Kasus Bunuh Diri Selama Pandemi dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Coronavirus tidak hanya berefek pada fisik tetapi juga pada kesehatan mental, terutama kekhawatiran kasus bunuh diri yang meningkat di masa pandemi COVID-19. Bunuh diri kemungkinan akan menjadi sesuatu yang mendesak untuk menjadi perhatian karena penyakit ini menyebar dengan cepat.

Penelitian dari Pine Rest Christian Mental Health Services memperkirakan peningkatan kasus bunuh diri sebesar 32% karena kehilangan pekerjaan, stres terkait kehilangan orang yang dicintai, dan kesepian karena isolasi atau karantina.

Karena itu, respons pencegahan bunuh diri perlu menjadi perhatian pada masa pandemi COVID-19.

Kasus bunuh diri terkait kondisi pandemi COVID-19

bunuh diri covid-19

Kabar kasus bunuh diri terkait kondisi pandemi COVID-19 mulai bermunculan. Hingga saat ini, di dunia terdapat setidaknya 5 kasus bunuh diri. 

Pertama seorang perawat di Italia, perempuan berusia 34 tahun ini melakukan bunuh diri setelah dinyatakan positif COVID-19. Ia takut menginfeksi orang lain dan menderita stres berat karena takut virus yang ia bawa bisa membahayakan nyawa orang lain.

Kedua, Menteri Keuangan Negara Bagian Jerman Hasse, Thomas Schaefer. Schaefer mengakhiri hidupnya sendiri diduga karena khawatir akan dampak ekonomi dari pandemi COVID-19.

Ketiga ada seorang remaja di Inggris yang tertekan karena isolasi di rumah dan membunuh dirinya sendiri.  

Keempat, seorang dokter bertugas di departemen gawat darurat salah satu rumah sakit di Amerika bunuh diri setelah dia sembuh dari COVID-19. Setelah sembuh, kepala departemen gawat darurat ini kembali ke rumah sakit dan berniat untuk kembali bekerja tapi pihak rumah sakit menolaknya. 

“Dia mencoba untuk melakukan pekerjaannya, tapi pekerjaannya membunuh dia,” kata ayah korban yang juga seorang dokter, seperti dilansir dari The New York Times. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

262,022

Terkonfirmasi

191,853

Sembuh

10,105

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Kelima, seorang paramedis di instalasi gawat darurat (IGD) di salah satu rumah sakit di Amerika Serikat. Pria yang baru menjalani pekerjaannya selama 3 bulan ini bunuh diri diduga karena tidak kuat melihat pasien COVID-19 yang meninggal setiap harinya. 

Sedangkan di Indonesia, seorang sopir taksi online mengakhiri hidup diduga karena tidak bisa membayar cicilan mobil. Secara umum, supir taksi dan ojek online menjadi salah satu dari banyak pekerja yang pendapatannya terganggu selama pandemi ini. 

Kenapa kondisi COVID-19 membawa risiko bunuh diri

Perawat COVID-19 Indonesia, risiko bunuh diri

Secara historis, pandemi penyakit telah dikaitkan dengan konsekuensi psikologis yang serius. Kondisi pandemi COVID-19 saat ini memang sudah menuntut banyak perubahan pada kebiasaan hidup masyarakat.

Pada sebagian besar orang kondisi ini membuat banyak kecenderungan rasa kesepian, lebih tertekan, dan tidak memiliki hubungan sosial.

Sebuah makalah baru di jurnal JAMA Psychiatry berspekulasi bahwa risiko bunuh diri dapat meningkat selama pandemi. Hal ini karena orang semakin bergulat dengan tantangan ekonomi, isolasi sosial, penurunan akses dukungan masyarakat dan agama, dan gangguan sehari-hari lainnya.

Mark Reger, profesor ilmu psikiatri dan perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas Washington, mencatat bahwa jarak sosial selama pandemi COVID-19 dapat menyebabkan peningkatan bunuh diri. Isolasi berkepanjangan dengan situasi serba tak menentu membuat seseorang berada dalam kungkungan.

sabun bunuh COVID-19

Reger menekankan bahwa salah satu yang memiliki risiko bunuh diri selama pandemi COVID-19 adalah tekanan pada petugas kesehatan. 

Dalam jurnalnya tersebut Reger menuliskan bahwa banyak penelitian mendokumentasikan peningkatan angka bunuh diri di kalangan profesional medis. 

Petugas medis ini sekarang melayani di garis depan pertempuran melawan COVID-19. Kekhawatiran mereka akan terinfeksi serta kemungkinan menularkan pada anggota keluarga dan kolega yang sakit membayang-bayangi mereka.

Selain itu, kekurangan Alat Pelindung Diri (APD), fasilitas yang kewalahan, dan stres kerja adalah hal-hal yang berpotensi menekan psikologis mereka.

Pencegahan kasus bunuh diri bertambah saat pandemi COVID-19

video call saudara dan kawan

Meskipun sulit mengendalikan arah pandemi coronavirus atau kapan pembatasan jarak fisik dicabut, tapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi kesejahteraan emosional kita selama masa percobaan ini. 

Reger menjelaskan bahwa tekanan ekonomi, isolasi sosial, dan faktor risiko terkait kesehatan dapat meningkatkan kemungkinan bunuh diri selama masa-masa seperti ini, tetapi Reger juga mencatat bahwa ada peluang untuk pencegahan.

“Tetap ada cara yang bisa dilakukan untuk tetap terhubung dan menjaga hubungan. Terutama di antara individu dengan faktor risiko besar untuk bunuh diri,” tekan Reger.

Tips mencegah kasus bunuh diri selama COVID-19

Berikut beberapa cara pencegahan untuk mengantisipasi kasus bunuh diri selama pandemi COVID-19.

  1. Untuk menjaga kesehatan emosional dan mencegah bunuh diri selama pandemi COVID-19, usahakan tetap terhubung dengan teman dan keluarga. Jadilah kreatif perihal ‘berkumpul bersama’ dengan cara berbeda. Teknologi seperti Zoom, video call, atau koneksi virtual lainnya saat ini bisa diandalkan dengan baik. 
  2. Temukan kembali kegiatan yang sebelumnya menyenangkan atau cari hobi baru yang memungkinkan dilakukan pada kondisi terbatas saat ini. 
  3. Jika orang yang dicintai sedang berjuang dengan depresi atau kecemasan selama masa ini, sapa mereka dan tanyakan apakah ada yang bisa Anda bantu. Jika orang itu menjawab tidak tahu, cobalah untuk menghubunginya setiap hari untuk sekadar menyapa dan menanyakan kabar. Cara sederhana ini mungkin bisa membantunya menghindari pikiran bunuh diri selama pandemi COVID-19.
  4. Cari bantuan saat merasa kesusahan. Gunakan layanan konseling jarak jauh dari para profesional kesehatan jiwa.

10 Tips Mencegah Ibu Hamil Stres Selama Pandemi COVID-19

Meskipun stres dan sulit, kondisi pandemi ini harus kita lewati dengan kuat. Seperti yang Reger katakan situasi ini juga dapat menghasilkan “efek kebersamaan”, efek di mana orang-orang saling mendukung dan memperkuat hubungan sosial karena pengalaman bersama ini.

“Ingat bahwa kita semua terlibat dalam hal ini bersama-sama dan kita akan melewatinya bersama-sama,” kata Reger.

Jika Anda atau orang terdekat Anda membutuhkan bantuan profesional, hubungi hotline kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan di (021) 500-454 atau LSM Jangan Bunuh Diri di (021) 9696-9293.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit