Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kabar kelulusan biasanya diumumkan saat siswa-siswi berkumpul di sekolah. Berita membahagiakan ini akan terasa lebih istimewa ketika mendengarnya bersama dengan teman-teman sekolah lainnya. Sayangnya, momen kelulusan para pelajar pada 2020 ini harus dilewati dengan cara berbeda saat pandemi COVID-19.

Kondisi psikologis bagi yang melewatkan momen kelulusan saat pandemi

Siswa-siswi pelajar tahun 2020 ini menerima kabar kelulusan mereka di rumah masing-masing via pesan elektronik. Tentunya tidak ada momen berbagi peluk dan air mata haru dengan teman-teman seperjuangan. Tidak ada hari terakhir di kelas, upacara wisuda, apalagi pesta kelulusan.

Momen kelulusan adalah masa-masa penting yang bisa berpengaruh pada kondisi emosional remaja. Namun, itu tidak bisa dilakukan karena pandemi dan semua orang termasuk para pelajar diminta beradaptasi dengan anjuran social distancing.

Ludmila De faria, psikiater Florida State University, mengatakan bahwa budaya upacara kelulusan adalah salah satu cara membimbing seseorang dalam melalui peristiwa besar kehidupan. Momen berjalan ke panggung (terutama bagi para mahasiswa) dan menerima tanda kelulusan menggambarkan perpindahan mereka ke fase lain kehidupan.

“Para remaja kehilangan pengalaman-pengalaman ini. Mereka kehilangan kesempatan untuk berhubungan dengan rekan-rekan mereka pada masa transisi kritis menuju dewasa,” kata De faria. 

“Mereka berduka karena kehilangan kejadian penting yang seharusnya mereka lakukan saat ini dalam hidup mereka,” jelas De faria. Ia mengacu pada pelajar SMA yang lulus di masa pandemi COVID-19 ini.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

207,203

Terkonfirmasi

147,510

Sembuh

8,456

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Prinsip inti dalam psikologi perkembangan berpusat pada perbedaan-perbedaan kecil yang berdampak besar. Dalam hal ini terutama saat masa transisi yang cepat dan sedang dihadapkan pada banyak pilihan masa depan.

Nancy Darling, profesor ilmu psikologi Oberlin College, menjelaskan bahwa masa transisi ini ibarat mengemudi di jalan yang licin.

“Anda gelisah tapi tidak bisa memegang kendali sepenuhnya dan sedikit kesalahan pada kemudi bisa memberi efek besar pada kestabilan mobil. (Itu) bisa terpeleset atau kecelakaan,” tulis Darling.

Hal ini juga berlaku untuk kelulusan. Saat pandemi, sidang kelulusan yang biasanya dilakukan dengan disaksikan oleh teman-teman harus dilakukan secara online dan dengan segala keterbatasan.

cara sehat karantina diri COVID-19

“Ketika anak muda melewatkan berbagai peristiwa penting ini seperti mereka dipaksa untuk mengambil sedikit langkah mundur atau tidak mengalami kemajuan seperti yang diharapkan dalam tahap perkembangan,” jelas De faria. 

Ia menjelaskan hal itu khususnya bagi mahasiswa yang kehilangan sistem pendukung yang biasanya mereka dapatkan dari rekan-rekan di kampus. Pengalaman ini bisa menjadi trauma, terutama untuk mereka yang mengalami kecemasan.

Tips memberi dukungan bila melewatkan kelulusan saat pandemi

Kelulusan saat pandemi

Profesor Darling berpesan bahwa pelajar yang menyelesaikan tahun terakhir sekolah dan melewatkan momen kelulusan pada masa pandemi COVID-19 harus berhati-hati dalam merespons kondisi.

“Bagi kamu yang melalui kelulusan di masa pandemi COVID-19, menumbuhkan ketangguhan adalah hal terbaik untuk melewati kondisi ini,” kata Darling.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang sekitar beserta para pelajar dan mahasiswa dalam memberikan dukungan kepada satu sama lain.

1. Pahami perasaan mereka

Penting bagi orangtua memahami perasaan anak mereka (terutama pelajar dan mahasiswa pada masa kelulusan), memahami kesedihan dan kekecewaan karena dibatalkannya wisuda dan perayaan kelulusan saat pandemi COVID-19.

Untuk para pelajar dan mahasiswa sendiri, menjalani tahap kehidupan yang tidak bisa diprediksi bisa menjadi hal yang menakutkan. 

“Dalam hal ini, orangtua bisa menjadi penenang dan teman diskusi,” ujar De faria.

2. Tetap berhubungan dengan teman-teman mereka

Para pelajar dan mahasiswa perlu membangun hubungan sosial atau pertemanan yang dapat mereka andalkan selama melalui masa pandemi.

Tetap berhubungan sosial walau hanya melalui sambungan virtual dapat sangat membantu kesehatan emosional mereka. Komunikasi ini bisa membuat mereka tetap berpikir positif selama pandemi.

5 Langkah Berpikir Positif Selama Menghadapi Pandemi COVID-19

3. Buat rencana untuk dilakukan setelah pandemi berakhir

Walaupun wisuda atau pesta kelulusan ditunda atau dibatalkan karena COVID-19, para pelajar dan mahasiswa tetap bisa membuat rencana khusus setelah pandemi berakhir. Misalnya, pergi wisata bersama atau membuat rencana berkumpul dan membuat pesta pengganti. 

Fokuskan pada peristiwa atau kegiatan positif yang bisa dilakukan setelah pandemi COVID-19 berakhir. Ketika mampu melewati krisis ini, mereka akan menyadari dapat mengatasi situasi sulit yang membuat mereka lebih kuat.

“Ini akan membuat kita lebih kuat, karena terkadang kemampuan kita mengejutkan diri kita sendiri,” tutur De faria.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Polusi udara meningkatkan risiko tingkat kesakitan dan kematian pada pasien COVID-19 dibandingkan dengan pasien yang berada di wilayah rendah polusi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 Berbahaya yang Datang Diam-diam

Happy hypoxia adalah gejala COVID-19 yang baru-baru ini diketahui dan dinyatakan sebagai salah satu gejala berat yang membahayakan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 7 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Pria 33 tahun yang tertular COVID-19 dua kali setelah dinyatakan sembuh pada akhir Maret. Apakah kekebalan terhadap infeksi kedua tidak terbentuk?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Amerika Izinkan Perawatan COVID-19 dengan Plasma Darah Pasien Sembuh, Apa itu?

Plasma darah pasien sembuh dipercaya mampu menjadi terapi untuk menangani pasien COVID-19. Meski begitu keefektifannya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

apa itu depresi

Penyakit Mental

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
jenis masker

Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit
uji coba vaksin covid-19

Perkembangan Terakhir Sejumlah Calon Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 7 menit
anak covid-19 peradangan multisistem

Sindrom Peradangan Multisistem, Gejala COVID-19 Berbahaya pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit