Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Setelah seratus tahun lebih pasca flu spanyol 1918 berlalu, kebiasaaan kebiasaan mencuci tangan kembali menjadi perhatian besar di masa pandemi COVID-19 ini. Di Indonesia, kebiasaan mencuci tangan juga semakin digencarkan di mana-mana melalui berbagai media.

Setiap kali hendak memasuki gedung-gedung, tempat makan, dan ruang publik lainnya kita diharuskan  mencuci tangan atau menyemprotkan hand sanitizer terlebih dulu. Tempat-tempat mencuci tangan pun disediakan di banyak ruang publik dan fasilitas umum demi menegakkan kebiasaan ini.

Seperti perubahan kebiasaan ini terjadi selama pandemi yang telah berlangsung delapan bulan lamanya? Akankah mencuci tangan menjadi kebiasaan baru kita meski pandemi berakhir?

Kebiasaan mencuci tangan meningkat selama pandemi COVID-19

Sabun membunuh COVID-19

Kebiasaan mencuci tangan masyarakat Amerika Serikat dilaporkan banyak mengalami perubahan selama pandemi COVID-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat  (CDC) melakukan studi menggunakan data survei publik.

Survei dilakukan secara daring pada orang dewasa AS yang diambil pada bulan Juni 2020. Hasilnya sekitar 75% dari peserta survei menyatakan selalu ingat kewajiban untuk mencuci tangan sebelum melakukan berbagai aktivitas.

Isi survei tersebut menanyakan peserta tentang situasi ketika mereka biasanya ingat untuk mencuci tangan, seperti setelah menggunakan kamar mandi di rumah; setelah menggunakan kamar mandi di tempat umum; setelah batuk, bersin, atau membuang ingus; sebelum makan di rumah; sebelum makan di restoran; dan sebelum menyiapkan makanan di rumah.

Kebiasaan mencuci tangan menjadi salah satu langkah paling penting dalam upaya pencegahan penularan COVID-19. Dua kebiasaan lain yang paling penting dalam pencegahan penularan virus ini adalah menjaga jarak dan mengenakan masker. Ketiganya tidak bisa menggantikan peran satu sama lain. 

Pada tahun 2019 atau sebelum pandemi COVID-19, sekitar 63% mengatakan mencuci tangan sebelum makan di rumah, 55% mengatakan mencuci tangan sebelum makan di restoran, dan 53% mengatakan mencuci tangan setelah batuk, bersin, atau membuang ingus.

Selama pandemi, lebih banyak orang melaporkan mencuci tangan dalam berbagai situasi ini. Sekitar  74% peserta mengatakan ingat untuk mencuci tangan sebelum makan di rumah, 70% ingat untuk mencuci tangan sebelum makan di restoran, dan 71% ingat untuk mencuci tangan setelah batuk, bersin, atau membuang ingus.

Namun angka peningkatan kesadaran dalam mencuci tangan ini dianggap masih kurang dan seharusnya bisa lebih baik lagi. Hal ini karena 1 dari 4 orang peserta survei masih lupa mencuci tangan setelah batuk, bersin, atau membuang ingus. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Kebiasaan mencuci tangan berdasarkan kelompok

mencuci tangan kebiasaan baru pandemi covid-19

CDC juga membagi kategori survei berdasarkan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan melaporkan mengalami peningkatan dalam mengingat untuk mencuci tangan.

Jika dikelompokkan berdasarkan kelompok usia, persentase anak muda (usia 18 – 24 tahun). Pada tahun 2020 dilaporkan mengingat untuk mencuci tangan setelah mengalami gejala pernapasan dibandingkan dengan tahun 2019. 

Sedangkan persentase orang dewasa berusia diatas 25 tahun dilaporkan mengingat untuk mencuci tangan sebelum makan di rumah dan di restoran serta setelah mengalami gejala pernapasan pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2019.

Peneliti mencatat perempuan berusia lebih tua lebih cenderung memiliki peningkatan kesadaran dalam mencuci tangan dibandingkan laki-laki dan anak muda. 

Mencuci tangan dengan sabun apa yang ampuh membunuh COVID-19?

sabun bunuh COVID-19

Mencuci tangan dengan sabun adalah satu tindakan pencegahan yang lebih digencarkan dibanding penggunaan obat-obatan. 

Pada 2007, jauh sebelum pandemi COVID-19, Jurnal Kedokteran Inggris (British Medical Journal), mempublikasikan penelitian mengenai pentingnya mencuci tangan dengan sabun secara teratur, menggunakan masker, dan pelindung diri termasuk sarung tangan bisa lebih efektif untuk penahan penyebaran virus seperti ISPA dan SARS.

Virus yang menempel di tangan bisa menginfeksi tubuh ketika tangan yang terkontaminasi tersebut menyentuh wajah. Karena itu cuci tangan menjadi tindakan pencegahan yang penting. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mencuci tangan menggunakan sabun adalah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit infeksi. Tapi sabun yang seperti apa sih?

Gencarnya sosialisasi kebiasaan mencuci tangan membuat banyak iklan sabun dengan label pembunuh virus. Nyatanya tanpa label itu pun, semua jenis sabun mampu membunuh kuman dan virus yang menempel di tangan. Dengan syarat, cuci tangan dilakukan menggunakan sabun selama 20 detik dan membilasnya dengan air mengalir.

Bagaimana dengan kebiasaanmu mencuci tangan?

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit