KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pandemi COVID-19 telah menginfeksi jutaan orang di dunia dan ribuan orang di Indonesia, membuat masyarakat harus tetap di rumah dan mengurangi kegiatan di luar. Kondisi ini disebut sebagai salah satu penyebab konflik rumah tangga dan meningkatnya kasus KDRT.

Beda KDRT dan konflik rumah tangga selama pandemi COVID-19

KDRT konflik rumah tangga

Bagi sebagian orang, pandemi COVID-19 membuat anggota keluarga harus berada di rumah dan bertemu 24 penuh setiap hari. Istri dan suami harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru dengan jadwal kerja masing-masing. Saat ada kesalahan komunikasi, kondisi tersebut membuat hal-hal kecil bisa berubah menjadi konflik antara suami-istri.

“Pandemi membuat suami istri yang tadinya sama-sama pergi kerja jadi lebih intens bertemu. Semakin sering orang bersama, potensi konflik itu semakin meningkat,” kata Nurindah Fitria, psikolog klinis Yayasan Pulih.

Yayasan pulih adalah organisasi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan layanan psikologis, khususnya pada korban kekerasan.

Nurindah memberikan contoh situasi berpotensi konflik yang muncul saat masa pandemi. Misalnya istri dan suami ada jadwal rapat pukul 09.00 tapi mereka tidak mengomunikasikannya terlebih dahulu. 

“Pada pagi hari saling menyalahkan. Istri ingin suaminya ikut membantu menyiapkan anak sedangkan suami harus menyiapkan bahan meeting. Terjadi ketegangan, lalu saling menyalahkan. Ini kan konflik,” terang Nurindah. 

Saat konflik tersebut muncul, membesar, dan tidak bisa terselesaikan dengan baik, maka percekcokan yang berujung kekerasan berpotensi muncul. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

282,724

Terkonfirmasi

210,437

Sembuh

10,601

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Nurindah menjelaskan, konflik rumah tangga tersebut tidak serta-merta bisa dikatakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).  Meskipun KDRT juga bisa berawal dari sebuah konflik.

Kekerasan tersebut disebut dengan kekerasan situasional atau disebut situational couple violence (SCV). Dalam kekerasan situasional pada hubungan rumah tangga, suami dan istri bisa memikirkan kembali pertengkaran yang terjadi, mengungkapkan pendapat, dan membicarakan kesalahpahaman yang terjadi.

Setelah ketegangan mereda, pasangan bisa mendengar pendapat dan memahami kondisi masing-masing. Konflik tersebut bisa diselesaikan dengan mencari solusi dari masalah utama yang timbul. 

“Di sinilah letak perbedaan antara konflik rumah tangga yang menimbulkan kekerasan situasional dan KDRT,” jelas Nurindah.

“Dalam konflik, biasanya akan ada solusi karena kepentingan masing-masing pihak bisa dikomunikasikan. Sedangkan dalam KDRT, salah satu pihak merasa harus didahulukan dan tidak ada kesetaraan peran di sana,” lanjutnya.

COVID-19

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selama pandemi

KDRT konflik rumah tangga

Dalam hubungan yang sehat, peran setiap orang dalam hubungan itu setara, dalam mengungkapkan pendapat, perasaan, dan pikiran. Dengan kata lain, setiap yang dikerjakan oleh masing-masing individu dihargai dan diapresiasi.

Namun, dalam KDRT hal itu tidak terjadi. Misalnya sama-sama ada rapat pagi hari, suami merasa dia harus didahului dibandingkan dengan istri. Suami merasa perannya lebih penting sehingga mengesampingkan peran istri.

Bila istri membela diri, suami lalu mengungkapkan kata-kata dengan lantang dan mengancam.

“Misalnya, ‘kalau kamu tidak menurut, maka saya pukul’. Kekerasan digunakan untuk mengendalikan bukan sekadar peluapan emosi sesaat dan itu dilakukan terus-menerus,” jelas Nurindah.

Berbeda dengan konflik rumah tangga, KDRT biasanya sudah terlihat bibitnya sebelum masa pandemi. Ada pola berulang dan bisa jadi memuncak ketika pandemi memaksa pasangan bertemu lebih intens dari biasanya. 

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Hubungan tidak sehat yang berdampak pada KDRT muncul karena ketidakadilan atau ketidaksetaraan peran. Ada relasi satu pihak yang bersifat berkuasa dan pihak yang lain menjadi koordinat bawahannya.

Itu berarti kasus KDRT yang meningkat saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini tidak terjadi pada keluarga yang tadinya baik-baik saja.

“Ketidakadilan peran itu sudah ada sejak sebelumnya. Itu yang harus ditekankan. Jadi adanya pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar saja ya,” tutur Nurindah.

Hubungan rumah tangga yang sehat bukan berarti tanpa konflik. Untuk hubungan yang sehat, konflik rumah tangga yang timbul dalam masa pandemi ini tidak akan berakhir menjadi KDRT.

Bagaimana membantu tetangga korban KDRT?

mengalami gangguan kecemasan

Saat melihat korban KDRT, Anda tidak serta merta bisa bertindak karena khawatir dianggap ikut campur dalam konflik rumah tangga orang lain. Walaupun begitu, Anda merasa perlu untuk mendampingi korban KDRT.

Nurindah mengatakan yang paling dibutuhkan oleh korban adalah pertolongan. Perlaku kerap kali memanipulasi korban. Secara perlahan, pelaku mengurangi rasa percaya diri korban, menjauhkan korban dari lingkungan sosial, dan membuat korban merasa tidak punya tempat untuk dimintai pertolongan. 

“Jadi hal pertama adalah memastikan si korban mengetahui bahwa di lingkungannya ada kelompok yang siap membantu saat sesuatu terjadi,” kata Nurindah. 

Pelaku KDRT akan mengancam dan menyerang para penolong. Nurindah memberi saran mereka yang berniat membantu sudah lebih dulu memastikan punya kekuatan untuk menerima ancaman dari pelaku.

“Kelompok atau rukun tetangga bersama ketua RT akan menjadi solusi yang baik dalam menolong korban KDRT,” tutup Nurindah.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

IDI mengatakan Indonesia bisa menjadi episentrum COVID-19 dunia karena penularannya yang tidak terkendali. Apa yang harus dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
melihat bullying

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit