Bagaimana Novel Coronavirus Bisa Menyebar Cepat di Kapal Pesiar?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update April 29, 2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kapal pesiar Diamond Princess kini sedang dikarantina di wilayah perairan Yokohama, Jepang, menyusul ditemukannya penumpang yang terinfeksi novel coronavirus. Kapal tersebut rencananya akan dikarantina selama 14 hari untuk mencegah virus menyebar luas, terhitung sejak hari Rabu (5/2) hingga Sabtu (25/2).

Novel coronavirus adalah virus yang menyebar dengan cepat. Pada lingkungan tertutup seperti kamar pasien, pesawat, atau kapal pesiar, penularan virus berkode 2019-nCoV ini bahkan bisa menjadi lebih cepat lagi. Lantas, bagaimana kondisi terkini penumpang kapal pesiar Diamond Princess setelah ditemukannya kasus novel coronavirus?

Munculnya novel coronavirus di kapal pesiar

Sumber: Pikrepo

Kapal pesiar Diamond Princess rencananya akan membawa 3.711 penumpang dan kru ke Jepang, sebelum akhirnya dikarantina begitu memasuki perairan negara tersebut. Karantina berawal dari ditemukannya penumpang yang terinfeksi novel coronavirus.

Orang pertama yang terkonfirmasi adalah penumpang berusia 80 tahun yang berasal dari Hong Kong. Penumpang tersebut mengalami gejala infeksi novel coronavirus dan menunjukkan hasil positif setelah menjalani pemeriksaan

Otoritas kesehatan Jepang lalu memerintahkan tes terhadap sembilan penumpang lain dalam kapal pesiar tersebut yang diduga mengalami gejala infeksi novel coronavirus. Dengan demikian, penumpang yang menjalani tes awalnya berjumlah sepuluh orang.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

22,750

Terkonfirmasi

5,642

Sembuh

1,391

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Akan tetapi, langkah ini dinilai kurang efektif karena otoritas kesehatan Jepang hanya melakukan pemeriksaan terhadap penumpang yang menunjukkan gejala. Penumpang lain yang tidak menunjukkan gejala apa pun tidak menjalani pemeriksaan.

Padahal, ada kemungkinan penumpang lain dalam kapal pesiar tersebut telah terinfeksi novel coronavirus tanpa menunjukkan gejala. Penularan mungkin terjadi tanpa terdeteksi karena novel coronavirus sama seperti virus pada umumnya yang memiliki masa inkubasi.

Masa inkubasi merupakan kurun waktu antara infeksi bibit penyakit hingga munculnya gejala pertama. Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), masa inkubasi novel coronavirus kemungkinan berkisar antara 2-14 hari.

Selama masa inkubasi, penumpang kapal pesiar yang terjangkit novel coronavirus bisa saja menularkan infeksi ke orang lain tanpa menyadarinya. Hal ini sempat disampaikan oleh Menteri Kesehatan Tiongkok beberapa waktu lalu. Ia mengimbau semua pihak agar lebih waspada karena virus ini mungkin menular tanpa gejala.

Tidak lama usai munculnya kasus novel coronavirus di kapal pesiar Diamond Princess, Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato, memberikan pernyataan lebih lanjut. Kato berencana mengerahkan otoritas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan terhadap seluruh 3.711 orang yang berada di kapal tersebut.

Tindak lanjut untuk mengendalikan penyebaran novel coronavirus

karantina adalah

Mengacu data Worldometer, novel coronavirus hingga Selasa (11/2) telah menginfeksi 43.104 orang di 28 negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.345 pasien berada dalam kondisi serius dan 1.018 lainnya meninggal dunia. Sementara itu, sekitar 4.043 pasien telah dinyatakan pulih

Angka infeksi dan kematian akibat novel coronavirus terus meningkat sejak kemunculan pertamanya pada Desember 2019. Kasus novel coronavirus yang kini terjadi di kapal pesiar Diamond Princess pun ikut menambah jumlah orang terinfeksi dari Jepang sebanyak 67 orang dan Hong Kong sebanyak satu orang.

Guna mencegah penyebaran lebih lanjut, para penumpang yang dikonfirmasi terjangkit novel coronavirus diturunkan di pesisir pantai di Yokohama. Mereka dijemput dengan ambulans dan dibawa ke rumah sakit di Prefektur Kanagawa, Jepang, untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Sementara itu, sisa penumpang lainnya dan kru tetap berada di kapal pesiar untuk menjalani masa karantina selama 14 hari. Selama karantina, pihak kapal menyediakan kebutuhan logistik, layanan telepon, dan internet gratis untuk kemudahan komunikasi.

Kendala terbesar yang dihadapi pihak kapal sejauh ini adalah memenuhi kebutuhan obat untuk lebih dari 600 orang di atas kapal. Sebagian besar orang yang memerlukan obat-obatan tersebut adalah lansia.

Hampir setengah dari penumpang kapal pesiar Diamond Princess memang merupakan lansia berumur 70 tahun atau lebih yang rentan terinfeksi novel coronavirus. Bahkan, salah satu lansia di kapal tersebut kini berada dalam kondisi serius, seperti dilansir dari NHK World Japan.

Kabar WNI dan penyebaran novel coronavirus

Memakai masker agar terhindar dampak dari polusi udara

Terkait adanya warga negara Indonesia (WNI) di kapal Diamond Princess, Kementerian Luar Negeri mencatat ada 78 WNI yang turut berlayar di kapal tersebut. Hingga Selasa (11/2), seluruh WNI dilaporkan sehat dan tidak ada yang terjangkit novel coronavirus.

Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tokyo juga bekerja sama dengan otoritas setempat untuk menjalin komunikasi dengan para WNI dan memantau kondisi mereka. Sambil menunggu kabar terbaru, para WNI di kapal pesiar Diamond Princess turut menjalani karantina hingga aman dari novel coronavirus.

Karantina seharusnya dilakukan hingga hari Rabu (19/2). Namun, kabar terbaru pada hari Selasa (18/2) menyebutkan bahwa tiga WNI yang menjadi kru kapal pesiar Diamond Princess positif terjangkit penyakit yang kini bernama COVID-19 ini.

Dua dari WNI tersebut telah dibawa ke rumah sakit di Kota Chiba, Jepang. Sementara itu, satu WNI lagi tengah dibawa ke rumah sakit lain yang belum diketahui.

Data penyebaran sejauh ini menunjukkan bahwa satu pasien COVID-19 dapat menginfeksi 3-4 orang yang sehat. Namun, kondisi kapal pesiar membuat virus ini dapat menyebar dengan lebih cepat.

Pada lingkungan tertutup seperti kapal pesiar, penyebaran virus bahkan bisa mencapai puluhan orang karena jarak penularan begitu dekat. Pasien yang menyebarkan virus disebut super-spreader, dan kondisi ini sudah pernah terjadi di salah satu rumah sakit di Wuhan.

Pasien tersebut diperkirakan telah menularkan novel coronavirus ke lebih dari 57 orang. Tanpa pencegahan, jumlah orang yang terjangkit virus mungkin dapat menjadi jauh lebih banyak. Upaya pencegahan seperti mencuci tangan dan membatasi kontak dekat dengan orang lain bisa mencegah hal serupa terjadi di kapal pesiar Diamond Princess.

Sementara bagi Anda yang kini berada di darat, langkah terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah menjaga kebersihan diri agar infeksi tidak menyebar semakin luas. Caranya, cuci tangan Anda secara rutin, gunakan alat pelindung berupa masker, dan hindari kontak dekat dengan orang yang menunjukkan gejala gangguan pernapasan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Waspadai Risiko Penularan COVID-19 di Kendaraan Umum

Bagi pengguna moda transportasi umum serta taksi dan ojek online, simak panduan berikut agar terhindar penularan COVID-19 di kendaraan umum.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang menguji obat herbal COVID-19 dari dua tanaman yakni daun ketepeng dan benalu. Sejauh mana perkembangannya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 18, 2020

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Anak dan remaja termasuk kelompok yang rentan stres saat masa pandemi COVID-19, karena itu orangtua perlu memahami penyebab dan cara mengatasi kondisi ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 17, 2020

Begini Prosedur Tes Swab COVID-19 yang Katanya Bikin Sakit dan Geli

Salah satu metode diagnosis virus corona yang efektif adalah tes swab RT-PCR. Namun, banyak orang yang merasakan sensasi sakit ketika melakukan tes swab.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 Mei 15, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020
Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020
Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 20, 2020
Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal tayang Mei 20, 2020