Fungsi Paru Berkurang Setelah Pasien COVID-19 Sembuh, Benarkah?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Seorang dokter pejabat otoritas rumah sakit di Hongkong merilis penelitian terbaru tentang Coronavirus (COVID-19). Ia melakukan penelitian yang fokus pada fungsi paru-paru pasien COVID-19 yang sudah sembuh dan melihat adanya perubahan pada kondisi mereka.

Studi tersebut mengatakan pasien yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 memiliki fungsi paru yang tidak semaksimal sebelumnya.

Fungsi paru-paru setelah pasien COVID-19 sembuh

mengatasi kram perut saat lari

Tim dokter penanganan COVID-19 di Hongkong melakukan pengamatan pada selusin pasien Coronavirus yang telah sembuh. Mereka meneliti kondisinya dan menemukan adanya penurunan fungsi paru-paru beberapa pasien COVID-19.

Untuk diketahui, sampel 12 pasien ini adalah kloter pertama pasien positif COVID-19 di Hongkong yang dinyatakan sembuh. Pasien-pasien ini sembuh setelah diobati dengan obat Kaletra (yakni obat HIV/AIDS), obat Ribavirin (yakni obat hepatitis C), Interferon.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,473

Terkonfirmasi

7,308

Sembuh

1,613

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Pasien-pasien diminta untuk menjalani beberapa aktivitas untuk mengukur kemampuan paru mereka. Setidaknya tiga pasien tidak dapat melakukan hal-hal yang dapat mereka lakukan sebelum tertular virus SARS-CoV-2. Mereka merasa terengah-engah ketika diminta untuk berjalan sedikit lebih cepat, walau hanya beberapa menit.

Selain itu, hasil scan paru-paru pada 9 pasien ditemukan pola yang mirip, yakni terlihat seperti kaca buram yang menunjukkan mereka menderita kerusakan organ. Kondisi paru-paru seperti itu mirip dengan yang ditemukan pada pasien penderita SARS dan MERS.

Dr. Owen Tsang Tak-yin direktur medis Infectious Disease Center di Princess Margaret Hospital, Hongkong menjelaskan fakta temuannya. Ia mengungkapkan adanya penurunan fungsi paru-paru pada beberapa pasien Coronavirus yang telah sembuh ini.

Dikutip dari South China Morning Post, Tsang mengatakan bahwa beberapa pasien mungkin mengalami pelemahan atau penurunan fungsi paru-paru hingga 30% setelah sembuh dari COVID-19.

Ia menyarankan para pasien COVID-19 menjalani fisioterapi untuk memulihkan kembali dan memperkuat fungsi paru-paru mereka. Fisioterapi tersebut dengan latihan kardiovaskular seperti berenang dan latihan lainnya.

Tsang menambahkan hasil pengamatan ini masih membutuhkan penelitian lanjutan. Yakni pasien masih perlu menjalani tes lebih lanjut untuk menilai berapa banyak fungsi paru-paru yang yang mereka pertahankan.

Ia juga belum bisa mengambil kesimpulan apakah kondisi pengurangan fungsi paru-paru pada pasien Coronavirus ini berpotensi pada masalah jangka panjang atau tidak, misalnya seperti fibrosis paru-paru. Fibrosis paru-paru adalah suatu kondisi di mana jaringan paru mengeras dan organ tidak dapat berfungsi dengan benar.

mencegah tertular coronavirus

Kondisi paru-paru pasien positif Coronavirus

paru pasien coronaviru COVID-19

Tsang menjelaskan fungsi paru-paru pasien positif Coronavirus menunjukkan adanya cairan atau puing-puing bercak. Kondisi ini kemungkinan akan semakin buruk saat infeksi virusnya berkembang dan menyebabkan pneumonia. 

Sebelumnya, Jurnal Radiological Society of North America mengeluarkan penelitian yang menunjukkan perburukan kondisi paru-paru pasien yang terinfeksi COVID-19. 

Mengenal Badai Sitokin, Kondisi Fatal yang Mengintai Pasien COVID-19

Tim peneliti melakukan CT scan pada pasien positif COVID-19 yang memiliki gejala pneumonia, hasilnya terdapat bercak putih yang menunjukkan adanya penumpukan cairan pada rongga paru-paru. Bercak ini disebut ground glass opacity (GGO).

Sebuah penelitian lainnya di American Roentgen Ray Society mengatakan sekitar 86.1 persen paru-paru pasien positif COVID-19 memiliki GGO.

Per hari ini, Senin (16/3), wabah COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 169 ribu pasien dari 157 negara di seluruh dunia. Dengan rincian pasien sembuh lebih dari 77 ribu dan kematian setidaknya 6 ribu kasus. Di Indonesia, COVID-19 telah menginfeksi setidaknya 117 positif, dengan 5 kasus kematian dan 8 dinyatakan sembuh.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020