COVID-19 Bisa Dihadapi dengan Meratakan Kurva Pandemi, Apa Maksudnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kampanye ‘flatten the curve’ atau meratakan kurva pandemi belakangan ramai di media sosial menyusul tingginya angka kasus COVID-19 di beberapa negara. Gerakan ini dinilai dapat menghambat penyebaran wabah secara efektif, bahkan menurunkan risiko kematian pasien yang positif terjangkit COVID-19.

Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, angka penderita COVID-19 telah meningkat berkali lipat dari sekitar 75.000 menjadi lebih dari 180.000 orang. Jika tiap individu mau mengambil bagian dalam gerakan ini, wabah COVID-19 sebenarnya sangat mungkin diatasi. Lantas, apa yang dimaksud dengan meratakan kurva pandemi?

Meratakan kurva pandemi, social distancing, dan penyebaran COVID-19

social distance

Sejak merebaknya wabah COVID-19, pemerintah di berbagai negara telah mengimbau masyarakat agar melakukan kegiatan di rumah dan tidak bepergian setidaknya selama 14 hari ke depan. Imbauan ini pun disambut dengan berbagai respons dari masyarakat.

Banyak perusahaan mengizinkan karyawannya untuk bekerja di rumah masing-masing. Sekolah meliburkan muridnya, perguruan tinggi mengadakan kelas online, dan banyak acara besar dibatalkan. Tempat ibadah, restoran, dan toko-toko pun ditutup sementara. Ini sebenarnya merupakan bentuk nyata dari social distancing.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

123,503

Terkonfirmasi

79,306

Sembuh

5,658

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Social distancing adalah upaya menghambat penyebaran penyakit dengan membatasi kontak terhadap orang lain, menutup fasilitas umum, dan menghindari keramaian. Para ahli epidemiologi melihat social distancing sebagai upaya untuk meratakan kurva pandemi, atau ‘flatten the curve’.

Drew Harris, peneliti dari Thomas Jefferson University of Philadelphia, membuat kurva pandemi untuk menjelaskan pentingnya social distancing dalam penanganan wabah. Pada grafiknya, Harris menggambarkan bagaimana social distancing dapat mengurangi jumlah orang yang terinfeksi dan menjaga kapasitas rumah sakit agar tetap memadai.

Mengapa kita perlu meratakan kurva pandemi?

Kurva pandemi merujuk pada perkiraan jumlah orang yang akan terinfeksi COVID-19 selama jangka waktu tertentu. Kurva ini tidak memprediksi berapa banyak orang yang akan terinfeksi, tapi digunakan untuk memperkirakan kemungkinan penyebaran virus.

Berikut kurva pandemi yang dimaksud oleh Harris.

Pada kurva tersebut, garis hijau menunjukkan kapasitas rumah sakit. Titik-titik kuning dan merah di bawah garis hijau melambangkan pasien COVID-19 yang mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, titik merah di atas garis hijau adalah pasien yang tidak tertampung oleh rumah sakit.

Bayangkan rumah sakit sebagai kereta, dan ini adalah waktu sibuk ketika penumpang sedang padat-padatnya. Kapasitas kereta amat terbatas sehingga begitu kereta penuh, para penumpang harus menunggu sangat lama. Bahkan, mungkin saja ada penumpang yang tidak bisa diangkut oleh kereta tersebut.

Rumah sakit juga menghadapi masalah yang sama. Setiap hari, rumah sakit menerima puluhan pasien dengan berbagai kondisi. Kini, rumah sakit bertambah penuh akibat membludaknya pasien COVID-19. Inilah akar masalah yang menjadi alasan mengapa kita harus meratakan kurva pandemi.

Jika banyak orang terjangkit COVID-19 secara bersamaan, rumah sakit tidak akan bisa menampung pasien. Jumlah pasien yang meninggal dunia pun akan bertambah banyak. Pasien yang tidak terdeteksi juga bisa menulari orang lain tanpa sadar.

physical distancing

Risiko penularan akan menurun bila orang-orang melakukan social distancing. Dengan tetap berada di rumah, Anda memperkecil kemungkinan tertular atau menulari orang lain. COVID-19 masih dapat menyebar, tapi penyebarannya tidak separah sebelumnya.

Jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 bisa jadi tetap sama, tapi para tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk merawat pasien. Mereka juga menghadapi tekanan yang lebih ringan dibandingkan ketika merawat banyak pasien sekaligus.

Titik-titik merah pada grafik yang awalnya menanjak curam akan menjadi lebih landai. Secara perlahan, sebagian besar atau seluruh titik tersebut akan berada di bawah garis hijau. Ini berarti tiap pasien COVID-19 bisa memperoleh perawatan medis yang dibutuhkan.

Apakah cara ini pernah terbukti bekerja?

coronavirus covid-19 flu babi

Tahun 1918, terjadi pandemi flu Spanyol. Dua negara bagian AS, yakni Philadelphia dan St. Louis, mengatasinya dengan cara yang berbeda. Pemerintah Philadelphia saat itu mengabaikan peringatan wabah dan tetap mengadakan parade besar-besaran.

Hanya dalam waktu 48-72 jam, ribuan warga Philadelphia terjangkit flu Spanyol dan meninggal dunia. Pada akhirnya, sekitar 16.000 orang di wilayah tersebut meninggal dalam kurun waktu enam bulan.

Sementara itu, pemerintah St. Louis segera memberlakukan karantina. Mereka menutup sekolah-sekolah, mendorong perilaku hidup bersih, dan menerapkan social distancing. Hasilnya, hanya terdapat 2.000 kasus kematian di wilayah tersebut.

Wabah COVID-19 hingga Rabu (18/3) telah menyebabkan lebih dari 8.000 kematian di seluruh dunia, seperti dilansir dari data Worldometer. Langkah nyata yang kini dapat dilakukan adalah meratakan kurva pandemi guna menghambat penyebaran penyakit.

Lakukan social distancing dengan tetap berada di rumah dan menghindari keramaian. Selain itu, pastikan Anda juga melakukan upaya pencegahan seperti mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga kesehatan agar manfaatnya lebih optimal.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Klaster-klaster Penularan COVID-19 Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Inilah Alasan Vaksin COVID-19 Sinovac Uji Klinis di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China akan diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Adakah alasan tertentu dalam pemilihan negara ini?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Nutrisi memegang peranan yang besar untuk mencegah kemungkinan risiko COVID-19. Yuk, cari tahu nutrisi utama yang perlu ditambahkan dalam menu harian Anda.

Ditulis oleh: Maria Amanda
Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit

5 Manfaat Punya Asuransi di Masa Pandemi COVID-19

Saatnya mempertimbangkan asuransi di masa pandemi COVID-19 sebagai perlindungan kehidupan. Ketahui beragam manfaat asuransi di masa new normal.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
asuransi di masa pandemi
Asuransi, Hidup Sehat 29/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ibu terinfeksi covid-19 bisa menyusui

Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 08/08/2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 di transportasi umum kereta

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 4 menit
pasien kanker terinfeksi covid-19

Pasien Kanker Selama Pandemi: Cegah COVID-19, Rawat Kankernya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 6 menit
serangan jantung saat pandemi covid-19

Waspadai Hubungan Erat Sakit Jantung dan COVID-19 Selama Pandemi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit