5 Mitos soal Coronavirus yang Belum Terbukti Kebenarannya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Akhir-akhir ini, perhatian masyarakat dunia tertuju pada wabah coronavirus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Bagaimana tidak, jumlah kasus dan korban jiwa virus yang disebut sebagai 2019-nCoV ini semakin hari semakin meningkat. Selain itu, beberapa temuan yang kebenarannya belum diketahui pun beredar di media sosial. Apa saja mitos coronavirus?

Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui apa saja kabar yang beredar di masyarakat seputar coronavirus dan bagaimana faktanya. 

Fakta vs. mitos seputar coronavirus

coronavirus tanpa gejala

Menurut laporan WHO per tanggal 4 Februari 2020, coronavirus atau 2019-nCov telah menginfeksi 20.630 orang dan memakan 425 korban jiwa. 

Jumlah kasus dan korban jiwa yang semakin meningkat tentu membuat masyarakat semakin waspada. Selain itu, para tenaga kesehatan masih mencoba berbagai upaya untuk menangani pasien yang jumlahnya terus bertambah meskipun belum ada obat tertentu untuk virus ini. 

Rasa waspada tersebut semakin diperparah dengan adanya kabar-kabar yang berseliweran di media sosial dan belum dipastikan kebenarannya. Mulai dari pengobatan herbal alternatif hingga cara penularan coronavirus

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Oleh karena itu, WHO memulai sebuah kampanye yang berisi tentang fakta dan mitos seputar coronavirus. Apa saja mitos yang beredar di kalangan masyarakat dan perlu dipatahkan oleh fakta? 

1. Mitos atau fakta: coronavirus dapat menyebar lewat paket atau barang

coronavirus barang impor

Salah satu mitos seputar coronavirus yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah dapat menular melalui paket atau surat dari Tiongkok. 

Mitos coronavirus yang satu ini didapat karena masyarakat yang sering membeli barang dari Asia khawatir bahwa barang mereka terkontaminasi oleh virus. Faktanya, tidak demikian. 

Fakta: Sebenarnya, menerima paket atau barang dari negara Asia, terutama Tiongkok, termasuk aman. 

Menurut CDC, coronavirus memiliki kemampuan bertahan yang cukup rendah pada permukaan suatu barang. Kemungkinan risiko penularan dari produk yang dikirim memang ada, tetapi cukup rendah, terutama ketika disimpan tanpa disentuh oleh Anda selama beberapa hari. 

Belum ada penelitian atau bukti dari mitos coronavirus terkait barang impor. Anda perlu ingat bahwa risiko penyebaran virus ini paling tinggi berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. 

2. Minum alkohol dapat menyembuhkan coronavirus

kecanduan alkohol

Selain dapat menular lewat paket atau barang dari negara yang terinfeksi, mitos coronavirus lainnya adalah alkohol dapat menyembuhkan infeksi virus ini. 

Kabar ini cukup populer mengingat nama coronavirus sering dihubungkan dengan merek minuman beralkohol. Padahal, virus dan minuman beralkohol ini tidak memiliki keterkaitan sama sekali. 

Fakta: Fakta tersebut didukung oleh pernyataan dari Susan Philip, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Depkes San Fransisco. Menurutnya, penyembuhan atau penyebab coronavirus tidak berhubungan dengan konsumsi alkohol. 

Faktanya, alkohol dapat membunuh bakteri dan virus, tetapi ketika digunakan dalam bentuk hand sanitizer atau sabun antiseptik. Penggunaan hand sanitizer yang mengandung 60% alkohol untuk mencuci tangan dapat membantu mencegah infeksi coronavirus

Maka itu, pemahaman mitos bahwa minum minuman beralkohol dapat menyembuhkan atau menjadi penyebab coronavirus perlu diluruskan. 

3. Vaksin pneumonia efektif untuk coronavirus

Proses-injeksi-vaksin-hepatitis-B

Salah satu gejala dari novel coronavirus yang cukup berbahaya adalah gejala pneumonia, seperti kesulitan bernapas. Akibatnya, banyak orang yang mengira bahwa vaksin untuk melawan pneumonia dapat digunakan untuk coronavirus

Mitos coronavirus yang satu ini ternyata salah besar. 

Fakta: Sebenarnya, vaksin untuk pneumonia, seperti pneumokokus atau Haemophilus influenza tipe B (HiB) tidak dapat melindungi tubuh dari coronavirus yang baru. 

Coronavirus yang pertama kali ditemukan pada warga Wuhan, Tiongkok ini sangat baru dan berbeda dari virus lainnya. Akibatnya, para ahli membutuhkan waktu untuk membuat vaksin melawan virus yang sudah memakan ratusan korban. 

Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa mitos coronavirus yang satu ini tidak benar agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat. 

Walaupun vaksin pneumonia bukan menjadi jawaban untuk perlindungan dari coronavirus, mendapatkan vaksin terhadap penyakit pernapasan tetap dianjurkan. Hal ini bertujuan agar Anda dapat melindungi kesehatan meskipun tidak terkena wabah coronavirus

4. Konsumsi bawang putih mencegah infeksi

makan bawang putih

Selain konsumsi alkohol, mitos lainnya terkait penyembuhan coronavirus adalah konsumsi bawang putih disinyalir dapat mencegah infeksi virus. 

Fakta: bawang putih memang memiliki segudang manfaat yang baik untuk kesehatan karena kandungan senyawa antibakteri yang cukup tinggi di dalamnya. Mulai dari menjaga kesehatan jantung hingga menurunkan risiko kanker paru didapat dari rempah masakan berwarna putih ini.

Akan tetapi, sampai saat ini belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa bawang putih dapat mencegah infeksi coronavirus. Oleh karena itu, kabar tentang konsumsi bawang putih bisa melindungi tubuh dari coronavirus belum terbukti benar. 

5. Dapat menular melalui pandangan mata

Pernahkah Anda mendengar kabar atau mitos mengenai penularan coronavirus dapat terjadi melalui pandangan mata? Jika iya, Anda tidak perlu khawatir karena kabar tersebut tidak benar sama sekali. 

Fakta: seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penyebaran coronavirus kemungkinan besar berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. Apabila Anda berada dalam jarak penularan virus, yaitu sekitar dua meter, risikonya pun semakin tinggi. 

Penularan coronavirus melalui pandangan mata memang belum terbukti benar. Namun, risiko yang cukup besar dapat terjadi ketika tangan yang belum dicuci oleh sabun dan air sering digosokkan ke mata Anda. 

Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang suatu benda. Selain itu, Anda juga tidak direkomendasikan memegang bagian mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor. 

Apabila Anda mendapatkan kabar atau mitos seputar coronavirus yang cukup kontroversial, sangat disarankan untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar Anda tidak menyebarkan berita yang mungkin saja tidak benar kepada orang lain dan menambah kepanikan. 

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020