Sering Menonton Serial TV Selama Karantina? Ternyata Ada Manfaatnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Karantina mandiri tampaknya membuat banyak orang semakin sering membaca buku, mendengarkan musik, bahkan menonton belasan episode serial TV secara maraton. Menonton TV seperti serial sejak dulu memang sering dikaitkan dengan dampak buruk, tapi kegiatan ini ternyata memiliki manfaat tersendiri selama masa karantina.

Manfaat menonton serial TV selama pandemi

emboli paru

Jika hari-hari Anda selama karantina terasa penuh dengan episode terbaru serial TV, Anda tidak sendirian. Sebuah studi terbaru justru menemukan bahwa perilaku seperti ini sangat wajar terjadi ketika seseorang menjalani physical distancing.

Menurut beberapa peneliti dari University at Buffalo, AS, menonton serial TV punya manfaat untuk memenuhi kebutuhan sosial Anda. Efeknya mirip seperti saat Anda berkumpul bersama keluarga, kencan dengan pasangan, ataupun menghabiskan waktu dengan orang lain.

Kegiatan menyenangkan yang membuat Anda merasa ‘berdosa’, misalnya menonton serial TV atau membaca novel selama berjam-jam, sebetulnya memiliki manfaat bagi kehidupan sosial Anda. Jadi, Anda tidak harus merasa bersalah saat melakukannya.

Hal ini disebabkan karena otak tidak dapat membedakan antara hubungan asli dengan koneksi yang muncul dari membaca buku atau menonton TV. Ketika Anda merasakan koneksi tersebut, otak menangkap seolah Anda sedang berinteraksi langsung dengan orang lain.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

511,836

Terkonfirmasi

429,807

Sembuh

16,225

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Shira Gabriel, seorang profesor psikologi di University at Buffalo, mengungkapkan ini dalam penelitiannya. Ia dan rekan-rekannya melakukan pengamatan terhadap lebih dari 170 peserta tentang kesejahteraan dan hubungan sosial mereka.

Hasilnya, ada total 17 cara berbeda yang ditempuh para peserta untuk menjalin koneksi sosial. Mereka melakukan cara tradisional seperti bertemu secara langsung, serta cara non-tradisional seperti menonton TV atau mengagumi para selebritas.

Menurut Gabriel, orang yang sehat menggunakan cara tradisional dan non-tradisional sekaligus. Setiap orang juga mempunyai teknik tersendiri untuk menggabungkannya. Jadi, tidak ada salahnya menonton serial TV yang punya manfaat sebagai cara untuk menjalin koneksi.

Menonton serial TV sebaiknya tidak berlebihan

nonton TV

Penelitian Gabriel menunjukkan dengan jelas manfaat menonton serial TV dan kegiatan sejenisnya selama karantina mandiri. Tidak bisa dipungkiri, kegiatan ini memang akan melindungi Anda dari perasaan terisolasi selama masa yang tidak pasti ini.

Serial TV membuat Anda tahu bahwa dunia terus berjalan meski Anda hanya berada di rumah. Cerita yang tertuang dalam serial TV juga mengingatkan Anda akan hubungan dengan orang-orang terdekat sehingga rasa kangen pada mereka bisa sedikit terobati.

Meski begitu, cara non-tradisional seperti ini tidak bisa sepenuhnya menggantikan cara tradisional. Manusia tidak dapat selamanya terisolasi. Anda tetap perlu berinteraksi dengan keluarga, teman, maupun pasangan untuk tetap terhubung dengan mereka.

new normal covid-19

Kendati ada manfaat dari menonton serial TV, interaksi sosial secara langsung tetap menjadi salah satu faktor yang menentukan kesehatan fisik, psikis, dan sosial Anda. Jika hubungan ini terganggu, kesehatan Anda juga dapat terkena imbasnya.

Menonton serial TV, membaca novel, atau bermain game hanyalah cara alternatif untuk bersosialisasi ketika Anda tidak dapat berinteraksi secara langsung. Setelah pandemi berakhir dan situasi kembali aman, jangan lupa temui orang-orang yang Anda sayangi.

Cara menonton serial TV agar tidak berlebihan

wanita menonton video porno

Menonton serial TV tidak melulu buruk. Kebiasaan ini baru menjadi masalah bila sudah mengganggu pekerjaan atau malah membuat Anda semakin terisolasi. Berikut sederet tips sehat untuk menikmati serial TV tanpa takut berlebihan:

1. Menentukan batasan

Supaya Anda tidak kehilangan manfaat menonton serial TV, tentukan berapa episode yang akan Anda tonton atau pada pukul berapa Anda harus berhenti. Jika rasanya sulit, coba pasang pengatur waktu agar TV mati dengan sendirinya.

2. Beristirahat selama lima menit

Otak akan berjalan secara otomatis ketika Anda melihat layar. Ini yang membuat Anda tidak sadar sudah maraton serial TV selama berjam-jam. Cobalah beristirahat selama lima menit untuk minum atau ke kamar mandi untuk mengendalikan kebiasaan ini.

3. Menonton dengan memusatkan perhatian

Cobalah untuk fokus dengan apa yang Anda tonton. Jika Anda mengantuk atau malah sibuk bermain ponsel, mungkin Anda sebenarnya tidak sedang ingin menonton. Anda dapat melakukan hal lain yang lebih menyenangkan, misalnya menelepon teman.

4. Tidak menonton sebelum tidur

Alih-alih memberi manfaat, menonton TV sebelum tidur pada malam hari malah akan mengganggu siklus tidur. Oleh sebab itu, coba batasi waktu menonton Anda dan jangan menonton ketika sudah dekat waktu tidur.

Bosan Saat Social Distancing dan Karantina di Rumah? Coba 6 Kegiatan Ini, Yuk!

5. Tidak mengabaikan hal lain yang lebih penting

Sebelum menonton, lihat kembali apakah Anda sudah menyelesaikan semua pekerjaan pada hari itu. Bila Anda terus mengabaikan hal lain yang lebih penting untuk menonton serial TV, ada baiknya Anda mengurangi kebiasaan ini.

Selama beberapa bulan terakhir, pandemi COVID-19 membuat banyak orang berdiam di rumah tanpa banyak menjalin koneksi. Menonton serial TV jadi salah satu kegiatan selama karantina yang akhirnya dipilih banyak orang.

Tanpa diduga, menonton serial TV ternyata punya manfaat membantu mempererat koneksi sosial Anda dengan dunia luar. Manfaat ini bisa Anda dapatkan selama Anda menonton TV sesuai porsinya.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Awas! Terlalu Sering Nonton Film Sadis Tumbuhkan Sifat Psikopatik Pada Anak

Nonton film dan sinetron memang memompa adrenalin. Tapi awas dampaknya pada tumbuh kembang dan perilaku anak saat mereka dewasa. Selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Parenting, Hidup Sehat, Psikologi 6 September 2017 . Waktu baca 6 menit

Kenapa Kita Sebaiknya Tak Nonton TV Sebelum Tidur?

Punya kebiasaan nonton TV sebelum tidur? Ubah kebiasaan buruk Anda ini mulai sekarang, mengapa? Temukan jawabannya di artikel ini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Fakta Unik 28 Juni 2017 . Waktu baca 4 menit

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Radiasi dari TV cembung zaman dulu memang mungkin merusak mata. Namun apakah efek yang sama dihasilkan dari perangkat televisi modern?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 23 Agustus 2016 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

anak menonton film berdasarkan umur

Antara “SU, PG-13, 18+, dan D”: Ini Pentingnya Menonton Film Sesuai Usia Anak

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 11 Desember 2018 . Waktu baca 5 menit
nonton konser

Suka Nonton Konser? Yuk, Intip Manfaatnya Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Mei 2018 . Waktu baca 4 menit
kebiasaan buruk merusak kesehatan

10 Kebiasaan Sepele yang Tanpa Sadar Merusak Kesehatan Anda

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2018 . Waktu baca 5 menit
batas waktu anak nonton tv

Berapa Lama Seharusnya Waktu yang Dihabiskan Anak untuk Nonton TV?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 14 Februari 2018 . Waktu baca 6 menit