Sindrom Peradangan Multisistem, Gejala COVID-19 Berbahaya pada Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan peringatan tentang munculnya kondisi langka terkait gejala COVID-19 pada anak.

Risiko gejala berat saat terinfeksi virus SARS-CoV-2 disebut bisa terjadi pada orang dengan penyakit penyerta dan usia lanjut. Tapi anak tanpa penyakit penyerta ternyata juga bisa mengalami gejala COVID-19 yang berbahaya, salah satunya karena sindrom peradangan multisistem atau disebut dengan Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C). 

Bagaimana sindrom peradangan multisistem menyerang anak yang terinfeksi COVID-19?

Sindrom peradangan multisistem pada anak terkait gejala dan komplikasi COVID-19

penyakit kawasaki covid-19 anak

Sindrom peradangan multisistem pada anak ini adalah penyakit serius yang baru dikenali dan diduga berkaitan erat dengan infeksi virus SARS-CoV-2. Sindrom ini tampaknya merupakan komplikasi tertunda dari infeksi COVID-19, tapi belum semua anak dengan gejala MIS-C dinyatakan positif COVID-19. 

Kamis (3/9) CDC menyebut telah menerima laporan 729 kasus terkait kondisi langka sindrom peradangan multisistem tersebut. Mayoritas kasus langka ini terjadi pada anak yang telah terkonfirmasi positif COVID-19, yakni sebanyak 783 atau 99 persen dari total kasus. Sisanya terjadi pada anak yang pernah berkontak erat dengan pasien positif COVID-19.

“MIS-C ini adalah sindrom baru,” tulis CDC dalam laporan tertulisnya. 

“Masih banyak yang perlu diketahui kenapa sebagian besar anak-anak mengalami gejala ini setelah mereka terkonfirmasi positif COVID-19 atau pernah berkontak erat dengan pasien COVID-19, tapi ada yang tidak (tidak berhubungan dengan COVID-19),” lanjutnya. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

282,724

Terkonfirmasi

210,437

Sembuh

10,601

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Tanda dan gejala

sindrom peradangan multisistem pada anak terkait infeksi covid-19 virus corona

Sindrom peradangan multisistem ini menyebabkan peradangan pada jantung, paru, ginjal, otak, kulit, mata, atau organ pencernaan. 

Beberapa gejala lainnya mirip seperti penyakit sindrom kawasaki, yakni:

  • Ruam di banyak bagian tubuhnya
  • Mata merah, tangan dan kaki bengkak 
  • Bibir pecah-pecah
  • Lidah bengkak yang terlihat seperti stroberi
  • Sakit leher karena kelenjar getah bening di leher yang membesar

Karena menyerang sistem pencernaan, sindrom peradangan multisistem ini juga biasanya memperlihatkan gejala diare, muntah, perut bengkak, atau sakit perut.

Persatuan dokter anak Amerika Serikat mengatakan,karena informasi mengenai penyakit ini masih sangat baru, belum semua gejala terkait sindrom ini diketahui dan tercatat.  Kondisi gejalanya bisa saja berbeda antara satu anak dan anak lainnya. 

Hal utama yang harus diperhatikan Anak dengan sindrom peradangan multisistem ini mengalami demam minimal 37,8 derajat celsius selama minimal 24 jam dan terbukti mengalami peradangan pada setidaknya dua organ tubuh. 

Gejala gangguan pernapasan yang umumnya terjadi pada pasien infeksi COVID-19 mungkin bisa muncul atau mungkin juga tidak muncul dalam sindrom peradangan multisistem pada anak.

Penyebab

gejala covid-19, kesehatan jantung dan paru

Penyebab MIS-C belum sepenuhnya dipahami dan sampai saat ini sedang diteliti secara aktif oleh beberapa rumah sakit dan lembaga di Amerika Serikat dan di negara lain.

Beberapa peneliti di Rumah Sakit Anak Boston menduga bahwa MIS-C disebabkan oleh respons kekebalan tubuh yang tertunda pada virus SARS-CoV-2. Entah bagaimana respon kekebalan timbul berlebihan dan  menyebabkan peradangan yang merusak organ. 

Ada juga kemungkinan reaksi kekebalan yang dibuat anak-anak terhadap virus yang berhubungan dengan faktor genetik.

Meski MIS-C ini menjadi gejala serius terkait COVID-19 pada anak, CDC mengatakan secara keseluruhan infeksi pada anak masih cenderung lebih ringan dibanding pada COVID-19 pada lansia.

Hanya sebagian kecil anak yang tampak mengalami tanda dan gejala MIS-C, dan sebagian besar sembuh dengan cepat.

Imunisasi di Tengah Pandemi COVID-19 Tetap Penting, tapi Amankah?

Bagaimana risiko COVID-19 pada anak yang sejauh ini telah diketahui?

anak demam dan ruam

Setelah seorang anak dinyatakan MIS-C, ia memerlukan pemantauan terus menerus terhadap tingkat peradangannya, pembekuan darah, fungsi hati, dan aspek lain penyakitnya. 

Anak juga harus dipasangkan ekokardiogram (pemeriksaan kondisi jantung) untuk mengevaluasi jantung dan pembuluh darah mereka.

Para dokter mengatakan kesehatan pasien yang terkena sindrom peradangan multisistem pada anak (MIS-C) ini harus terus dipantau hingga beberapa tahun ke depan, terutama kondisi kesehatan jantungnya. 

“Dengan gejala serupa penyakit kawasaki, sindrom ini dikhawatirkan membuat anak-anak berisiko mengalami masalah jantung koroner di kemudian hari yang dapat menyebabkan serangan jantung dini,” Dr. Michael Bell, kepala pengobatan dan perawatan kritis di Children’s National Hospital, United States.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit