COVID-19 Bisa Dihadapi dengan Meratakan Kurva Pandemi, Apa Maksudnya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 12, 2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kampanye ‘flatten the curve’ atau meratakan kurva pandemi belakangan ramai di media sosial menyusul tingginya angka kasus COVID-19 di beberapa negara. Gerakan ini dinilai dapat menghambat penyebaran wabah secara efektif, bahkan menurunkan risiko kematian pasien yang positif terjangkit COVID-19.

Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, angka penderita COVID-19 telah meningkat berkali lipat dari sekitar 75.000 menjadi lebih dari 180.000 orang. Jika tiap individu mau mengambil bagian dalam gerakan ini, wabah COVID-19 sebenarnya sangat mungkin diatasi. Lantas, apa yang dimaksud dengan meratakan kurva pandemi?

Meratakan kurva pandemi, social distancing, dan penyebaran COVID-19

social distance

Sejak merebaknya wabah COVID-19, pemerintah di berbagai negara telah mengimbau masyarakat agar melakukan kegiatan di rumah dan tidak bepergian setidaknya selama 14 hari ke depan. Imbauan ini pun disambut dengan berbagai respons dari masyarakat.

Banyak perusahaan mengizinkan karyawannya untuk bekerja di rumah masing-masing. Sekolah meliburkan muridnya, perguruan tinggi mengadakan kelas online, dan banyak acara besar dibatalkan. Tempat ibadah, restoran, dan toko-toko pun ditutup sementara. Ini sebenarnya merupakan bentuk nyata dari social distancing.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

22,271

Terkonfirmasi

5,402

Sembuh

1,372

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Social distancing adalah upaya menghambat penyebaran penyakit dengan membatasi kontak terhadap orang lain, menutup fasilitas umum, dan menghindari keramaian. Para ahli epidemiologi melihat social distancing sebagai upaya untuk meratakan kurva pandemi, atau ‘flatten the curve’.

Drew Harris, peneliti dari Thomas Jefferson University of Philadelphia, membuat kurva pandemi untuk menjelaskan pentingnya social distancing dalam penanganan wabah. Pada grafiknya, Harris menggambarkan bagaimana social distancing dapat mengurangi jumlah orang yang terinfeksi dan menjaga kapasitas rumah sakit agar tetap memadai.

Mengapa kita perlu meratakan kurva pandemi?

Kurva pandemi merujuk pada perkiraan jumlah orang yang akan terinfeksi COVID-19 selama jangka waktu tertentu. Kurva ini tidak memprediksi berapa banyak orang yang akan terinfeksi, tapi digunakan untuk memperkirakan kemungkinan penyebaran virus.

Berikut kurva pandemi yang dimaksud oleh Harris.

Pada kurva tersebut, garis hijau menunjukkan kapasitas rumah sakit. Titik-titik kuning dan merah di bawah garis hijau melambangkan pasien COVID-19 yang mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, titik merah di atas garis hijau adalah pasien yang tidak tertampung oleh rumah sakit.

Bayangkan rumah sakit sebagai kereta, dan ini adalah waktu sibuk ketika penumpang sedang padat-padatnya. Kapasitas kereta amat terbatas sehingga begitu kereta penuh, para penumpang harus menunggu sangat lama. Bahkan, mungkin saja ada penumpang yang tidak bisa diangkut oleh kereta tersebut.

Rumah sakit juga menghadapi masalah yang sama. Setiap hari, rumah sakit menerima puluhan pasien dengan berbagai kondisi. Kini, rumah sakit bertambah penuh akibat membludaknya pasien COVID-19. Inilah akar masalah yang menjadi alasan mengapa kita harus meratakan kurva pandemi.

Jika banyak orang terjangkit COVID-19 secara bersamaan, rumah sakit tidak akan bisa menampung pasien. Jumlah pasien yang meninggal dunia pun akan bertambah banyak. Pasien yang tidak terdeteksi juga bisa menulari orang lain tanpa sadar.

physical distancing

Risiko penularan akan menurun bila orang-orang melakukan social distancing. Dengan tetap berada di rumah, Anda memperkecil kemungkinan tertular atau menulari orang lain. COVID-19 masih dapat menyebar, tapi penyebarannya tidak separah sebelumnya.

Jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 bisa jadi tetap sama, tapi para tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk merawat pasien. Mereka juga menghadapi tekanan yang lebih ringan dibandingkan ketika merawat banyak pasien sekaligus.

Titik-titik merah pada grafik yang awalnya menanjak curam akan menjadi lebih landai. Secara perlahan, sebagian besar atau seluruh titik tersebut akan berada di bawah garis hijau. Ini berarti tiap pasien COVID-19 bisa memperoleh perawatan medis yang dibutuhkan.

Apakah cara ini pernah terbukti bekerja?

coronavirus covid-19 flu babi

Tahun 1918, terjadi pandemi flu Spanyol. Dua negara bagian AS, yakni Philadelphia dan St. Louis, mengatasinya dengan cara yang berbeda. Pemerintah Philadelphia saat itu mengabaikan peringatan wabah dan tetap mengadakan parade besar-besaran.

Hanya dalam waktu 48-72 jam, ribuan warga Philadelphia terjangkit flu Spanyol dan meninggal dunia. Pada akhirnya, sekitar 16.000 orang di wilayah tersebut meninggal dalam kurun waktu enam bulan.

Sementara itu, pemerintah St. Louis segera memberlakukan karantina. Mereka menutup sekolah-sekolah, mendorong perilaku hidup bersih, dan menerapkan social distancing. Hasilnya, hanya terdapat 2.000 kasus kematian di wilayah tersebut.

Wabah COVID-19 hingga Rabu (18/3) telah menyebabkan lebih dari 8.000 kematian di seluruh dunia, seperti dilansir dari data Worldometer. Langkah nyata yang kini dapat dilakukan adalah meratakan kurva pandemi guna menghambat penyebaran penyakit.

Lakukan social distancing dengan tetap berada di rumah dan menghindari keramaian. Selain itu, pastikan Anda juga melakukan upaya pencegahan seperti mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga kesehatan agar manfaatnya lebih optimal.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 Mei 22, 2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 21, 2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020
Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020