Pandemic Fatigue, Kondisi Lelah Menghadapi Ketidakpastian Pandemi. Bagaimana Mengatasinya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Belum ada tanda pandemi akan berakhir dalam waktu dekat, karena itu masyarakat masih diminta untuk terus melakukan rutinitas pencegahan penularan COVID-19. Mengurangi aktivitas di luar rumah, memakai masker, menjaga jarak, dan sering-sering mencuci tangan harus menjadi kebiasaan baru. Berbulan-bulan hidup di tengah pandemi dengan segala keterbatasan dan ketidakpastian kapan wabah ini berakhir membuat banyak orang jemu dan lelah atau saat ini dikenal dengan pandemic fatigue.

Apa itu pandemic fatigue dan bagaimana mengatasinya?

pandemic fatigue dan ketidakpastian kondisi wabah COVID-19 dan protokol kesehatan

Masih ingat masa-masa awal pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia? Kewaspadaan tinggi pada sebagian besar orang membuat mereka mengikuti arahan untuk membatasi kegiatan di luar rumah. Banyak kafe dan restoran mengubah bisnisnya ke layanan pesan antar, sejumlah calon pasangan pengantin pun rela menunda pesta pernikahan mereka. 

Memasuki libur idul fitri, pemerintah memotong cuti bersama dan memindahkannya di akhir tahun, dengan harapan di akhir tahun pandemi telah bisa dikendalikan. Sebagian besar masih memiliki semangat tinggi untuk mencegah penularan, ditambah adanya harapan bahwa pandemi akan segera berakhir. 

Tapi memasuki penghujung tahun, dengan segala upaya yang dilakukan, penyebaran COVID-19 belum bisa dikendalikan. Per Kamis (19/11) sudah ada total 478.720 kasus di mana 76.347 masih berstatus aktif. Pertambahan kasus setiap harinya masih berada di angka ribuan, bahkan Sabtu lalu tembus 5.000 kasus baru dalam satu hari. 

Berbulan-bulan menghadapi kondisi ini, membuat banyak orang merasa lelah dan tidak lagi termotivasi untuk tetap mengikuti protokol pencegahan COVID-19. 

Pandemic fatigue membuat masyarakat cenderung untuk mengambil risiko berbahaya tertular virus. Banyak orang berbondong-bondong pergi ke mal atau berpesta. Mereka berusaha melakukan aktivitas seperti sebelum pandemi, entah karena keinginan, kebutuhan, atau bosan. 

“Di awal krisis, kebanyakan orang dapat memanfaatkan lonjakan kemampuan, yakni kumpulan kemampuan adaptasi fisik dan mental untuk bertahan hidup jangka pendek dalam situasi sangat menegangkan. Namun, ketika keadaan mengerikan berlarut-larut, mereka harus mengadopsi cara adaptasi berbeda karena itu kelelahan dan demotivasi mungkin terjadi,” tulis WHO di situs resminya. 

Lelah atau menurunnya motivasi untuk mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19 ini muncul secara bertahap dan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi ini perlahan timbul karena dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman, dan persepsi. 

Dalam catatan organisasi kesehatan dunia (WHO), pandemic fatigue dilaporkan terjadi karena memiliki persepsi risiko bahaya COVID-19 yang rendah. Efektivitas imbauan untuk menjalankan protokol 3M perlahan menurun karena berbagai faktor. Oleh karena itu, pemerintah membutuhkan pendekatan lain yang lebih menyegarkan. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Tantangan mengatur pola hidup baru berkelanjutan

pandemic fatigue, jemu dengan masker dan menjaga jarak

Saat pandemi terus berlanjut, dapat dimengerti bahwa beberapa orang mulai lelah untuk terus menerus menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus corona. Tapi bukan berarti tidak ada jalan untuk kembali termotivasi agar tetap waspada. 

“Mencoba untuk mematuhi sesuatu yang ekstra selalu merupakan tantangan berat,” kata Carisa Parrish, psikolog klinis John Hopkins Medicine

Menurut Parrish, menerapkan perubahan perilaku secara berkelanjutan itu sulit, terutama ketika tidak ada keluarga atau orang di sekitar Anda yang tertular COVID-19. Banyak orang mungkin merasa tak perlu menerapkan kebiasaan baru berdasarkan risiko yang tampaknya tidak nyata.

“Sayangnya, beberapa orang merasa sedikit senang karena melakukan sesuatu yang berisiko dan melarikan diri dari konsekuensi,” ungkap Parrish. 

Oleh karena itu menurutnya komitmen untuk tetap menjaga diri demi kesehatan pribadi dan orang lain menjadi kunci utama. Sebisa mungkin tetap terinformasi dan fleksibel dalam menghadapi perubahan dan imbauan kesehatan, menjadikan protokol pencegahan sebagai kebiasaan sehari-hari, dan selalu siap sedia masker serta pencuci tangan harus terus dibiasakan.

Selain itu, memahami risiko dan konsekuensi dari berbagai kisah orang lain juga bisa menumbuhkan kesadaran dan perspektif lain dalam memahami wabah COVID-19 ini. “Menerima realita baru dan berkomitmen tetap beradaptasi dengan protokol kesehatan dapat mencegah penularan COVID-19 atau wabah lain di masa mendatang,” pungkas Parrish.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit