Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 telah menyebabkan hampir dua juta kasus di seluruh dunia dan ratusan ribu orang meninggal dunia. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan jumlah kasus, terutama pembatasan gerakan. Akan tetapi, imbauan tersebut ternyata meningkatkan jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi lebih sering dan berbahaya selama pandemi. 

Lantas, bagaimana menghadapi masalah ini ketika ‘terpaksa’ harus berada dengan pelaku kekerasan?

KDRT selama pandemi coronavirus meningkat 

korban kdrt bertahan

Pandemi yang membuat orang-orang harus membatasi pergerakan dan menjaga jarak dengan orang lain ini ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik saja.

Menurut Nahar, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), di luar persoalan kesehatan, pandemi COVID-19 meningkatkan risiko kekerasan secara emosional, fisik, dan seksual. Hal ini kerap terjadi pada anggota keluarga yang menjadi sasaran pelaku, termasuk ibu dan anak. 

Pasalnya, bagi orangtua kelas menengah ke bawah yang pendapatannya berasal dari pemasukan harian, ‘kerja atau belajar dari rumah’ dapat membuat penghasilan mereka menurun. Tidak sedikit yang tidak berpenghasilan karena diberhentikan dari tempat bekerja mereka. 

Terlebih lagi, situasi pandemi membuat kebanyakan orang semakin stres. Mulai dari berita dan media sosial yang berisi konten negatif perihal wabah, berdesak-desakan di rumah, hingga ancaman kehilangan pekerjaan. 

Akibatnya, tidak jarang anggota keluarga menjadi sasaran kemarahan pelaku, seperti anak dan ibu yang mungkin terbiasa di rumah.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,165

Terkonfirmasi

5,877

Sembuh

1,418

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Maka itu, tidak mengherankan KDRT selama pandemi coronavirus meningkat drastis karena faktor yang membuat pelaku stres dan melimpahkan kemarahannya ke orang lain.

Tidak sedikit dari pelaku yang mencoba membenarkan perilaku kasar yang mereka lakukan dengan menyalahkan faktor lain, termasuk pasangan mereka.

Terlebih lagi jika mereka memiliki kekuatan yang lebih besar, sehingga imbauan isolasi di rumah membuat risiko korban terluka semakin besar. 

Resiko KDRT pada anak selama pandemi

kekerasan diturunkan

Selain pasangan yang mengalami KDRT dari pelaku, anak pun juga bisa mendapatkan perlakuan yang sama selama pandemi ini berlangsung.

Hal ini dikarenakan anak pun tidak dapat ‘melarikan diri’ ke sekolah atau sekadar berkumpul dengan temannya. Ia diharuskan untuk tetap berada di rumah, melihat perlakuan kasar orangtua atau anggota keluarga lainnya. 

Menurut American Psychological Association, peningkatan stres di kalangan orangtua sering berujung pada pelecehan fisik dan menelantarkan anaknya sendiri. Pasalnya, sumber daya yang orangtua andalkan, seperti menitipkan anak di sekolah atau tempat khusus, tidak lagi tersedia. 

Bahkan, banyak organisasi perlindungan anak yang tidak lagi dapat mengunjungi anak yang mungkin disinyalir mendapatkan kekerasan di rumah.

Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orangtua yang mungkin mahir dalam mengurus anak karena ikatan antara orangtua dan anak sedang diuji. Akibatnya, lonjakan kasus KDRT selama pandemi coronavirus pun tidak dapat dihindari. 

Selain itu, anak juga mengalami stres dan merasa khawatir tentang wabah penyakit ini. Orangtua mungkin merasa tertekan dalam menanggapi perilaku anak mereka atau menuntut mereka untuk mengerjakan tugas dengan cara yang kasar atau agresif. 

Cara menghadapi KDRT selama pandemi

kekerasan emosional

Salah satu tantangan yang muncul saat mengalami KDRT selama pandemi adalah berkurangnya organisasi yang dapat membantu mengatasi masalah ini. Selain adanya pembatasan pergerakan, organisasi ini juga tidak dapat bergerak banyak karena beberapa dari mereka harus memberhentikan karyawannya karena kekurangan dana. 

Sementara itu, kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT adalah masalah yang cukup rumit dan cara menghadapinya pun tidak begitu mudah, terutama di tengah wabah seperti ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan mungkin membantu Anda dan pasangan mengatasi masalah ini, seperti:

1. Lebih fokus pada keselamatan

Salah satu cara menghadapi KDRT selama pandemi adalah mulai lebih fokus terhadap keselamatan diri sendiri dan anggota keluarga lainnya yang terkena dampak. 

Cobalah untuk mendengarkan kata hati dan lakukan sesuatu jika situasi mengancam keselamatan diri sendiri atau anak Anda. Usahakan untuk melihat tanda-tanda pelecehan yang mungkin dilakukan oleh pasangan dan bisa berujung pada kekerasan fisik. 

2. Menetapkan batasan tertentu

Setelah mampu memprioritaskan keselamatan, cara lainnya untuk menghadapi KDRT selama pandemi adalah menetapkan batasan tertentu. 

Menentukan batas terhadap orang yang berpotensi melakukan pelecehan dan kekerasan mungkin akan terdengar sulit. Maka itu, Anda bisa mulai dengan berbicara baik-baik dan minta mereka untuk menghormati Anda, tetapi tetap tegas. 

Apabila pelaku tidak dapat menghormati batas atau merasa diprovokasi oleh mereka, bisa saja itu menjadi pertanda Anda perlu mengambil langkah selanjutnya.

cemas covid-19

Sebenarnya, ada banyak panduan untuk membantu korban membuat rencana menyelamatkan diri sendiri di situs web tertentu. Mulai dari mempersiapkan dokumen penting, uang tunai, hingga kunci cadangan. 

Hal ini juga berlaku pada anak-anak yang mengalami KDRT atau mengirim pesan ke orang lain untuk membantu mereka menghadapi situasi berbahaya. 

3. Mencari bantuan

risiko kesehatan menjadi psikolog

Apabila Anda sudah mencoba menetapkan batasan dan tidak terlalu berhasil, carilah bantuan untuk mengatasi masalah KDRT selama pandemi coronavirus. 

Walaupun beberapa organisasi tidak dapat menjalankan pelayanan seperti biasanya, ada beberapa grup yang tersebar secara daring dan juga hotline. Hal ini bertujuan untuk membantu korban mengatasi rasa bingung dan takut atas pelecehan dan kekerasan yang mereka terima. 

Selain itu, tidak sedikit tempat perlindungan yang masih menawarkan konsultasi atau sesi terapi lewat tepat. Walaupun lebih singkat dibandingkan terapi biasanya, setidaknya Anda masih bisa mendapatkan saran dari profesional. 

4. Bertindak tegas

KDRT selama pandemi mungkin tidak hanya sebatas pelecehan emosional, melainkan juga banyak korban yang mengalami kekerasan fisik.

Apabila hal ini terjadi pada Anda, sudah saatnya untuk bertindak tegas meskipun segala cara sudah dicoba untuk menyelamatkan hubungan dengan pelaku. 

Segera hubungi polisi atau kontak darurat lainnya yang masih beroperasi, seperti tempat perlindungan atau badan penegak hukum. Setidaknya mereka dapat menyelamatkan Anda dari situasi terburuk dengan memisahkan diri dari pelaku

Tips Donor Darah yang Aman Saat Pandemi COVID-19

Jumlah kasus KDRT selama pandemi coronavirus memang akan menyebabkan trauma yang parah dan membutuhkan bantuan dari penegak hukum dan profesional.

Apabila Anda atau anggota keluarga lainnya merasa mengalami tanda-tanda pelecehan dan kekerasan selama wabah, segera konsultasikan dengan ahlinya.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 22/05/2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 21/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit kawasaki covid-19 anak

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
minum alkohol membunuh coronavirus

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020