Menkes Mengganti Istilah PDP, ODP, dan OTG, Apa Artinya Bagi Penanganan COVID-19?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 22 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Di tengah tingginya pertambahan kasus COVID-19, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghapus istilah pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), dan orang tanpa gejala (OTG). Sebagai gantinya, pemerintah menetapkan beberapa istilah baru untuk digunakan dalam penanganan COVID-19.

Kemenkes mengganti sejumlah istilah dalam penanganan COVID-19

istilah baru penanganan covid-19 ptsd pandemi COVID-19, Risiko pelonggaran psbb

Senin (13/7), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengganti beberapa istilah terkait penanganan COVID-19 di Indonesia. Perubahan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). 

Dalam pedoman sebelumnya, pemerintah menggunakan istilah pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), dan orang tanpa gejala (OTG). Kepmenkes tersebut mengembalikan istilah PDP menjadi kasus suspek, ODP diganti dengan kontak erat, dan OTG diganti menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala.

Istilah PDP yang berubah menjadi kasus suspek juga memiliki kriteria baru, yakni setidaknya harus memiliki salah satu dari kriteria berikut.

  1. Memiliki ISPA dan dalam kurun waktu 14 hari sebelum bergejala pernah melakukan perjalanan ke daerah yang ada transmisi lokal.
  2. Orang dengan salah satu gejala atau tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau dengan kasus probable COVID-19.
  3. Orang dengan ISPA berat atau pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Untuk kasus konfirmasi adalah mereka yang telah terdiagnosa positif COVID-19 melalui pemeriksaan laboratorium RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua kategori yakni kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

516,753

Terkonfirmasi

433,649

Sembuh

16,352

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Istilah baru lainnya dalam penanganan COVID-19 ini adalah kasus probable. Maksudnya, kasus suspek yang memiliki gejala infeksi pernapasan akut (ISPA) berat atau ARDS (penumpukan cairan di paru) atau bahkan meninggal, tetapi tetapi hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar.

Pasien dengan kondisi tersebut bisa dikatakan sebagai kasus probable dengan syarat memiliki gambaran klinis yang menyakinkan sebagai tanda dan gejala COVID-19. Sebelumnya pasien dengan kondisi ini masuk dalam kriteria PDP dan jika meninggal tidak masuk dalam laporan.

Keputusan baru ini juga menambahkan istilah kasus discarded, yakni sebutan sembuh pada pasien suspek. Kriterianya apabila seseorang dengan status kasus suspek setelah hasil pemeriksaan RT-PCR dua kali negatif selama berturut-turut dengan selang waktu 24 jam.

Seberapa pentingnya istilah dalam penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia?

istilah baru dalam penanganan pasien covid-19 rejimen obat vaksin covid-19 indonesia

“Tentunya ini akan memiliki pengaruh terhadap sistem pelaporan kasus ke depan,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, konferensi pers yang disiarkan langsung kanal YouTube BNPB, Selasa (14/7).

Pergantian istilah ini berpotensi memperbaiki data statistik dalam penanganan COVID-19. Pertama, pada kasus kematian PDP, sebelumnya kasus kematian pada pasien dengan status PDP tidak dilaporkan. Dengan ketetapan baru ini kasus kematian pada pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 akan tetap tercatat ke dalam kategori kasus probable.

Kedua, kategori kasus suspek bisa mempermudah pencatatan kasus dalam data statistik. Namun dengan dijadikan satu kategori ini, tantangannya adalah pemerintah harus menyiapkan testing yang lebih masif. 

Hal tersebut dikarenakan dalam Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 revisi-4, kategori ODP dan PDP ini juga berguna untuk membedakan tingkat keparahan pasien.

Pelacakan Kontak Dapat Menekan Angka Penyebaran Kasus COVID-19

Pasien ODP atau PDP yang memiliki gejala ringan, cukup melakukan dua kali rapid test dengan jarak 10 hari. Jika kedua hasilnya non-reaktif maka pasien akan dinyatakan negatif tanpa harus melakukan swab tenggorokan RT-PCR.

Sedangkan dalam pedoman baru revisi-5 rapid test tidak menjadi pilihan dalam diagnosa. Orang yang masuk dalam kategori suspek harus melakukan tes PCR.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Munculnya klaster keluarga transmisi Covid-19 dapat ditekan dengan menegakan protokol kesehatan serta menerapkan kebiasaan hidup sehat dan bersih di rumah.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Coronavirus, COVID-19 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Bencana banjir selalu membawa ancaman penularan penyakit, pada masa pandemi ini risiko tersebut meningkat karena pandemi COVID-19 yang tidak terkendali.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

IDI mengatakan Indonesia bisa menjadi episentrum COVID-19 dunia karena penularannya yang tidak terkendali. Apa yang harus dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Hembusan Napas

Mengenal GeNose, Alat Deteksi COVID-19 dari Embusan Napas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 7 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Risiko Gejala Berat COVID-19 pada Ibu Hamil

Risiko Gejala Berat COVID-19 pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Apa yang terjadi jika rumah sakit icu penuh covid-19

Jika Rumah Sakit dan ICU Penuh, Apa yang Terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit