Memakai Masker Bisa Cegah Gelombang Kedua COVID-19, Mengapa?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kasus positif COVID-19 di sejumlah negara memang sudah menurun, tapi bukan berarti pandemi akan segera berakhir. Para ahli justru mengingatkan akan potensi gelombang kedua bila kita lengah dalam pencegahan. Kabar baiknya, masker yang Anda gunakan sehari-hari ternyata bisa jadi senjata untuk mencegah gelombang kedua COVID-19.

Pentingnya masker dalam mencegah penularan COVID-19

efek covid-19 terhadap kondisi lingkungan

COVID-19 menular lewat droplet, yakni percikan cairan mengandung virus yang keluar ketika penderita bicara, batuk, dan bersin. Virus dalam droplet dapat memasuki tubuh bila Anda menghirupnya atau menyentuh barang yang terkontaminasi.

Masker memiliki peran penting karena berfungsi mencegah masuknya droplet ke dalam saluran pernapasan. Secara umum, ada tiga jenis masker yang bisa digunakan selama pandemi, yaitu masker bedah, masker N95, dan masker kain.

Jenis masker terbaik untuk mencegah COVID-19 adalah masker N95, sebab masker ini mampu menyaring 95% partikel halus dalam udara yang Anda hirup. Akan tetapi, masker N95 tidak bisa digunakan sehari-hari karena akan menyebabkan sesak.

Jika menimbang dari segi fungsi dan kenyamanan, masker bedah adalah yang paling sesuai untuk dipakai sehari-hari. Masker ini cukup melindungi hidung dan mulut tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman.

Hanya saja, mengingat stok masker yang terbatas di rumah sakit, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah mengimbau masyarakat agar memakai masker kain. Masker ini cukup melindungi Anda dari risiko terkena droplet meskipun tidak punya kemampuan menyaring.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

262,022

Terkonfirmasi

191,853

Sembuh

10,105

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Peran masker dalam mencegah gelombang kedua COVID-19

membuat masker kain untuk coronavirus

Sebagian besar negara saat ini mengandalkan pembatasan untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Tingkat pembatasan bervariasi sesuai kebijakan yang diambil, mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga lockdown total.

Meskipun dapat mengurangi kasus positif, lockdown saja ternyata belum cukup untuk mengantisipasi gelombang kedua COVID-19. Menurut sebuah studi terbaru di Inggris, cara terbaik untuk menghadapi pandemi COVID-19 adalah dengan lockdown dan penggunaan masker.

Para peneliti meyakini bila semua orang memakai masker, lockdown akan menjadi jauh lebih efektif. Kewajiban memakai masker selama lockdown tidak hanya akan meratakan kurva pandemi, tapi juga mencegah gelombang kedua COVID-19 dan bahkan ketiga.

Untuk membuktikan teori awal tersebut, para peneliti membuat empat model lockdown dengan empat skenario. Skenario tersebut yaitu lockdown dengan masing-masing 0%, 25%, 50% dan 100% dari masyarakat yang menggunakan masker.

cegah iritasi masker sehari-hari covid-19

Berikut gambaran yang diperoleh pada masing-masing skenario:

1. Tidak ada yang memakai masker

Pada skenario pertama, tidak ada orang yang memakai masker sehingga kasus positif naik berlipat ganda. Kasus positif sedikit turun setelah lockdown, tapi gelombang kedua segera dimulai begitu lockdown berakhir.

2. Beberapa orang memakai masker

Apabila satu dari empat orang saja memakai masker, kurva kasus positif akan menjadi lebih landai. Penularan tetap terjadi, tapi risiko pada orang yang rutin memakai masker lebih kecil dibandingkan yang tidak.

3. Separuh populasi memakai masker

Kasus positif awalnya sedikit karena separuh masyarakat terlindung oleh masker, tapi kemudian melonjak drastis setelah pekan keempat. Jika jumlah orang yang memakai masker tidak bertambah, gelombang kedua COVID-19 dapat segera menyusul.

4. Semua orang memakai masker

Risiko penularan menjadi sangat kecil bila semua orang memakai masker, baik masker medis maupun buatan sendiri. Pandemi masih berlangsung, tapi kewajiban memakai masker membuat semua orang lebih terlindung dari infeksi virus SARS-CoV-2.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society A tersebut juga menyebutkan bahwa ketika masyarakat memakai masker, langkah ini bisa menurunkan risiko penularan hingga dua kali lipat.

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Yang terpenting tetap physical distancing

Penerapan social distancing di rumah sakin

Masker memang sangat penting untuk mencegah penularan COVID-19, apalagi di tengah masa transisi new normal pandemi COVID-19. Meski begitu, jangan lupa bahwa yang paling penting adalah physical distancing.

Menurut sebuah penelitian terbitan jurnal The Lancet awal Juni lalu, pemakaian masker ditambah physical distancing dan pelindung mata bisa mengurangi risiko penularan hingga 75-85%.

Untungnya, Anda tidak harus menimbun masker bedah ataupun pelindung mata sebelum keluar rumah. Pasalnya, para ahli menyebutkan bahwa masker cukup bisa diandalkan asalkan dipakai dengan benar.

Agar perlindungannya maksimal, berikut hal-hal yang perlu Anda perhatikan saat memakai masker.

  • Letakkan masker di depan mulut dan hidung.
  • Kaitkan tali pada telinga atau ikat talinya di belakang kepala.
  • Jangan menyentuh masker saat memakainya.
  • Jika Anda tak sengaja menyentuh masker, segera cuci dengan air atau hand sanitizer.
  • Lepaskan masker dengan melepaskan tali tanpa menyentuhnya.
  • Segera cuci tangan Anda setelah melepaskan masker.
  • Cuci masker secara rutin dengan air dan sabun.

Selain membekali diri dengan masker dan physical distancing, pastikan Anda juga menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Cuci tangan secara rutin, hindari menyentuh banyak benda di luar rumah, dan bersihkan barang-barang yang sering Anda gunakan secara berkala.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit