya, Anda tidak perlu khawatir karena kabar tersebut tidak benar sama sekali. 

Fakta: seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penyebaran coronavirus kemungkinan besar berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. Apabila Anda berada dalam jarak penularan virus, yaitu sekitar dua meter, risikonya pun semakin tinggi. 

Penularan coronavirus melalui pandangan mata memang belum terbukti benar. Namun, risiko yang cukup besar dapat terjadi ketika tangan yang belum dicuci oleh sabun dan air sering digosokkan ke mata Anda. 

Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang suatu benda. Selain itu, Anda juga tidak direkomendasikan memegang bagian mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor. 

Apabila Anda mendapatkan kabar atau mitos seputar coronavirus yang cukup kontroversial, sangat disarankan untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar Anda tidak menyebarkan berita yang mungkin saja tidak benar kepada orang lain dan menambah kepanikan. 

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hipertensi dan Sejumlah Faktor Risiko Kematian Pasien COVID-19 di Jakarta

Hipertensi menjadi penyakit penyerta (komorbid) yang paling banyak dilaporkan dalam kasus kematian pasien COVID-19 di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Pelonggaran PSBB dan Risiko Terhadap Penularan COVID-19

PSBB kembali dilonggarkan setelah sebelumnya diperketat akibat terjadi lonjakan kasus infeksi. Seperti apa risiko pelonggaran PSBB?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 12 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
kepadatan kota memengaruhi covid-19

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Vaksin COVID-19 bukan satu-satunya solusi

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit