Ibuprofen Bisa Perburuk Efek COVID-19, WHO Tak Sarankan Penggunaannya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

WHO mengumumkan untuk menghindari penggunaan Ibuprofen untuk penanganan gejala pada pasien COVID-19. Hal ini dilakukan setelah Prancis memberikan memperingatkan bahwa obat antiinflamasi atau antiperadangan bisa memperburuk efek virus SARS-CoV-2.

Terkait imbauan ini, juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan bahwa para pakar kesehatan PBB sedang menyelidiki hal ini untuk kemudian membentuk panduan lebih lanjut.

“Sementara (penyelidikan berjalan), kami merekomendasikan penggunaan parasetamol, dan jangan menggunakan ibuprofen sebagai pilihan pengobatan mandiri. Itu penting,” katanya.

Parasetamol dan ibuprofen dapat menurunkan suhu demam dan membantu penanganan gejala seperti flu. Tetapi kenapa ibuprofen dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya (NSAID) tidak cocok untuk penanganan gejala pada pasien positif COVID-19?

Peringatan WHO ibuprofen bisa memperburuk efek COVID-19

Ibuprofen Efek COVID-19

Sebelum peringatan WHO, Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran baru-baru ini memerintahkan tenaga kesehatannya untuk menghindari penggunaan ibuprofen untuk menangani pasien COVID-19. 

Veran memperingatkan penggunaan ibuprofen dan obat antiinflamasi serupa bisa menjadi faktor yang memberatkan pada pasien yang terinfeksi COVID-19. Obat antiinflamasi adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengurangi peradangan, sehingga meredakan nyeri dan menurunkan demam.

Menurutnya Veran, obat antiinflamasi seperti ibuprofen dapat memperburuk gejala penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Untuk penurun demam dan penghilang sakit ia lebih menyarankan penggunaan parasetamol.

“Dalam kasus demam, minumlah parasetamol,” kata Veran dalam cuitan di akun twitternya. Veran menekankan bahwa pasien yang sudah dirawat dengan obat antiinflamasi harus meminta nasihat dari dokter.

Peringatan Veran ini mengikuti sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet . Jurnal tersebut berhipotesis bahwa suatu enzim yang dikuatkan oleh obat antiinflamsi seperti ibuprofen dapat memperburuk efek dan infeksi yang disebabkan COVID-19. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Website The National Health Service (NHS) Inggris yang sebelumnya merekomendasikan penggunaan parasetamol dan ibuprofen juga mengubah anjurannya. 

“Saat ini tidak ada bukti kuat bahwa ibuprofen dapat memperburuk coronavirus (COVID-19),  sampai kami memiliki informasi lebih lanjut, lebih baik gunakan parasetamol untuk mengobati gejala-gejala coronavirus, kecuali jika dokter memberi tahu parasetamol tidak cocok untuk Anda,” tulisnya.

Pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi lebih dari 210 ribu orang di seluruh dunia hanya menyebabkan gejala ringan pada kebanyakan orang. Dalam beberapa kasus dapat menyebabkan pneumonia atau penyakit parah yang menyebabkan kegagalan pada beberapa organ.

Efek ibuprofen yang dapat perburuk kondisi pasien COVID-19

Dapatkah Pasien Menularkan COVID-19 Setelah Sembuh

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apakah ibuprofen memiliki efek khusus pada tingkat keparahan gejala pasien COVID-19. Baik itu pada pasien yang sehat atau pada pasien yang memiliki penyakit penyerta

Meski begitu Dr Charlotte Warren-Gash dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan sebelum ada kejelasan, lebih baik menghindari penggunaan ibuprofen. 

Menurutnya alasan untuk menghindari penggunaan Ibuprofen tampak masuk akal, terutama untuk pasien yang rentan. Karena ada beberapa bukti beberapa penyakit infeksi pernafasan yang semakin parah setelah mengonsumsi ibuprofen –walaupun belum benar-benar terbukti ibuprofen satu-satunya penyebab.

Beberapa ahli juga percaya bahwa sifat antiinflamasi ibuprofen dapat melemahkan respons kekebalan tubuh.

“Ada banyak penelitian yang mengatakan penggunaan ibuprofen selama infeksi pernapasan dapat mengakibatkan memburuknya penyakit atau komplikasi lainnya,” kata profesor Parastou Donyai dari University of Reading.

“Tapi, saya belum melihat bukti ilmiah yang jelas menunjukkan bahwa ibuprofen memberikan efek tambahan dan risiko komplikasi pada pasien COVID-19 yang tanpa penyakit penyerta,” tuturnya.

COVID-19

Fungsi ibuprofen

efek samping ibuprofen

Ibuprofen adalah obat penghilang rasa sakit untuk berbagai sakit dan nyeri, termasuk sakit punggung, sakit kepala, nyeri haid, sakit gigi. Ini juga mengobati peradangan seperti keseleo dan rasa sakit akibat radang sendi.

Ia termasuk obat tanpa resep dokter yang paling banyak digunakan sama seperti parasetamol dan aspirin. 

Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, dan ada juga dalam bentuk gel dan semprot untuk penggunaan luar. 

Anda dapat membeli sebagian besar jenis ibuprofen dari apotek dan supermarket tanpa resep dokter, dan ada beberapa jenis yang memerlukan resep dokter. Walau bisa dibeli tanpa resep dokter, untuk mengkonsumsi ibuprofen anda perlu memperhatikan beberapa efek sampingnya.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020