Imunisasi di Tengah Pandemi COVID-19 Tetap Penting, tapi Amankah?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Di tengah pandemi corona (COVID-19) banyak orangtua khawatir untuk melanjutkan rencana imunisasi anak. Pasalnya, mendatangi tempat-tempat umum yang padat, termasuk fasilitas kesehatan, dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19 pada anak-anak dan bayi. Namun, di saat pandemi corona, imunisasi justru memegang peranan penting dalam pengendalian kasus penyakit menular sehingga dapat mencegah munculnya wabah penyakit lain yang tidak kalah berbahaya.

Pentingnya imunisasi saat pandemi corona

Bayi perempuan disuntik vaksin

Pada pertengahan April 2020, pandemi COVID-19 sudah mencapai lebih dari 200 negara, di Indonesia sendiri telah mencakup lebih dari 30 provinsi. 

Meski jumlah penderita dan tingkat kematian pada kelompok anak masih lebih rendah dibandingkan orang lanjut usia, anak-anak tetap rentan tertular penyakit pernapasan ini. 

Namun, bukan berarti orang tua tak meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan anak. Dalam situasi pandemi seperti ini, anak-anak tetap diharuskan untuk melanjutkan imunisasi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong orang tua untuk tetap menjalankan imunisasi pada anak sesuai dengan usia dan jadwal yang ditentukan sebelumnya.

Imunisasi saat pandemi corona dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap terlindungi dari bahaya kesehatan penyakit menular yang bisa dicegah dengan vaksin, seperti hepatitis B, polio, dan difteri.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,940

Terkonfirmasi

7,637

Sembuh

1,641

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Apabila sebagian besar anak di Indonesia menunda imunisasi, situasi ini bisa mengarah pada terjadinya wabah penyakit menular

Belum lagi, rendahnya cakupan imunisasi pada tahun 2019 di Indonesia hanya berkisar 60-70 persen turut meningkatkan potensi munculnya wabah penyakit berbahaya lain yang berlangsung setelah atau bahkan bersamaan dengan pandemi COVID-19.

Imunisasi saat pandemi tidak menimbulkan risiko kesehatan yang disebabkan oleh efek infeksi coronavirus. Apabila dilakukan dalam prosedur medis yang tepat, imunisasi juga aman untuk dilakukan. 

Siapa yang perlu menjalankan imunisasi saat pandemi?

Imunisasi bayi saat pandemi corona

Dari rekomendasi IDAI, anak-anak yang berusia 0-18 bulan diprioritaskan untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap di saat pandemi corona.

Pada awal masa kelahiran, bayi perlu sesegera mungkin memperoleh perlindungan untuk membangun kekebalan tubuh dari serangan penyakit berbahaya. 

Imunisasi di saat pandemi corona tetap perlu dilakukan mengikuti jadwal rekomendasi yang ditentukan oleh IDAI. Jadwal imunisasi dasar lengkap diatur berdasarkan perkembangan usia anak, yang meliputi:

  •  Segera setelah lahir : Hepatitis B0 + OPV 0
  •  Usia 1 bulan : BCG
  •  Usia 2 bulan : Pentavalent 1 + OPV 1
  •  Usia 3 bulan : Pentavalent  2 + OPV 2
  •  Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + OPV 3 + IPV
  •  Usia 9 bulan : MR1
  •  Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + OPV 4 + MR2

Imunisasi Pentavalent + OPV  dapat digantikan dengan Hexavalent (Pentavalent+IPV). Selanjutnya, imunisasi dasar lengkap yang dijalani saat pandemi perlu diikuti dengan imunisasi tambahan yang mengikuti jadwal sebagai berikut:

  • Usia 2 bulan : PCV 1
  • Usia 4 bulan : PCV 2
  • Usia 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
  • Usia 7 bulan : Influenza 2
  • Usia 12-15 bulan : PCV4

Kapan sebaiknya anak menunda imunisasi?

Anak sakit demam

Penundaan imunisasi anak di saat pandemi corona sebenarnya memang tidak dianjurkan. Namun jika Anda ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu dengan dokter dan petugas kesehatan. Batas waktu penundaan imunisasi yang masih ditoleransi oleh IDAI adalah 2 minggu. 

Sementara jika Anda tinggal atau berada dalam wilayah penyebaran COVID-19 yang luas, imunisasi saat pandemi bisa ditunda hingga 1 bulan. 

Namun, Anda diharapkan untuk segera membawa anak untuk melakukan imunisasi saat kondisi telah memungkinkan.

Akan tetapi, penundaan atau pelarangan imunisasi saat pandemi corona diberlakukan untuk kelompok anak dalam kondisi kesehatan tertentu. 

Jika anak memiliki riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dan dalam kondisi sakit, maka anak termasuk pasien dalam pengawasan (PDP).

5 Langkah Cerdas Menjelaskan COVID-19 dan Penyakit Pandemi pada Anak

Anak yang berstatus PDP harus menjalani karantina atau isolasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan Kementrian Kesehatan dan otomatis menunda waktu imunisasi.

Apabila anak menunjukkan gejala lemas, napas cepat, sesak, dan demam tinggi (38 derajat Celsius atau lebih) yang berlangsung sampai 3 hari, segera bawa anak ke rumah sakit terdekat. Terlebih jika ia mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah seperti mengalami kejang dan muntah-muntah.

Sebaliknya, apabila anak pernah berkontak dengan orang yang terinfeksi dan masih dalam keadaan sehat, ia perlu melakukan karantina secara mandiri dan imunisasi saat pandemi corona ditunda sampai 14 hari.

Aturan pelaksanaan imunisasi yang aman saat pandemi corona

Penerapan social distancing di rumah sakin

Untuk memperkecil risiko penularan virus pada anak, pelaksanaan imunisasi di saat pandemi corona perlu dilakukan mengikuti tata cara tertentu. 

Imunisasi tetap bisa dilakukan di setiap pusat layanan fasilitas kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, dan klinik. Namun, hendaknya Anda membuat janji kunjungan terlebih dahulu untuk menghindari kepadatan pengunjung pusat kesehatan atau antrian peserta imunisasi lainnya. 

Pastikan juga Anda memilih pusat kesehatan yang telah menerapkan pemisahan area dan waktu kunjungan peserta yang sakit. 

Pusat kesehatan seharusnya memiliki fasilitas ruang tunggu yang berbeda untuk peserta yang sehat dengan peserta yang sakit. Kursi di ruang tunggu juga diatur sehingga jarak antar pengunjung terpisah hingga 1-2 meter.

Petugas kesehatan juga harus mengonfirmasi terlebih dulu apakah peserta imunisasi pernah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi COVID-19 atau pun keluarga dan orang terdekat penderita. 

Langkah pencegahan yang perlu dilakukan orang tua

Ibu memakaikan masker agar imunisasi saat pandemi corona aman

Orang yang terinfeksi COVID-19 bisa tidak terlihat sakit atau tidak menampakkan gangguan kesehatan sama sekali. 

Oleh karena itu, sebaiknya Anda terus menerapkan berbagai upaya pencegahan terhadap penularan COVID-19. Apalagi ketika Anda membawa anak pergi ke pusat layanan kesehatan yang memungkinkan ia terkena berbagai virus penyebab penyakit. 

Pencegahan yang dilakukan saat pergi ke pusat layanan kesehatan mengutamakan kebersihan diri dan pembatasan jarak dan interaksi sosial

Pada saat melakukan imunisasi di tengah pandemi corona ini, Anda dan anak sebaiknya menerapkan beberapa langkah pencegahan berikut:

  • Memakai masker untuk menghindari percikan droplet yang mengandung virus.
  • Tidak berdiri atau duduk berdekatan dengan pengunjung lain.
  • Tidak membiarkan anak bermain sendirian di area fasilitas kesehatan.
  • Memastikan anak selalu dalam pengawasan.
  • Menutup mulut dan hidung saat bersin dan batuk.
  • Membiasakan cuci tangan menggunakan sabun atau cairan pembersih dengan alkohol minimal 60 persen.

Dengan menerapkan berbagai upaya tersebut, tak perlu khawatir berlebihan karena imunisasi saat pandemi corona tetap aman untuk dilakukan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, Sp.A (K) atau akrab disapa dr. Dafi merupakan seorang pediatris yang lahir di Cilacap. Ia memfokuskan dirinya untuk ...

Artikel dari ahli dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, Sp.A(K)

Imunisasi di Tengah Pandemi COVID-19 Tetap Penting, tapi Amankah?

Imunisasi tetap perlu dilakukan saat pandemi corona guna mencegah munculnya wabah penyakit menular lainnya. Lalu, seperti apa cara aman melakukan imunisasi?

Ditulis oleh: Fidhia Kemala
anak tidak diimunisasi
Coronavirus, COVID-19 16/04/2020

Tak Perlu Panik Saat Balita Jatuh, Orang Tua Bisa Lakukan Pertolongan Pertama Ini

Balita yang aktif bergerak memang lebih rentan untuk jatuh. Orang tua bisa langsung melakukan langkah-langkah pertolongan pertama ini saat balita jatuh.

Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dokter memberikan pertolongan pertama pada balita jatuh
READ MORE FROM dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, Sp.A(K)

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Memahami Cara Kerja dan Kegunaan Vaksin Cacar Air

Hati-hati. Cacar air paling mudah menular pada anak kecil dan orang dewasa yang tidak pernah mendapatkan vaksin lewat program imunisasi.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
dr. Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, Sp.A (K) atau akrab disapa dr. Dafi merupakan seorang pediatris yang lahir di Cilacap. Ia memfokuskan dirinya untuk ...

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020